Ori, Sel Timur Ujung | Part. 1

Rambutnya masih tetap terlihat patuh, berjuntai menutupi leher hingga bahu. Hari ini tanpa jepitan hitam seukuran lidi daun kelapa, tanpa karet gelang bekas bungkus sarapan pagi mewah para napi; nasi uduk porsi irit dengan potongan tahu goreng dan sambal teri. Lingkar matanya tidak sehitam berbulan-bulan yang lalu. Pipinya sekarang lebih merona meskipun sisa bekas jerawat masih menghiasi wajah oval itu.  Ori mulai terlihat jauh lebih ‘Ori’ semenjak toko pernak-pernik handmade nya dibuka. Meskipun sekali dua atau tiga malam tidak jarang Uri mendengar isak kakaknya itu pecah di dalam kamarnya yang menyudut. Isak pilu yang membuatnya ikut merasa biru. Isak sepotong jantung yang masih belum sanggup mendalami ilmu ikhlas tentang cinta yang berpulang tiba-tiba.

Ori baru saja menghirup udara bebas setahun yang lalu setelah nyaris lima tahun hidup ‘dikandangi’ dan tidak ada cerita yang bisa diceritakan dengan mudah semenjak pertama polisi menjemputnya di rumah Angku setelah membongkar jok mobilnya yang menyimpan bungkusan sabu. Meskipun siang mengejutkan itu dilewati dengan senyum dingin di sudut bibirnya, Uri tetap paham bahwa banyak goresan berat yang sedang ditanggung kakaknya.

“Aku tidak mau lagi kau pulang ke rumah ini!” teriak Angku ke wajah Ori waktu itu. Sekali lagi, hanya senyum kaku dengan lengkungan dingin yang muncul di wajahnya.

Setahun pertama Ori hanya mau bertemu dengan Uri jika ada yang berkunjung. Wajahnya banyak berubah. Lebih tirus, pucat, kantung mata membesar, lingkar hitam yang semakin kental, bibir kering yang tidak lagi pernah terlihat melengkung dan rambut yang selalu diikat dengan karet gelang berwarna merah bekas bungkus nasi uduk. Uri selalu menangis setiap kali melihat kuku cantik kakaknya yang terlihat kusam dan tidak terawat sejak menjadi tahanan.

“Aku baik saja,” kata Ori setiap kali Uri terisak melihat kondisinya.

Awal tahun kedua menjadi tahanan di lapas khusus perempuan, Ori mulai menyibukan diri dengan rutinitas harian. Jika tidak sedang berminat jogging keliling lapangan, Ori pasti terlihat duduk menyudut di lapangan voli dengan buku lusuh di tangannya. Buku yang dipinjami Faron, sipir muda yang tidak pernah bersikap kasar padanya sedari awal. Ketika hari sedang hujan, Ori akan lebih banyak menghabiskan waktu di dapur membantu tim konsumsi mengupas bawang. Hingga suatu hari, Dara ditransfer dari lapas pulau seberang untuk menghabiskan sisa masa hukumannya di tempat Ori dan tiga ratus perempuan lainnya mendekam.

Dara terlihat ramah dengan mata riangnya. Dara selalu tersenyum selepas jadwal senam bersama di pagi hari dan merajut sepanjang hari. Sekali waktu Dara dengan benang dan gulungan selimut yang belum jadi menghampiri Ori yang duduk dengan buku Maya Angelou di tangannya.

“Tahun ke berapa?” tanya Dara tanpa permisi.

“Kedua,” jawab Ori dingin dengan mata tidak lepas dari halaman ke seratus lima belas.

“Sabu?” tanya Dara lagi. Ori mengangguk.

“Aku tujuh tahun lagi.” Dara mulai menyambung benang dengan ujung benang lainnya kemudian mulai menyambung rajutan selimut dengan warna olive green-nya. “Married?” tanya Dara lagi. Ori menggeleng.

“Belum,” jawabnya masih dengan wajah cuek dan sangat merasa terganggu dengan kehadiran Dara yang banyak tanya. Belum dan bukan urusanmu, sengit Ori membatin.  

“Namaku Dara,” ucap Dara tanpa merasa perlu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Ori,” sahut Ori dingin.

