Who am I?

Who am I in this body

I rarely woke up to the sound of an alarm

To start a day is not my favorite part

The routines were unbearable some days

That to lift my arm for the brush

Felt like a heavy workout

Days and months drifting away

As if I’m ready for another countless day

Playing with chances until the time stops passing by 

Moments are piling up 

As stories stored to unedited manuscript 

Some Mondays I had self-loathe for dinner

The other crowded morning

I dwell to the unclaimed grief

 

Who am I in this uncertain time

An angry woman who’s confused over her hairline

A sad oldest daughter with crippled sentiment

That growing despair

Is starting to be 

The only flavor she is familiar with

 

But who am I without all this 

What sight do I have

If darker grey

Is the only color I’d use for my self-portrait

 

Who am I to have the say

Of what this void could explain

Because me and the memories I have

Is longer than the song 

I chose for this sound

 

 

Tidak Populer, Tidak Dibaca

Saya suka membaca. Tiga kata ini bisa saja saya kembangkan menjadi lembaran narasi tentang betapa kuatnya rangkaian ide, rasa, dan opini yang dituang dalam susunan cemerlang bisa membuat saya melewati berjam-jam tanpa sadar siang berubah sore dengan cepat. 

Dulu sewaktu saya baru saja pandai membaca, saya menghabiskan banyak waktu dalam sepagi ikut membaca koran harian daerah yang dibaca papa. Melihat anak-anaknya gemar membaca, papa mulai rajin membawa majalah BOBO bekas setiap pulang dinas. Mama pun ikut-ikutan rajin menghadiahi komik Donal Bebek bekas yang dibelinya di pedagang kaki lima di pasar Lereng Bukittinggi. 

Semakin saya tumbuh, semakin bacaan saya naik kelas. Abang saya mulai rajin membeli buku-buku kumpulan cerpen, buku-buku karya Gola Gong, Asma Nadia, dan majalah-majalah mulai dari Trubus, majalah Saji, dan Annida. 

Saya begitu senang menghabiskan waktu untuk membaca. Termasuk komik. Terkadang ketika saya sedang kehabisan bacaan, saya suka curi-curi membaca cerpen yang ada di majalah Kartini milik mama. Bahkan saya senang membaca lirik-lirik yang ada di sampul kaset lagu nostalgia yang sering diputar mama sambil menunggui warung kecil kami. 

Saya beruntung karena tumbuh di keluarga yang senang membaca. Lebih beruntung lagi karena dari kecintaan membaca saya sejak kecil itu, saya ikut jatuh cinta dengan menulis.

Saya pikir, jika saya bisa berada dimana-mana dan mengetahui banyak hal dengan membaca, alangkah lebih ajaib lagi jika tulisan saya bisa membuat orang merasakan hal yang sama.

Kemudian saya mulai berani untuk menulis dan mengizinkan orang lain membaca tulisan saya setelah bertahun-tahun melewati masa remaja. Meskipun semasa sekolah saya sering mengikuti lomba menulis cerpen, tetap saja, memiliki keberanian dan kemampuan yang cukup untuk membuat tulisan saya dibaca oleh banyak orang bukanlah perkara mudah.

Suatu hari kumpulan syair yang saya susun dan rangkai menjadi sebuah karya fiksi berhasil menarik perhatian salah satu penerbit besar di Indonesia. Lahirlah novel pertama yang sangat membuat saya bangga.

Maka ketika saya kurang mendapatkan support yang cukup dari penerbit sementara ada banyak karya lain yang dipromosikan tanpa henti oleh mereka, tentu saya berkecil hati dan bertanya-tanya jika karya saya tidak seindah yang saya bayangkan. Terkadang, saya berpikir bahwa nama yang tidak dikenal dan figur yang tidak populer ini membuat karya saya tidak terlalu dipandang dan memiliki tempat di tengah ribuan penikmat bacaan di luar sana. 

Rasa sedih dan keraguan atas kemampuan diri sendiri itu membuat saya lama berhenti menulis hingga suatu hari saya teringat dengan proses jatuh cinta dan hubungan manis saya dengan kata-kata; saya menulis karena nyawa saya menyala ketika melakukannya, saya menulis bukan untuk mengejar perhatian jutaan mata.

