Baking Poetry

You love cooking

As much as I love writing

Baking is your poetry

Your Whisk dance like a pen

Your tasting palate

Is where you keep the metaphor

It’s your journal

I would say

 

I only know the oven

As your one true friend

She never betrayed your expectation

The kitchen is your library

The ocean of imaginations

It warps time for you

As magical as writing table

Does to mine

 

I published my work

You sell yours

I did it all for happiness

But I don’t know about you

 

Is standing all day for one cake

Are the things that heal you?

Or is it because you have to?

Either way

You and all that

Is a poetic dedication after all

 

And that’s just one

Out of gazillion reasons

For how huge the measure

Of how much

I adore you, Ma!

 

(November, 10th 2022)

 

Tingkah Lucu Manusia

Kadang murung, kadang riang
Kadang senang, kasang gusar
Tak tertebak, bagai aksi panggung pesulap terkenal
Mudah muncul, mudah hilang

Dikasih ringan, ingin yang lebih berat
Dikasih berat, malah mengeluh dan menghujat
Dikasih mudah, bilangnya kurang menantang
Dikasih tantangan, malah memaki semesta dianggap tak berpihak

Lucu memang tingkah manusia
Tak bisa bersyukur secara konstan
Senangnya di awal, lalu basi termakan waktu
Layaknya sirop yang manisnya ditenggelamkan cairan es batu

“Rasanya pengen jadi pohon saja”, teriak remaja berumur 30 tahun di ibu kota
Di saat cicilan dan tagihan mulai menerjang rekening di akhir bulan
Serasa gaji dan bonus lenyap begitu saja

Tapi memang benar, menajdi pohon sepertinya lebih menyenangkan
Hanya berdiri dan tak perlu memikirkan perjodohan

Lucu memang tingkah manusia,
Semoga pohon tak pernah berharap menjadi salah satunya

Palai Rinuak

Ma

Buatkan aku palai rinuak dengan tanganmu

Yang daun pisangnya kau ambil dari rumpun semak di belakang rumah kita

Yang rawitnya kau petik sendiri di samping pintu dapurmu.

 

Ma

Temani aku menyuap cepat dan menelan lahap nasi panas dari tungku tanah liatmu

Tidak perlu tempe tahu, cukup palai rinuak buatan tanganmu.

 

Ma

Kemudian dengarkan celotehku sambil menghitung biji nasi yang bertumpahan dari mulutku

Jangan biarkan tercecer lebih banyak dari butiran air mata yang aku biarkan berserakan ketika menulis ini dan padamu aku benar-benar rindu.

 

 

Ditulis di Jakarta, Januari 2018

Karena Kita Tumbuh, Kita Berubah

Kita berevolusi. Kita berubah setiap hari, sekecil dan sesederhana apapun itu. Jika kemarin kita tanpa sengaja menginjak tokai guguk tetangga, maka hari ini kita memilih untuk menaruh langkah di bagian lain untuk menghindari insiden kotor ini, contoh sederhana dari ‘berubah’ itu sendiri. Perubahan terjadi karena kita belajar, perubahan terjadi karena kita ditempa, perubahan terjadi karena kita benar-benar berevolusi.

Hal yang sama berlaku pada the whole package of you. Mulai dari kebiasaan kecil, cara berpikir, cara berbicara, dan banyak detail lainnya. Akan ada banyak perubahan yang terjadi sadar tidak sadar, suka tidak suka. Semakin kita tumbuh, semakin kita berubah. Perlahan, kita mulai merasa tidak sedang berada di tempat seharusnya kita berada. Perlahan juga, kita mulai merasa tidak sesuai dengan orang-orang di sekitar. The hard truth, termasuk keluargamu.

 

Sounds rebel? I guess not.

Begini, esensi dasar dari sebuah bertumbuh adalah tentang perubahan dan acceptance masing-masing soal perubahan tersebut. Sayangnya, tidak semua pihak sanggup menerima dan menghargai perubahan yang terjadi, bahkan individu yang berubah itu sendiri. Alhasil, lebih dari setengah nama yang kita kenal tanpa rasa bersalah akan mengeluarkan kalimat-kalimat bernada judgemental atau memaksakan kita untuk tetap menjadi ‘kita’ yang mereka harapkan. Lebih sayang lagi, seringkali orang-orang yang tidak bisa menerima perubahan itu adalah orang tua dan keluarga sendiri.

Mungkin your siblings tidak bisa terima bahwa hari ini selera musikmu bukan lagi jenis lagu yang sama yang sering kamu dengar bersama-sama dulu. Mungkin ibumu tidak suka dengan caramu memperlakukan rambut cantik itu. Atau ayahmu tidak bisa terima bahwa hari ini kamu lebih senang menghabiskan lusinan menit dalam hari-harimu untuk duduk menyudut dan tenggelam dalam bacaan kesukaanmu. Lebih jauh lagi, kita mulai berpendapat tentang sesuatu yang sama sekali tidak sejalan dengan prinsip orang-orang terdekat yang somehow membuatmu merasa butuh untuk menjauh demi menghindari pergesekan.

Perubahan membuat banyak orang merasa tidak cukup atas dirinya bagi orang lain terutama bagi orang tuanya. Perubahan membuat seseorang merasa tidak diterima di lingkungannya. Perubahan benar-benar membawa efek samping dalam proses interaksinya sebagai makhluk sosial. Faktanya, tidak semua orang sanggup menghadapi respon orang lain terhadap perubahan yang ia alami.

Pada akhirnya, banyak yang menyerah dan melepaskan diri sendiri agar bisa fit to the society dan memenuhi harapan keluarga mereka. Bagus jika setelah melakukan hal tersebut kamu bahagia saja. Namun alangkah menyakitkannya jika pelan-pelan kamu kehilangan esensi self-love mu dan terjebak dalam lingkungan yang memaksamu untuk tidak menjadi diri sendiri. Hal sederhana mendadak akan menjadi sesuatu yang sangat rumit. Berbagai scary voices mulai berdatangan di sleepless night mu. Kamu mulai merasa tidak cukup untuk segala hal, merasa tidak cukup untuk semua orang.

 

Lantas?

Jika saja semua orang sanggup memahami bahwa kita punya hidup sendiri-sendiri yang akan dipertanggung jawabkan sendiri-sendiri. Jika saja semua orang mampu menghargai perubahan dan menerimanya sebagai bagian dari diri individu itu sendiri. Jika saja semua orang mengerti bahwa cara kita memilih bahagia tidak akan pernah sama. Maka semua tentu akan terasa lebih mudah. Hanya saja cara kerja hidup tidak seperti itu.

Satu-satunya jalan adalah mengalah atau disiasati dengan cerdas. Caranya? Nanti kita bahas lain kali.