Keduanya kemudian saling diam dan sibuk dengan benda di tangan masing-masing. sesekali Ori melirik selimut setengah jadi yang sedang dirajut Dara. Rapi, pikirnya. Sesekali juga, Dara mengintip halaman yang sedang dibaca Ori kemudian manggut-manggut sambil berdecak mencoba mengingat sesuatu.

“Hoping for the best, prepared for the worst, and unsurprised by anything in between,” ucap Dara pelan. Ori menoleh, memandang wajah Dara yang dibedaki bedak tabur.

“Sorry?” tanya Ori.

“Maya Angelou.” Dara menjawab lalu melipat selimut yang sedang ditekuni nya dan memandang buku di tangan Ori. “I know Why The Caged Bird Sings. Aku baca ini pas kuliah,” tambahnya.

Ori melipat ujung halaman 116 dan menutup bukunya.

“Lalu?” tanya Ori dengan nada dingin.

“First, aku memang baca bukunya. And I like it. Kedua, ini caraku membuka pembicaraan denganmu. Menurutku banyak orang pakai cara seperti ini untuk memulai pembicaraan dengan orang asing yang menurutnya menarik,” jelas Dara sambil tersenyum.

Tanpa dipinta pipi Ori yang selalu terlihat pucat terasa ‘berdarah’. Hangat. Namun mulutnya terkunci untuk merespon kalimat tidak terduga yang didengarnya siang ini.

“Kamarku di ujung lorong timur. Hanum dan satu sipir sering duduk di sana menunggu aku selesai membuatkan mereka sweater atau selimut untuk kucingnya. Mampir kapan-kapan,” tambah Dara sambil berdiri dan meninggalkan Ori yang masih terdiam. Alih-alih kembali membuka Maya Angelou-nya, Ori justru memperhatikan punggung Dara hingga hilang di balik pagar kawat yang ditunggui dua sipir perempuan dengan wajah kasar.

 

“Kak!” Uri setengah berteriak memanggil Ori yang mematung di depan gantungan tas rajutan.

“Ya.” Ori buru-buru menghapus genangan air yang menjuntai di ujung matanya.

“Ada yang datang.” Uri membukakan pintu mempersilahkan seseorang masuk ke toko pernak-pernik kakaknya.

“Ori,” panggil perempuan dengan rambut sebahu dan toned arms yang menawan. Ori tersentak dan berjalan cepat mendekat.

“Faron,” sapanya sambil memeluk erat tubuh ideal sipir kesayangannya selama menjadi tahanan. “I miss you,” bisiknya di balik bahu Faron yang menepuk-nepuk pundak Ori pelan sambil menahan genangan air mata.

“Kau lebih berisi dan sehat,” puji Faron setelah melepas pelukan dan memandang Ori lama. Ori mengangguk sambil mengusap pipi dengan sisa air matanya. “Lapas terasa berbeda sejak kamu keluar Ri,” tambah Faron lalu duduk di sebelah Uri yang baru saja masuk menaruh tiga cangkir dan satu teko berisi teh tanpa gula.

“Hidupku juga jauh berbeda sejak keluar,” sahut Ori dengan mata berlinang.

“Sudah lah. Sekarang kau sedang menjalani hidup barumu. Yang di belakang biarkan di belakang.” Faron menyesap teh yang dituang Uri. “Aku bawa sesuatu untukmu.” Faron mengaduk isi tasnya sebelum mengeluarkan sebuah buku tulis yang terlihat keriting dan menyodorkannya pada Ori.

“Apa ini?” tanya Ori dengan perasaan tidak karuan.

“Isi sel Dara yang ditahan untuk barang bukti sudah dikembalikan. Aku ambil ini karena menurutku kau butuh sesuatu seperti ini,” jawab Faron berusaha tenang. “Baca setelah kau kuat untuk benar-benar merelakan ya,” tambahnya lalu berdiri dan memeluk Ori singkat.

1.30 | eps.2

Beberapa hari berlalu, aku yang pengecut hanya memandang Della dari jauh. Semenjak hari itu aku sering berpapasan dengannya, dan kami hanya saling senyum tanpa tegur sapa. Bon Cabe yang terasa manis itu kini semakin menunjukan pedasnya. Sepertinya aku bukan orang yang tepat untuknya, untuk apa aku mencoba?

“Hey Rel, sendiri aja?” Tiba-tiba kau mengejutkan lamunanku. Paras ayu, bibir mungil dengan senyum mempesona itu tiba-tiba menaruh piring makan siangnya di depanku.