 

Setelahnya, saya kembali merangkai kalimat-kalimat dan diksi-diksi indah untuk disimpan di blog pribadi. Tentu saya punya pembaca-pembaca setia yang selalu menunggu karya baru, pembaca-pembaca yang mengapresiasi dan ikut menyala dengan apa yang saya tulis.

Hanya saja kesedihan saya kembali mengapung ketika salah satu nama populer di Indonesia mengalami tragedi dan berpulang di hari yang sama, kemudian sekelompok orang mencuri panggung dengan merangkai kalimat tentang kematian. Kalimat tersebut kemudian menjadi status dan teks yang dipajang hampir oleh semua orang di akun media sosial mereka. 

Yang saya sedihkan adalah, saya bukan orang terkenal yang kalau membual dalam bentuk teks kemudian dijadikan buku akan laris keras di pasaran.

Saya hanya anak desa yang suka membaca dan cinta menulis yang tahu persis dengan kemampuan dan nilai karyanya. Namun tidak mempunyai panggung di negara asalnya karena orang-orang disana terlalu sibuk mengomentari berita padahal baru baca judul saja.

Saya sedih karena orang-orang di negara saya berasal lebih suka cerita yang menjual ide-ide populer dan jenis kalimat yang mempromosikan suasana hati tertentu ketimbang susunan kata yang ditata dengan rasa penuh warna. 

Saya sedih, karena disana semakin sedikit manusia yang mau membaca dan lebih memilih untuk mengikuti kutipan-kutipan singkat yang terasa dangkal untuk dijadikan konten media sosial mereka. 

Saya sedih, karena saya menyadari betapa minat baca di tempat saya dilahirkan semakin merosot karena banyak hal yang mungkin tidak terlalu saya mengerti sementara tidak terlalu banyak hal yang bisa saya lakukan kecuali tetap menulis dan berharap semua karya saya bisa memberi manfaat bagi pemilik mata yang membacanya.

Padahal soal membaca ada sebuah pepatah klasik yang bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Maka dengan membaca, entah buku atau berita dan artikel serta jenis tulisan lainnya, cakrawala kita dalam berpikir menjadi jauh lebih luas. 

Lebih ajaib lagi, jika kita mampu untuk tetap membuka diri pada hal baru, informasi baru dan tetap membaca buku tidak lagi hanya sekedar menjadi jendela dunia. Ada banyak pintu yang kemudian terbuka dengan membaca. Pintu-pintu yang akan membawa kita pada level baru petualangan hidup. Pintu-pintu yang mengantar kita pada hal-hal menarik yang belum pernah kita ketahui memiliki eksistensi di dunia ini.

Ori, Sel Timur Ujung | Part. 1

Rambutnya masih tetap terlihat patuh, berjuntai menutupi leher hingga bahu. Hari ini tanpa jepitan hitam seukuran lidi daun kelapa, tanpa karet gelang bekas bungkus sarapan pagi mewah para napi; nasi uduk porsi irit dengan potongan tahu goreng dan sambal teri. Lingkar matanya tidak sehitam berbulan-bulan yang lalu. Pipinya sekarang lebih merona meskipun sisa bekas jerawat masih menghiasi wajah oval itu.  Ori mulai terlihat jauh lebih ‘Ori’ semenjak toko pernak-pernik handmade nya dibuka. Meskipun sekali dua atau tiga malam tidak jarang Uri mendengar isak kakaknya itu pecah di dalam kamarnya yang menyudut. Isak pilu yang membuatnya ikut merasa biru. Isak sepotong jantung yang masih belum sanggup mendalami ilmu ikhlas tentang cinta yang berpulang tiba-tiba.

