Pilihan

Saat kamu harus terus tersenyum di depan barisan insan
yang dalam hatimu hanya ingin diam dan diterka
Dirangkul dan didekap dalam perkataan tenang
Merasa tidak baik-baik saja yang hanya kamu bisa merasa
Kakimu hanya dua dan berpijak dengan pilihan
Walau terkadang kamu sadar tidak punya pilihan lagi
Kamu harus menjalani saja tanpa bisa mengendarainya
Harus terus bahagia paling tidak menghibur diri sendiri
Berkumpul dengan orang yang menyenangkan agar hilang nelangsa
Tahu betul tak semua peduli dengan hatimu yang dipaksa ceria
Tapi kamu ya kamu yang tak punya pilihan
Andai bisa kamu teriak mungkin mereka hanya ternganga
Tak tahu harus apa dan tak langsung memelukmu kuat
Ekspektasi demi ekspektasi memang harus dilepas
Tapi kamu insan biasa seperti sesama
Ingin berhenti sejenak tanpa berbicara
Naif naif naif
Kamu tahu tidak ada yang bisa menerka tanpa dijelaskan
Diceritakan saja belum tentu merangkul apalagi diam
Lagi lagi kamu tidak punya pilihan
Kamu hanya ingin memuntahkan dalam tulisan
Bukan sebagai harapan agar diperhatikan
Murni hanya suara sepi saat lelah dan terisi terlalu penuh
Sesekali ingin ditumpahkan dan kamu punya pilihan pada tulisan
Tulisanmu tidak pernah menghakimi apalagi membohongi
Tidak pernah berpura-pura peduli tapi hanya sedia menampung semua isi hati
Aku lelah aksara
Hanya ingin jujur dan bersandar pada untaian kata indah
Ingin didekap dalam kesenduan tulisan
Bersandar pada tangisan kalimat demi kalimat
Tertidur di tumpukan baris dan lepas dalam satu halaman keindahan
Lepas dan lelah kini menjadi pilihan
Kupilih lepas setelah kata terakhir ini kamu tulis
Hah...