“Eh Del, kok tumben enggak gabung sama mereka?” tanyaku mencoba biasa saja sambil melirik ke arah meja tempat Syahrul duduk bersama teman-temannya.

“Iya, lagi penuh di sana terus aku ngalah aja. Enggak apa-apa kan aku di sini?” tanyanya sambil duduk persis di depanku.

“Iya enggak apa-apa.” Jawabku singkat dan kembali menyuapi diriku sendiri dengan gado-gado tambah telur dadar ala Ibu Minah.

Kami berbincang, dia yang memulai. Dia bertanya apa aku punya akun kosong di Netflix dan kebetulan aku memang sedang mencari seseorang untuk join akunku yang kosong satu. Kami banyak bercerita tentang film-film favorit kita. Tidak sama memang, dia lebih suka film-film aksi atau biografi, sedangkan aku lebih suka drama keluarga atau fiksi. Namun, ada satu hal yang membuat pikiran kita sejalan, kita sama-sama membenci genre romance-comedy.

Kami tertawa terbahak-bahak sampai aku kadang sadar beberapa pegawai lain memperhatikan. Kami bercerita bagaimana kami bisa saja tertidur di bioskop karena film rom-com yang pasangan kami minta untuk tonton. Bagaimana kami belum pernah selesai menonton film Titanic atau Ada Apa Dengan Cinta karena tertidur sebelum pertengahan dan akhirnya menyerah. Seakan semesta memberi restunya, kami semakin dekat dan mulai terbuka tentang satu sama lain di 40 menit ini.

Sayang 2.30 sudah datang, kami harus segera bergegas pergi ke meja kerja masing-masing.

“Eh Rel, minta nomor lu dong. Nanti sekalian kirimin email sama password dan nomor rekening ya?” Kuberikan nomorku sambil gemetar. Dia melihatnya kurasa. Getaran gugup itu.

Di meja kerja aku masih terlalu gugup. Tak mengganggu kerjaku, malah lebih membuatku produktif hari itu. Aku menyelesaikan targetku secepat mungkin untuk bersantai di jam-jam sebelum sebelum pulang.

“Eh kok bengong mulu lu? Enggak mau siap-siap pulang?” Buya, teman sebelahku menyadarkan lamunanku.

“Oh iya, yuk.” Jawabku singkat.

“Lu lagi kenapa dah? Betewe lu jadi ikut acara lari bareng enggak di GBK?” tanya Buya sambil membereskan mejanya.

“Iya jadi.” Jawabku tanpa merubah pandanganku dari meja kerja.

“Oke, gue tunggu di bawah ya. Nanti kita berangkat bareng yang lain juga.” Aku menoleh ke arahnya, tersenyum dan mengangguk setuju.

Kami berangkat menggunakan mobil Buya. Sesampainya di GBK, kami langsung pergi ke arah tengah untuk bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku terkejut karena di sana ternyata ada Syarul, Della dan lain-lain. Aku gugup tapi senang, aku senang tapi gugup. Entah apa yang sedang mengusikku. Cintakah, atau hanya obsesi semata?

Aku tersenyum ke arah teman-teman yang sudah mulai berkumpul dan melakukan peregangan. Kami berlari tak lama kemudian. Aku mencoba menyeimbangkan lariku dengan Della sehingga kita sejajar. Dia sadar dan mulai menurunkan satu airpods miliknya.

“Mau barengan?” dia menyodorkan airpods-nya kepadaku.

“Boleh,” jawabku.

Kami pun dia dalam belaian lagu sambil berlari kecil mengejar peluh.

Semesta, apa yang sedang kau coba sampaikan? Manusia dengan paras ayu, bibir mungil dan senyum mempesona inikah yang harus aku puja? Atau obsesi ini harus aku kubur dengan alasan berbakti kepada orang tua? Semesta, semoga cepat kau sampaikan jawabmu pada waktu

Perihal Waktu; Perihal 'On Time'

I once wrote that in life, we shouldn’t rush to things, to a lot of things. Semua ada waktunya, semua bunga mekar pada musimnya. Dengan kata lain, ‘on time’nya kita beda-beda.

Kamu dapat kerjaan bagus di saat baru saja melepas kerjaan boring yang bikin kamu makan hati? Itu bisa dibilang on time. Kamu nganggur bertahun-tahun sampai akhirnya baru sadar kalau kamu bisa jualan jasa design dan tidak perlu ngantor? Itu juga bisa dibilang on time.