Ori baru saja menghirup udara bebas setahun yang lalu setelah nyaris lima tahun hidup ‘dikandangi’ dan tidak ada cerita yang bisa diceritakan dengan mudah semenjak pertama polisi menjemputnya di rumah Angku setelah membongkar jok mobilnya yang menyimpan bungkusan sabu. Meskipun siang mengejutkan itu dilewati dengan senyum dingin di sudut bibirnya, Uri tetap paham bahwa banyak goresan berat yang sedang ditanggung kakaknya.

“Aku tidak mau lagi kau pulang ke rumah ini!” teriak Angku ke wajah Ori waktu itu. Sekali lagi, hanya senyum kaku dengan lengkungan dingin yang muncul di wajahnya.

Setahun pertama Ori hanya mau bertemu dengan Uri jika ada yang berkunjung. Wajahnya banyak berubah. Lebih tirus, pucat, kantung mata membesar, lingkar hitam yang semakin kental, bibir kering yang tidak lagi pernah terlihat melengkung dan rambut yang selalu diikat dengan karet gelang berwarna merah bekas bungkus nasi uduk. Uri selalu menangis setiap kali melihat kuku cantik kakaknya yang terlihat kusam dan tidak terawat sejak menjadi tahanan.

“Aku baik saja,” kata Ori setiap kali Uri terisak melihat kondisinya.

Awal tahun kedua menjadi tahanan di lapas khusus perempuan, Ori mulai menyibukan diri dengan rutinitas harian. Jika tidak sedang berminat jogging keliling lapangan, Ori pasti terlihat duduk menyudut di lapangan voli dengan buku lusuh di tangannya. Buku yang dipinjami Faron, sipir muda yang tidak pernah bersikap kasar padanya sedari awal. Ketika hari sedang hujan, Ori akan lebih banyak menghabiskan waktu di dapur membantu tim konsumsi mengupas bawang. Hingga suatu hari, Dara ditransfer dari lapas pulau seberang untuk menghabiskan sisa masa hukumannya di tempat Ori dan tiga ratus perempuan lainnya mendekam.

Dara terlihat ramah dengan mata riangnya. Dara selalu tersenyum selepas jadwal senam bersama di pagi hari dan merajut sepanjang hari. Sekali waktu Dara dengan benang dan gulungan selimut yang belum jadi menghampiri Ori yang duduk dengan buku Maya Angelou di tangannya.

“Tahun ke berapa?” tanya Dara tanpa permisi.

“Kedua,” jawab Ori dingin dengan mata tidak lepas dari halaman ke seratus lima belas.

“Sabu?” tanya Dara lagi. Ori mengangguk.

“Aku tujuh tahun lagi.” Dara mulai menyambung benang dengan ujung benang lainnya kemudian mulai menyambung rajutan selimut dengan warna olive green-nya. “Married?” tanya Dara lagi. Ori menggeleng.

“Belum,” jawabnya masih dengan wajah cuek dan sangat merasa terganggu dengan kehadiran Dara yang banyak tanya. Belum dan bukan urusanmu, sengit Ori membatin.  

“Namaku Dara,” ucap Dara tanpa merasa perlu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Ori,” sahut Ori dingin.

Keduanya kemudian saling diam dan sibuk dengan benda di tangan masing-masing. sesekali Ori melirik selimut setengah jadi yang sedang dirajut Dara. Rapi, pikirnya. Sesekali juga, Dara mengintip halaman yang sedang dibaca Ori kemudian manggut-manggut sambil berdecak mencoba mengingat sesuatu.

“Hoping for the best, prepared for the worst, and unsurprised by anything in between,” ucap Dara pelan. Ori menoleh, memandang wajah Dara yang dibedaki bedak tabur.

“Sorry?” tanya Ori.

“Maya Angelou.” Dara menjawab lalu melipat selimut yang sedang ditekuni nya dan memandang buku di tangan Ori. “I know Why The Caged Bird Sings. Aku baca ini pas kuliah,” tambahnya.

Ori melipat ujung halaman 116 dan menutup bukunya.

“Lalu?” tanya Ori dengan nada dingin.

“First, aku memang baca bukunya. And I like it. Kedua, ini caraku membuka pembicaraan denganmu. Menurutku banyak orang pakai cara seperti ini untuk memulai pembicaraan dengan orang asing yang menurutnya menarik,” jelas Dara sambil tersenyum.

