);

Sederhananya, bertemu dan berpisah hanya sebuah siklus tentang datang dan pergi yang tidak bisa diputus di tengah. Seperti halnya air yang menguap lalu turun menjadi hujan, cerita tentang ada dan tidak ada juga akan seperti itu. Berulang, terulang, lalu kembali ke titik awal. Karina yang sedang dipenuhi banyak pertanyaan juga sama, sedang berada di titik nol untuk memulai lagi lingkaran hidupnya.

Karina masih duduk di besi panjang yang dipakai para nelayan untuk mengikat kapal. Sebuah buku kecil berwarna coklat tua tergeletak di sebelahnya. Di dalam buku yang sedikit lusuh itu, Karina selalu menuliskan khayalan-khayalannya lewat rangkaian syair dan notasi dari nada yang terngiang-ngiang di kepalanya. Sesekali Karina memandang ke arah laut yang menunggu senja di ujung muaro[1]. Sesekali juga, Karina menatap kakinya yang terbungkus sepatu kusam.

Jauh sebelum sore itu, ketika gerimis sering turun dan berhenti tiba-tiba, Karina juga berada di tempat yang sama. Yang berbeda adalah ruang di sebelahnya. Waktu itu di sebelah Karina, Darma ikut duduk memperhatikan kapal pesiar yang hanya sesekali berhenti di dermaga ini.

“Coba kita juga bisa naik kapal semewah ini,” kata Darma sambil tetap memperhatikan sudut demi sudut kapal berwarna coklat mengkilap itu.

“Bisa,” kata Karina langsung berdiri dan berjalan ke arah ujung dermaga diikuti Darma yang ragu-ragu.

Karina melangkahkan kaki kanannya berani pada bibir kapal yang berjarak setengah meter dari ujung dermaga. Setelah kedua kakinya menapak di atas kapal, Karina menoleh ke belakang dan memandang Darma dengan mata yang ceria.

“Ayo Dar. Kau bilang ingin naik kapal mewah.” Karina mengulurkan tangannya meraih Darma.

“Nanti ada yang marah.” Darma menyambut uluran tangan Karina sambil melangkah ragu-ragu.

“Ïni kapalku. Ini dermagaku. Laut itu lautku. Ayo.” Karina menjawab penuh semangat.

Sedikit senyum tersimpul di bibir Darma yang kehitaman. Senja mulai memeluk muaro di bawah gunung Padang dan jembatan Siti Nurbaya. Hanya susunan awan-awan merah yang tersenyum melihat kenakalan Karina dan Darma berlarian di dek kapal. Pantulan cahaya di ujung laut ikut menggambarkan cita-cita apa yang disimpan Karina dalam kepalanya hingga berani menaiki kapal milik wisatawan dan mengklaim hak milik laut sebagai kepunyaannya.

“Jika aku bisa berlayar jauh, aku ingin hidup sementara di tanah orang yang warna rambutnya tidak sama denganku. Di sana aku ingin belajar cara menghidupkan lagi nyawa randai[2].” Celoteh Karina dengan mata memandang langit yang mulai menghitam. Kakinya dibiarkan terjuntai di anjungan kapal.

“Jika aku bisa berlayar jauh, aku ingin hidup sementara di tanah orang yang warna rambutnya tidak sama dengan kita dan di sana aku ingin belajar cara menjadi orang hebat” sahut Darma tegas.

Karina menoleh pada Darma. Dipandangnya teman sedari kecil itu lekat. “Kita akan menjadi orang hebat kan?” tanyanya sambil memperhatikan pantulan lampu kapal dalam mata Darma. Darma mengangguk mantap.

“Kalau begitu, kita berjanji. Sepuluh tahun lagi, kau dan aku akan menunggu senja lagi di sini sambil bertukar cerita hebat tentang sepuluh tahun yang terlewatkan itu.”

Darma tertegun mendengar ucapan Karina. Sepuluh tahun. Pikirnya. Akan terasa sangat lama jika itu berjauhan dari Karina yang selalu didengarnya setiap hari. Akan terasa sangat membosankan jika itu tidak melihat mata riang Karina berbinar-binar ketika sedang bercerita tentang ide-ide tidak masuk akalnya. Akan terasa sangat sepi jika telinganya tidak menyimak cerita-cerita Karina tentang Anggun nan Tonggak, Sabai nan Aluih, ataupun tentang Rambun Pamenan.

“Apa rencanamu untuk sepuluh tahun itu?”tanya Darma akhirnya.

“Aku akan bermain Randai.”jawab Karina mantap.

***

[1] Sungai yang berdekatan dengan laut [2] Kesenian tradisional Minangkabau yang dimainkan oleh kelompok untuk menyampaikan sebuah pesan dalam cerita dengan menggabungkan seni lagu, music, tari, drama dan silat menjadi sat