Kelana; Sebuah Narasi dari Perantauan | part.1

Aku selalu memilih untuk menjalani kehidupanku dengan cara paling sederhana, dengan jalur paling mudah yang bisa aku tempuh. Mungkin aku bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak terlalu suka keluar dari zona nyaman. Lebih jauh lagi, aku bisa dianggap sebagai orang yang malas berjuang lebih.

Maka dengan segala kebiasaanku yang lebih memilih untuk berkurung dalam tempurung, tidak pernah terbayangkan olehku bahwa aku akan mencari rezeki dan menjalani kehidupan jauh dari tanah tempat aku dilahirkan.

Tapi siapa sangka, aku yang selalu menolak untuk ikut-ikutan mengadu nasib di ibu kota justru berakhir berdiam di kota sesak yang bisa-bisanya membuat rindu itu selama dua tahun waktu itu. Siapa yang menduga bahwa akhirnya aku memutuskan untuk ikut mondar-mandir di banyak ruas jalan di kota Jakarta untuk mencicipi rasanya menjadi kaum nine to five.

Namun tetap saja, Suci adalah Suci yang tidak terlalu suka hidup dengan pola yang berulang dan dengan tekanan tidak masuk akal dari segala arah. Jadilah sebelum level karir yang lebih tinggi tercapai, aku menyerah dan meninggalkan Jakarta dengan alasan ingin punya waktu lebih banyak untuk menulis.

Waktu itu, tidak terpikir lagi olehku untuk mencari pekerjaan lain dan kembali meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan sendiri. Jadi untuk pertanyaan ‘siapa sangka’ kedua, aku berada di tanah Melayu hari ini. Untuk alasan yang sama; mencari kehidupan sendiri.

 

Cerita tentang anak rantau

Ada banyak hal yang terekam, tersimak, tercatat, dan terproses sejak kali pertama aku menginjakkan kaki di Kuala Lumpur setahun yang lalu untuk berlibur hingga hari ini ketika hujan luar biasa di sepanjang jalan Old Klang sudah menjadi pemandangan biasa.

Mulai dari sekedar cerita kerinduan pada kampung halaman, cerita semangat berapi-api anak kampung yang memulai hidup baru di antara gedung pencakar langit di Kuala Lumpur, cerita tentang banyak hal yang tidak sengaja terbandingkan antara hidup di sini dan berjuang di tanah air, hingga cerita terkurung pandemi selama berbulan-bulan.

 

A place I can call a home

Seperti biasa dan seperti kebiasaanku setiap kali menempati suatu tempat untuk waktu yang cukup lama; I make a home. Karena kita manusia butuh the home, setiap tempat yang sedang menjadi tempat aku menjalani hidup, aku menjadikan tempat dimanapun aku berada sebagai rumah. Maka Kuala Lumpur telah menjadi rumah dengan atau tanpa aku sadari sejak dua kaki ini mondar-mandir di sini.

Terlepas dari semua perbedaan yang ada antara Kuala Lumpur dan tanah air, kota dengan jalanan yang tidak pernah berhenti membuatku kagum tengan tatanannya yang rapi ini benar-benar telah menjadi rumah. Rumah dimana aku bisa merasa lelah dan beristirahat dengan tenang. Rumah dimana aku merasa lapar dan makan dengan lahap. Rumah dimana aku bisa merasa gusar dan menjadi tenang di saat bersamaan.

 

Apa ceritanya

Persis seperti subtitle dari rubrik Kelana ini; sebuah narasi dari perantauan, tentu ada banyak cerita yang ingin aku ceritakan. Mulai dari first impression-ku tentang kota ini hingga caraku menjalani hari demi hari sebagai anak Indonesia yang bersusah payah mengotak-ngotakan waktu untuk hidup, bekerja dan berkarya.

Sampai jumpa di Kelana part 2.