Tanpa dipinta pipi Ori yang selalu terlihat pucat terasa ‘berdarah’. Hangat. Namun mulutnya terkunci untuk merespon kalimat tidak terduga yang didengarnya siang ini.

“Kamarku di ujung lorong timur. Hanum dan satu sipir sering duduk di sana menunggu aku selesai membuatkan mereka sweater atau selimut untuk kucingnya. Mampir kapan-kapan,” tambah Dara sambil berdiri dan meninggalkan Ori yang masih terdiam. Alih-alih kembali membuka Maya Angelou-nya, Ori justru memperhatikan punggung Dara hingga hilang di balik pagar kawat yang ditunggui dua sipir perempuan dengan wajah kasar.

 

“Kak!” Uri setengah berteriak memanggil Ori yang mematung di depan gantungan tas rajutan.

“Ya.” Ori buru-buru menghapus genangan air yang menjuntai di ujung matanya.

“Ada yang datang.” Uri membukakan pintu mempersilahkan seseorang masuk ke toko pernak-pernik kakaknya.

“Ori,” panggil perempuan dengan rambut sebahu dan toned arms yang menawan. Ori tersentak dan berjalan cepat mendekat.

“Faron,” sapanya sambil memeluk erat tubuh ideal sipir kesayangannya selama menjadi tahanan. “I miss you,” bisiknya di balik bahu Faron yang menepuk-nepuk pundak Ori pelan sambil menahan genangan air mata.

“Kau lebih berisi dan sehat,” puji Faron setelah melepas pelukan dan memandang Ori lama. Ori mengangguk sambil mengusap pipi dengan sisa air matanya. “Lapas terasa berbeda sejak kamu keluar Ri,” tambah Faron lalu duduk di sebelah Uri yang baru saja masuk menaruh tiga cangkir dan satu teko berisi teh tanpa gula.

“Hidupku juga jauh berbeda sejak keluar,” sahut Ori dengan mata berlinang.

“Sudah lah. Sekarang kau sedang menjalani hidup barumu. Yang di belakang biarkan di belakang.” Faron menyesap teh yang dituang Uri. “Aku bawa sesuatu untukmu.” Faron mengaduk isi tasnya sebelum mengeluarkan sebuah buku tulis yang terlihat keriting dan menyodorkannya pada Ori.

“Apa ini?” tanya Ori dengan perasaan tidak karuan.

“Isi sel Dara yang ditahan untuk barang bukti sudah dikembalikan. Aku ambil ini karena menurutku kau butuh sesuatu seperti ini,” jawab Faron berusaha tenang. “Baca setelah kau kuat untuk benar-benar merelakan ya,” tambahnya lalu berdiri dan memeluk Ori singkat.

Menggerutu; Sebuah Coret-Coret Persoalan Mutu

“If to be accepted in a certain community we have to push something that crosses our value, why do we have to try so hard to fit in? If to be seen we have to say something cruel and make one or two people feel less-appreciated, why do we have to talk at all? If we experienced a hard time because people treat us in the worst way possible, why do we even try to do the same? If we listen to something just to find a few mistakes or things that aren’t aligned with our view, why do we even waste our time and listen to podcasts?”

 

 

Ketika sedang menghabiskan banyak waktu untuk bersantai, mengutak-atik jurnal dengan fountain pen kesayangan atau sedang sibuk corat-coret canvas di Procreate, sejujurnya kepalaku sering memikirkan banyak hal secara acak. Mulai dari persoalan ini-itu yang sedang aku hadapi, carut-marut kondisi tanah air, kompleks dan rumitnya situasi dimana-mana, hingga hal-hal sesederhana seperti bagaimana cara bersih-bersih rumah tanpa harus berhadapan dengan sesi menyapu.

Di balik pikiran-pikiran acak tentang banyak hal ini, kadang aku memikirkan sesuatu terlalu jauh sampai akhirnya geram sendiri dengan banyak hal yang seharusnya tidak terjadi jika saja semua orang sudi untuk berpikir dengan cara yang lebih sederhana berlandaskan dasar wajib menjadi manusia; akal dan nurani.