Sekali lagi, on time nya kita beda-beda.

Kamu ketemu seseorang di tempat kerja baru lalu kalian saling cinta kemudian bahagia berdua? Katakan cinta datang begitu tepat waktu ke kamu. Kamu ketemu kenalan dari masa kuliah lagi suatu hari di suatu tempat lalu tiba-tiba ada ‘listrik’ dan kemudian saling cinta dan bahagia berdua? Cinta juga datang tepat waktu di kasus ini.

 

OK Paham, Terus?

Sebelum lebih jauh dan kemana-mana, tadinya saya terpikir untuk menulis ini setelah mendengar Love Is Easy-nya Rex Orange County. ‘Until love came in on time, on time’ katanya. Mendengar kata on time mendadak saya kepikiran sejauh apa on time bekerja dengan cara berbeda-beda pada setiap orang. Lebih spesifik lagi, on time dalam persoalan jatuh cinta.

Seperti yang saya sebut sebelumnya dan pernah bahas di tulisan lainnya, kita punya masa bersemi sendiri-sendiri. Dan semua benar-benar terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi tepat pada waktunya. Ingat, tepat waktu menurut kita tidak selalu sejalan dengan tepat waktu yang direncanakan si Pemilik Waktu itu sendiri.

Mungkin seseorang harus berkali-kali jatuh cinta lalu patah hati lebih dulu sebelum pada akhirnya bertemu dengan jenis hadir yang tepat dan membuat semua broken pieces, semua bleeding wound, semua trust issues-nya terobati. Mungkin seseorang memang harus dikecewakan berkali-kali lebih dulu sebelum dipertemukan dengan sosok yang membuatnya ‘terbang’.

Sekali lagi, tepat waktu kita semua berbeda. Jika menurutmu kamu sedang bertemu seseorang yang terasa tepat namun semua tidak berjalan sesuai harapan, jangan pernah salahkan waktu sebagai ‘waktu yang tidak tepat’. Percayalah, tidak ada orang yang tepat akan bertemu denganmu di waktu yang salah. Tidak ada waktu yang tepat untuk orang yang salah. Semua hadir adalah hadir yang tepat di waktu yang tepat.

 

Toxic Relationship; Suka Bikin Buta

Pernah dengar istilah Toxic Relationship? Atau malah pernah menjalaninya tapi bahkan tidak sadar sama sekali sampai akhirnya dirimu benar-benar kehabisan ‘darah’ dan terpaksa menyerah?

Well, pada dasarnya toxic berarti racun. Lalu jika digabungkan dengan kata relationship, maka kira-kira artinya jadi begini: ‘Suatu hubungan yang pada dasarnya tidak membawa manfaat (kepuasan seksual diluar hitungan) tapi justru menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, materi, dan hal penting lainnya sehingga banyak kualitas dan self worth yang luntur dari diri seseorang yang terlibat di dalamnya namun mereka yang terlibat seringkali tidak menyadari term ini, bahkan marah besar ketika diingatkan.’

Sederhana bukan?

Tidak Sadar, Tiba-tiba Tenggelam Hingga Dasar

Pada umumnya, mereka yang terlibat dalam toxic relationship benar-benar tidak sadar bahwa hubungan yang sedang dijalaninya itu tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya ada, tapi ia tidak tau bahwa terkadang tingkah dan tindakannya seringkali membuat orang geleng-geleng kepala atau urut dada karena semakin lama, semakin tidak masuk akal.

Biasanya salah satu dari pasangan yang sedang menjalani hubungan toxic ini tidak sepenuhnya menaruh kasih sayang yang diharapkan oleh orang yang satunya. Bisa jadi dia hanya memanfaatkan, memperalat, atau malah hanya sekedar untuk memberi makan hasrat mereka. Meskipun keduanya sama-sama menikmati ‘sesi enak’ itu, namun tetap saja, ada satu pihak yang dirugikan.

Toxic relationship seringkali berlangsung lama. Secara tidak sadar, salah satu atau keduanya justru tidak bahagia sama sekali, tapi seolah tidak bisa lepas juga karena ada hal lain yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin karena terikat, mungkin karena butuh tempat untuk bertukar kasih sayang.

