Kau Dan Pergantian Musim
Aku merahasiakan musim hujan darimu
Sebab kau lebih suka bermain kering pada kemarau di tepian Gangga
Aku menyimpan musim semi untukmu
Sebab nanti kau pasti butuh untuk mampir ke taman bunga ini
Aku merahasiakan musim hujan darimu
Sebab kau lebih suka bermain kering pada kemarau di tepian Gangga
Aku menyimpan musim semi untukmu
Sebab nanti kau pasti butuh untuk mampir ke taman bunga ini
Bukittinggi masih dingin ketika pagi
Dan tanah Agam terlalu basah untuk disinggahi
Kala itu,
Usai bertumpah keluh ke atas
Ia turun dalam sepagi
Angin gunung Singgalang masih menggigil
Dan bumi Buya Hamka terlalu asing setiap hari
Waktu itu,
Setelah mengemis ke atas
Ia hinggap semasa satu terik matahari
Maka seperti hujan yang baru turun sekali dalam selusin hari
Dan awan gelap yang seolah hendak mebanjiri
Dan angin utara yang meniup kelopak kamboja setiap pagi
Dan riuh jalan Sudirman ketika remang datang
Dan langkah ramai di stasiun kereta
Dan kering debu yang menempel di ujung sepatu
Dan gelap sudut pasar yang ditinggal penjual kain
Dan rahasia bunga kuning di meja kerjanya
Aku menyimpan kasih yang belum bisa dibawa berjalan
Aku mengurung rindu yang belum bisa mengeja tiga kata
Aku membungkam jawaban yang berkali-kali ia tanya
Aku menimbun gelisah yang setiap hari ditambah-tambahnya
Aku melambungkan duga yang kian berbunga-bunga
Ah,
Waktu itu
Sebelum ini
Dan nanti setelah tidak lagi
Baru dilihatnya beda cerita yang disampaikan jemari ini
Sudah kuceritakan waktu itu
Ketika purnama berwarna biru
Kubilang bahwa perkara jatuh cinta, aku ini angkuh luar biasa
Kau miringkan kepalamu ke arah bahu kiriku
Katamu;
Seperti apa pula angkuhku itu
Kataku;
Cintaku selalu nomor satu