Pada Hal; Aku Hanya Masa Lalu

Padahal aku hanya masa lalu

Yang membiasakan diri lari dari bumi Andalas tanpamu

Padahal aku sengaja kau biarkan berlalu

Yang mungkin lupa aku selalu denganmu

Padahal angin Laut Jawa tidak membantu

Yang membiarkanku tetap rindu pada kabarmu

Padahal kau tidak mau aku tahu

Yang sama-sama menghirup udara Batavia denganmu semenjak Sabtu

Padahal bagimu

Aku hanya masa lalu

Gejolak Air Laut

Aku ini lelah beriuh-riuh ala air laut

Lelah menunggu gelombang yang ramai ini pecah di pinggir pantai

Bergejolak sepagi, keruh setelah setengah hari

 

Jembatan Muaro Panjalinan

Cerita tentang jembatan yang sama

Yang dibisikkan daun kering pada dahan yang membiarkannya berguguran

Dialog klasik antara gerimis dan awan yang menjatuhkannya

Kalimat rayuan yang diucapkan pengembara pada oase yang ditemuinya

Nyanyian yang disenandungkan angin pada pasir yang ditiupnya

Cerita tentang jembatan yang sama

Tempat berteduh banyak pejalan kaki

Tempat berhenti kapal-kapal yang pulang pagi

Cerita tentang jembatan yang sama

Yang lama tidak menunggu kakimu kembali

Jembatan yang mendengar dengan setia;

Keluhan rindu yang ditinggal pergi

Ulat Bulu

Kaki-kaki kecil menggelitik ujung ranting

Mencari makan dari daun-daun yang hampir kering

Ketika datang angin, kau berpindah pada dahan mahoni

Pikirmu dahan mereka lebih baik dari rantingku

Silahkan!

Hanya jangan kembali lalu bermetamorfosis di balik kelopak ranumku

Bukankah kakimu telah sepakat,

bahwa di atas ranting dan akarku

Tak boleh kau hinggap berlama-lama.