Tidak Populer, Tidak Dibaca
Saya suka membaca. Tiga kata ini bisa saja saya kembangkan menjadi lembaran narasi tentang betapa kuatnya rangkaian ide, rasa, dan opini yang dituang dalam susunan cemerlang bisa membuat saya melewati berjam-jam tanpa sadar siang berubah sore dengan cepat.
Dulu sewaktu saya baru saja pandai membaca, saya menghabiskan banyak waktu dalam sepagi ikut membaca koran harian daerah yang dibaca papa. Melihat anak-anaknya gemar membaca, papa mulai rajin membawa majalah BOBO bekas setiap pulang dinas. Mama pun ikut-ikutan rajin menghadiahi komik Donal Bebek bekas yang dibelinya di pedagang kaki lima di pasar Lereng Bukittinggi.
Semakin saya tumbuh, semakin bacaan saya naik kelas. Abang saya mulai rajin membeli buku-buku kumpulan cerpen, buku-buku karya Gola Gong, Asma Nadia, dan majalah-majalah mulai dari Trubus, majalah Saji, dan Annida.
Saya begitu senang menghabiskan waktu untuk membaca. Termasuk komik. Terkadang ketika saya sedang kehabisan bacaan, saya suka curi-curi membaca cerpen yang ada di majalah Kartini milik mama. Bahkan saya senang membaca lirik-lirik yang ada di sampul kaset lagu nostalgia yang sering diputar mama sambil menunggui warung kecil kami.
Saya beruntung karena tumbuh di keluarga yang senang membaca. Lebih beruntung lagi karena dari kecintaan membaca saya sejak kecil itu, saya ikut jatuh cinta dengan menulis.
Saya pikir, jika saya bisa berada dimana-mana dan mengetahui banyak hal dengan membaca, alangkah lebih ajaib lagi jika tulisan saya bisa membuat orang merasakan hal yang sama.
Kemudian saya mulai berani untuk menulis dan mengizinkan orang lain membaca tulisan saya setelah bertahun-tahun melewati masa remaja. Meskipun semasa sekolah saya sering mengikuti lomba menulis cerpen, tetap saja, memiliki keberanian dan kemampuan yang cukup untuk membuat tulisan saya dibaca oleh banyak orang bukanlah perkara mudah.
Suatu hari kumpulan syair yang saya susun dan rangkai menjadi sebuah karya fiksi berhasil menarik perhatian salah satu penerbit besar di Indonesia. Lahirlah novel pertama yang sangat membuat saya bangga.
Maka ketika saya kurang mendapatkan support yang cukup dari penerbit sementara ada banyak karya lain yang dipromosikan tanpa henti oleh mereka, tentu saya berkecil hati dan bertanya-tanya jika karya saya tidak seindah yang saya bayangkan. Terkadang, saya berpikir bahwa nama yang tidak dikenal dan figur yang tidak populer ini membuat karya saya tidak terlalu dipandang dan memiliki tempat di tengah ribuan penikmat bacaan di luar sana.
Rasa sedih dan keraguan atas kemampuan diri sendiri itu membuat saya lama berhenti menulis hingga suatu hari saya teringat dengan proses jatuh cinta dan hubungan manis saya dengan kata-kata; saya menulis karena nyawa saya menyala ketika melakukannya, saya menulis bukan untuk mengejar perhatian jutaan mata.

Setelahnya, saya kembali merangkai kalimat-kalimat dan diksi-diksi indah untuk disimpan di blog pribadi. Tentu saya punya pembaca-pembaca setia yang selalu menunggu karya baru, pembaca-pembaca yang mengapresiasi dan ikut menyala dengan apa yang saya tulis.
Hanya saja kesedihan saya kembali mengapung ketika salah satu nama populer di Indonesia mengalami tragedi dan berpulang di hari yang sama, kemudian sekelompok orang mencuri panggung dengan merangkai kalimat tentang kematian. Kalimat tersebut kemudian menjadi status dan teks yang dipajang hampir oleh semua orang di akun media sosial mereka.
Yang saya sedihkan adalah, saya bukan orang terkenal yang kalau membual dalam bentuk teks kemudian dijadikan buku akan laris keras di pasaran.
Saya hanya anak desa yang suka membaca dan cinta menulis yang tahu persis dengan kemampuan dan nilai karyanya. Namun tidak mempunyai panggung di negara asalnya karena orang-orang disana terlalu sibuk mengomentari berita padahal baru baca judul saja.
Saya sedih karena orang-orang di negara saya berasal lebih suka cerita yang menjual ide-ide populer dan jenis kalimat yang mempromosikan suasana hati tertentu ketimbang susunan kata yang ditata dengan rasa penuh warna.
Saya sedih, karena disana semakin sedikit manusia yang mau membaca dan lebih memilih untuk mengikuti kutipan-kutipan singkat yang terasa dangkal untuk dijadikan konten media sosial mereka.
Saya sedih, karena saya menyadari betapa minat baca di tempat saya dilahirkan semakin merosot karena banyak hal yang mungkin tidak terlalu saya mengerti sementara tidak terlalu banyak hal yang bisa saya lakukan kecuali tetap menulis dan berharap semua karya saya bisa memberi manfaat bagi pemilik mata yang membacanya.
Padahal soal membaca ada sebuah pepatah klasik yang bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Maka dengan membaca, entah buku atau berita dan artikel serta jenis tulisan lainnya, cakrawala kita dalam berpikir menjadi jauh lebih luas.
Lebih ajaib lagi, jika kita mampu untuk tetap membuka diri pada hal baru, informasi baru dan tetap membaca buku tidak lagi hanya sekedar menjadi jendela dunia. Ada banyak pintu yang kemudian terbuka dengan membaca. Pintu-pintu yang akan membawa kita pada level baru petualangan hidup. Pintu-pintu yang mengantar kita pada hal-hal menarik yang belum pernah kita ketahui memiliki eksistensi di dunia ini.