Apapun itu, hubungan toxic seringkali tidak terdeteksi oleh mereka yang terlibat hingga akhirnya energi mereka habis. Hati mereka menjadi tidak peka lagi terhadap hal-hal sensitif. Atau bahkan tidak bisa lagi memandang sesuatu dengan akal sehat sebab terlalu terbiasa mendengar hal-hal manis yang sengaja dipakai salah satu pihak untuk mencuci otak mereka.

 

Jadi Apa Dong Tandanya Kalau Kita Sedang Dalam Hubungan ‘Racun’?

Pernah nggak sih dinasehatin temen atau keluarga bahwa seseorang yang sedang kamu puji-puji itu tidak baik atau tidak pantas untuk dirimu tapi justru kamu malah marah ke mereka dengan alasan doi yang dimaksud adalah orang yang sempurna. Itu adalah salah satu pertanda.

Namun sebelum menyimpulkan bahwa hubungan yang sedang kamu jalani adalah toxic relationship atau bukan, ada baiknya kamu perhatikan dulu beberapa hal di bawah ini.

  1. Dia tidak pernah berusaha mengalah. Selalu kamu yang menghabiskan waktu, tenaga, uang dan pikiran untuk tetap dengan dia, tetap dapat bertemu dengan dia.
  2. Orang-orang terdekat terlihat mulai cuek sama kamu seolah tidak peduli padahal mereka hanya lelah menghadapi kamu yang ‘buta’ banget sama fakta. Atau orang terdekat terlihat risih karena secara tidak langsung, hubungan toxic kamu pasti ngefek ke mereka tapi tidak ada yang berani buka suara karena lagi, enggan berhadapan dengan kamu yang keras kepala mempertahankan orang itu.
  3. Kamu menuruti apapun kemauan pasanganmu ini, mulai dari menghampiri dia, ini-itu yang tidak masuk akal, ini-itu yang nyusahin kamu, bahkan mulai membuatmu rela mengorbankan materi berlebihan demi dia, mengorbankan waktu bersama keluarga demi dia. Parah kan?
  4. Kok rasanya hidupmu hambar, beban pikiranmu berat, mengerjakan pekerjaan tidak betah, di luar bosan, di rumah apalagi. Kamu bahkan tidak pernah lagi menikmati waktu untuk dirimu sendiri. Peeps, ini adalah lampu merah yang harus kamu perhatikan sebagai rambu-rambu bahwa kamu harus berhenti. Kenapa, coba ingat lagi, apa aja yang telah kamu dapat dari hubungan ini dan apa saja yang hilang sejak kamu menjalani hubungan dengan si dia yang menurutmu rupawan ini.

 

Apapun Itu, Cintai Diri Sendiri

Terlepas dari toxic atau tidaknya relationship yang sedang kamu jalani, atau toxic atau tidaknya orang yang menurutmu kamu cintai ini, jangan lupa untuk mencintai diri sendiri.

Kenapa? Karena se-toxic apapun suatu hubungan yang tidak kamu sadari, jika self-love kamu tinggi, kamu akan tau worth kamu seperti apa dan ngeh sendiri bahwa lama-lama kamu merasa tidak pantas berada dalam kesulitan akibat seseorang.

Percayalah, jika seseorang benar-benar menyangimu, dia tidak akan tega membuatmu mondar-mandir, kelelahan, kurang istirahat, berkorban banyak materi, atau pusing oleh banyak pikiran. Orang yang menyayangimu tidak akan pernah membiarkanmu mengambil keputusan yang salah, bukannya malah mencuci otakmu untuk melakukan sesuatu yang besar tapi justru menyulitkanmu dan hanya menguntungkan dirinya sendiri.

Sweeties, cinta tidak bekerja seperti itu. Sebuta-butanya kamu ketika jatuh cinta, sebrutal-brutalnya kamu bertindak yang tidak masuk akal, cinta akan menemukan caranya sendiri untuk membuat dirimu dan seseorang itu bahagia. Bukannya malah saling menyulitkan. Cinta tidak akan pernah membuatmu merasa terjebak.

Jadi jika menurutmu hubungan yang sedang kamu jalani adalah ‘racun’, lepaskan segera. Jika sulit dan berat, atau malah kamu bilang “tidak segampang yang kamu bilang Suci,”, trust me, ada cara kok untuk buang racun. Yang kecanduan narkoba aja bisa sembuh.