Tanpa bermaksud menjadi makhluk yang merasa benar sendiri atau sehat sendiri, melalui percakapan-percakapanku dengan orang-orang yang ‘berpikir’ mengenai banyak isu dan pembahasan, aku menyimpulkan bahwa there is always a fine line between something to something else. Selalu ada batasan halus antara menjadi cerdas dengan menjadi sok tau, selalu ada perbedaan tipis antara merasa sayang dengan memiliki obsesi tidak sehat, selalu ada kemiripan identik antara menjadi pendengar yang baik dengan menjadi orang yang hanya ingin tahu, selalu ada sedikit celah antara menjadi peduli dengan sekedar merecoki sesuatu. Selalu ada perbedaan kecil antara menjadi kritis dengan menjadi tukang hujat yang kasar dan menyakiti. Sayangnya, kita kerap melewatkan perbedaan dengan batasan-batasan kecil ini.

Banyak orang yang merasa pintar dan up to date hanya dengan sibuk mengikuti trend dan melakukan ini itu yang dilakukan kebanyakan orang sementara tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai hal tersebut. Banyak orang merasa kritis dan peduli hanya dengan sibuk mencaci-maki dan memprotes sesuatu yang tidak sesuai dengan cara pandang dan berpikirnya padahal tanpa disadari, bentuk respon yang dilakukan kerap membuat sakit banyak pihak lain. Banyak orang yang bertindak dan memutuskan sesuatu dengan kepentingan tertentu dan merasa telah melakukan sesuatu dengan begitu bijak padahal tanpa disadari ada banyak pihak yang dirugikan dan menjadi terbebani.

Sekali lagi, kita hanya perlu untuk berpikir dengan cara paling sederhana dan menggunakan apa yang sudah kita punya sejak pertama memiliki peran sebagai manusia yang bernafas; logika dan nurani.

Jika untuk menjadi diterima kelompok tertentu kita memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip dan kata hati, mengapa harus trying too hard to fit in? Jika untuk menjadi terlihat kita harus mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diungkapkan karena hanya akan membuat satu atau dua orang merasa less-appreciated, mengapa harus bicara? Jika hidup kita terasa sulit karena diperlakukan buruk oleh seseorang, mengapa harus melakukan hal yang sama pada orang lain? Jika ketika mendengar sesuatu kita hanya akan menghujat seseorang karena pendapat dan pandangannya berseberangan dengan yang kita percaya, kenapa harus sok-sokan susah payah mendengar podcast atau membaca sesuatu?

Ingat, there is always a fine line between something to something else.

Sederhananya, mari bertanya pada diri sendiri dan selipkan pembahasan-pembahasan menjadi manusia yang lebih baik ini dengan orang-orang terdekat kita. Tanyakan, apakah kita ingin terus-terusan hidup dibayang-bayangi oleh gelisah karena ada banyak hal yang tidak terselesaikan? Apakah kita akan merasa baik-baik saja ketika apa yang kita katakan dan lakukan ternyata membuat seseorang jauh di luar sana merasa tidak berarti dan begitu terluka? Apakah kita akan sanggup memperlihatkan kehadiran kita jika dengan kehadiran itu, seseorang merasa terganggu dan terancam?

 

Bukankah hidup dan saling berinteraksi akan terasa jauh lebih menyenangkan jika kita hanya perlu mengurusi urusan sendiri dan merelakan apa yang memang tidak seharusnya ada untuk kita? Bukankah tidur akan terasa lebih menguatkan ketika apa yang kita lakukan dan katakan lebih membantu dan membuat orang tenang? Bukankah umur yang terus bertambah dan badan yang semakin tua itu akan terasa lebih berguna ketika waktu yang kita habiskan dipakai untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bukan untuk mengurusi hal-hal yang tidak seharusnya kita recoki?

______________________________________

When I spend my day off to leisure at home, scratch my journal with my beloved fountain pen or drawing messy lines in Procreate, I often have my head processing a lot of random thoughts. Most of the time I think of my life and all the things I got to face, sometimes I hardly think about my home country, the other time I think about how complex, complicated, and messy the situation in every corner of the world are, and the other day I might think of the simplest silly questions like how to get the house clean without me having to mop the floor.

Behind all these random-energy-draining-thoughts, I used to think of it further that I started to feel sick and have a rage about everything I can not fix. I once had a headache when I thought of things that shouldn’t be happening if only all of these human beings were willing to think and act like how we humans should think and act with these two main elements of us; sense of logic and our conscience.

Without pretending to be a self-righteous being, through my priceless conversations with the people who ‘think’, I conclude that there is always a fine line between something to something else. There are always subtle boundaries between smart and to be the “Know It All”. There is a slight difference between loving and caring to being sickly obsessed with someone. There is identical similarity between being a good listener to being someone who is just curious. There is a small difference between being critical and being a humiliator and hurting people. And unfortunately, we often consciously cross these boundaries.

Lots of people think of themselves as smart and the up to date one just by diving and following the trends meanwhile they don’t really know what they are doing. Too many people feel that they are being critical and care about something when all they did was just humiliating or protest against something that is not aligned with what they believe. And often how they respond to it is intentionally hurting people. Some people in the higher position decide something without considering what their people really need and end up harming the crowd.

Again, to be a good human is to think in the simplest way possible using the tools we got from the beginning of our journey as human beings; sense of logic and our conscience.

If to be accepted in a certain community we have to push something that crosses our value, why do we have to try so hard to fit in? If to be seen we have to say something cruel and make one or two people feel less-appreciated, why do we have to talk at all? If we experienced a hard time because people treat us in the worst way possible, why do we even try to do the same? If we listen to something just to find a few mistakes or things that aren’t aligned with our view, why do we even waste our time and listen to podcasts?

Remember, there is always a fine line between something to something else.

Simply put, let’s ask ourselves and inject those conversations about how to be a better human being. Start questioning these questions; do we want to live in the shadow of a restless day and night because there are so many unsolved problems? Will we all going to feel just fine when all the things that we said or did is really hurting someone out there? Can we show up when our existence itself is making someone feel threatened?

Isn’t life and our interaction with each other would be far nicer if each one of us just minded our own business? Wouldn’t it be wonderful if we can easily let go of something or someone that doesn’t mean to be ours? Wouldn’t our sleep be the powerful recharge system when we know that what we did and said is helping people? Isn’t our life and these ages body felt useful because we used them all to be a better human without intervening people’s problems?

Sehat Luar Dalam

Rasanya belum lama ini kita baru saja menyambut 2020 dengan penuh harapan dan cita-cita. Kemudian baru-baru ini, kita semua menyambut 2021 sambil tetap berharap agar semua menjadi lebih baik dan agar kita kuat-kuat menghadapi apapun cerita yang belum dan akan kita hadapi.

Tentu saja dengan angka penanda usia zaman yang semakin bertambah ini, kita semua semakin dewasa dan berumur. Mungkin orang-orang yang seumuran denganku mulai merasa tua di usia late 20s-nya. Mungkin hari ini orang-orang yang mengalami masa remaja di musim awal lahirnya Instagram mulai merasa dewasa. Maka tidak ada salahnya kita semua mulai berpikir, bertindak, dan memproses sesuatu dengan lebih baik. 

Berbicara soal “lebih baik”, aku ingin memastikan bahwa menjadi sehat luar dalam termasuk ke dalam salah satu pencapaian yang sudah seharusnya kita punya atau setidaknya sesuatu yang harus kita capai sesegera mungkin. Dan tentu saja, menjadi sehat luar dalam adalah perkara yang tidak terlalu mudah, sementara di saat bersamaan, menjadi sehat luar dalam adalah hal yang ternyata begitu sederhana untuk diproses.

 

Sehat luar dalam?

Ya. Sehat luar dalam bagiku adalah sebuah definisi yang mejelaskan mengenai keadaan diri kita ketika dengan tubuh yang sehat dan terasa kuat, kita memiliki pikiran, mental, perasaan yang sehat. 

Tapi apapun itu, setidaknya kita tau dan paham bahwa ada banyak hal yang bisa kita perbaiki pelan-pelan, yang harus kita latih mulai dari sekarang, dan yang harus kita biasakan sejak hari ini untuk menjadi semakin sehat luar-dalam. 

Untuk menjadi sehat luar dalam menurutku adalah sesuatu yang perlu dimulai dengan menjadi sehat ‘di dalam’. Ada banyak hal yang harus kita perhatikan untuk memastikan bahwa di dalam, kita sedang benar-benar dalam keadaan sehat. Sederhananya, kita harus belajar untuk put ourselves first and be content. Sementara di lain sisi, kita juga harus memahami bahwa dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai prioritas utama bukan berarti kita sedang mendidik mental ini menjadi sosok yang egois. Karena dengan mencintai diri sendiri, kita sedang belajar bahwa untuk menjadi utuh di dalam sebelum mulai mencintai figur lain di luar diri kita sendiri.

Di bawah ini adalah dua contoh dari banyak hal yang harus kita perhatikan dan jadikan lebih baik dalam rangka bertumbuh menjadi the better version of us yang mengerti dengan our own self-worth.

 

Berkata tidak

Berkata tidak tanpa perlu alasan adalah salah satu hal sederhana yang kerap kita anggap sepele sementara ia sangat berperan dalam menentukan apakah kita sedang sehat luar dalam atau tidak. 

Seringkali ketika seseorang meminta sesuatu, mengajak kita untuk melakukan sesuatu, mengundang kita untuk menghadiri acara tertentu, akan sulit bagi kita untuk berkata tidak karena satu dan lain hal. Mungkin karena tidak ingin membuat orang-orang itu merasa ditolak, mungkin kita tidak ingin membuat orang kecewa, atau bahkan kita tidak ingin dipandang sebagai sosok yang hard to keep up with. Dan jikapun harus berkata tidak, kita selalu merasa terbebani untuk menjelaskan hal-hal yang melandasi kata tidak tersebut. 

Padahal, sebagai manusia yang memiliki path sendiri-sendiri, sangat sah-sah saja untuk berkata tidak dengan tegas tanpa perlu merasa bersalah karena tidak menyediakan alasan dibalik kata tidak tersebut. Sangat boleh-boleh saja jika kita berkata “Tidak bisa,” pada seseorang yang mengajak hang out atau pada seseorang yang meminta kita untuk membawakan sesuatu. 

The thing is, you’re not entitled to explain yourself. 

Maka hanya dengan mulai membiasakan untuk berkata tidak tanpa mengikut sertakan penjelasan apa-apa ini, pelan-pelan kita akan semakin tau cara menempatkan diri sebab dengan begitu kita lebih mengenal our worth sambil tetap menjadi manusia yang memanusiakan sesama manusia.

 

Berkomunikasi dengan sehat

Tanpa perlu merasa berkewajiban untuk menjelaskan apapun ketika berkata tidak tadi, sebagai manusia yang ‘manusia’ kita tentu berpikir jika penolakan kita berdampak buruk pada seseorang. Which is fine karena memang sudah seharusnya kita memiliki tenggang rasa pada apa yang orang lain alami dan rasakan. 

Hanya saja, tidak banyak yang menyadari bahwa di sisi lain, pihak yang menerima jawaban tidak kita tanpa alasan tadi juga sudah seharusnya tidak feeling offended atau marah. Lebih jauh lagi, tidak semua orang mengerti bahwa untuk berkata tidak tanpa alasan, bukan berarti kita harus mengabaikan cara berkomunikasi yang sehat. 

Sebagai makhluk yang akrab dengan proses komunikasi dan mengerti bahwa sebuah komunikasi adalah dasar dari apapun yang kita lakukan, maka sebenarnya proses interaksi adalah sesuatu yang sederhana.  Dengan mengerti bahwa kita tidak seharusnya menjelaskan mengenai pilihan yang kita pilih pada orang lain,  kita seharusnya bisa melalui dan menjalani proses interaksi dengan baik. Kita hanya perlu menyadari bahwa dalam interaksi yang baik, dibutuhkan proses komunikasi yang sehat. Dan sebagai manusia, proses komunikasi yang sehat sudah seharusnya menjadi dasar yang kita pakai dalam hidup sebagai makhluk sosial.

Menurutku, sebagai orang-orang yang semakin tua dan dewasa, sebagai manusia yang sudah terlibat dalam banyak jenis interaksi sejak lahir hingga hari ini, proses menjadi sehat luar dalam ini yang membuat kita menjadi smart enough to understand.

 

Bagaimana Jika Berkata Jujur Adalah Sebuah Kesalahan?

Ada banyak kalimat klise yang mengajarkan kita untuk berkata jujur. Mulai dari kalimat yang mengatakan bahwa kejujuran yang pahit akan terdengar lebih baik dibandingkan kebohongan yang manis, hingga kalimat yang mengatakan bahwa tidak jujur adalah mencuri hak orang lain untuk mengetahui kebenaran.

Maka kejujuran terdengar sebagai suatu tingkah yang positif dan berdampak baik. Lalu bagaimana jika kejujuran adalah sebuah kesalahan? Bagaimana jika setelah berkata jujur, sesuatu tidak lagi akan pernah sama?

Mungkin ini alasan sebagian besar manusia masih menyimpan beberapa kebohongan dalam hidupnya. Mungkin tidak semua orang bisa menerima akibat dari kebenaran yang dikatakannya. Mungkin tidak semua orang sanggup melihat reaksi orang lain ketika mendengar kebenaran dari mulutnya. Dan mungkin tidak semua orang mau menanggung perubahan akibat kejujuran yang disampaikannya.

source: https://www.imdb.com/title/tt5164432/?ref_=ttmi_tt

Meskipun penting, kejujuran tetap menjadi sebuah pilihan yang tidak boleh dipaksakan. Kejujuran adalah hak semua orang. Jika Simon (Love, Simon – 2018) memilih untuk berkata jujur tentang orientasi seksualnya, maka itu adalah hak nya untuk mengungkapkan yang sebenarnya setelah ia merasa siap dengan semua akibatnya.

Menjadi jujur adalah hal terberat. Bukan hanya bagi seorang pembohong, akan tetapi menjadi jujur seringkali membuat naluri dan nurani kita bertengkar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengatakan sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak.

Menjadi jujur akan jauh terasa lebih mudah jika saja kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya. Itulah sebabnya seringkali orang menyesali kejujurannya setelah sesuatu yang tidak mereka harapkan terjadi.

Berbicara tentang jujur, saya teringat pada citra diri yang dibangun oleh semua orang. Seringkali image yang ditunjukkan pada publik oleh setiap individu adalah image yang telah dibangun sedemikian rupa untuk mendapatkan respon tertentu dari lawan interaksi.

Seringkali dalam membangun image, seseorang merasa tidak puas dengan respon yang didapatkan atau sebaliknya. Seringkali juga, seseorang bahkan merasa sangat tertekan dengan image yang terlanjur ia pakai.

Maka ketika pada kesempatan tertentu dengan orang tertentu image tersebut bisa dilepaskan dan pada akhirnya berhasil memperlihatkan wujud asli “siapa saya”, ada kelegaan yang tidak bisa didapatkan dari hal lain. Di sinilah kejujuran berperan penting. Mendatangkan kelegaan ketika tidak perlu lagi berpura-pura.

Entah itu berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda dengan jati diri, hingga berpura-pura menjadi orang yang bahagia padahal sedang tersiksa sendiri.

Namun apapun bentuk kepura-puraannya apapun wujud rahasianya, kejujuran tetap menjadi bagian dari pilihan yang harus diputuskan. Memutuskan untuk jujur dan mengakui apa adanya, atau memutuskan untuk tetap menyembunyikan sesuatu hingga siap menanggung akibat dari sebuah kejujuran.

Jadi, jujur tentang apa yang belum Anda lakukan?