Baking Poetry

You love cooking

As much as I love writing

Baking is your poetry

Your Whisk dance like a pen

Your tasting palate

Is where you keep the metaphor

It’s your journal

I would say

 

I only know the oven

As your one true friend

She never betrayed your expectation

The kitchen is your library

The ocean of imaginations

It warps time for you

As magical as writing table

Does to mine

 

I published my work

You sell yours

I did it all for happiness

But I don’t know about you

 

Is standing all day for one cake

Are the things that heal you?

Or is it because you have to?

Either way

You and all that

Is a poetic dedication after all

 

And that’s just one

Out of gazillion reasons

For how huge the measure

Of how much

I adore you, Ma!

 

(November, 10th 2022)

 

Palai Rinuak

Ma

Buatkan aku palai rinuak dengan tanganmu

Yang daun pisangnya kau ambil dari rumpun semak di belakang rumah kita

Yang rawitnya kau petik sendiri di samping pintu dapurmu.

 

Ma

Temani aku menyuap cepat dan menelan lahap nasi panas dari tungku tanah liatmu

Tidak perlu tempe tahu, cukup palai rinuak buatan tanganmu.

 

Ma

Kemudian dengarkan celotehku sambil menghitung biji nasi yang bertumpahan dari mulutku

Jangan biarkan tercecer lebih banyak dari butiran air mata yang aku biarkan berserakan ketika menulis ini dan padamu aku benar-benar rindu.

 

 

Ditulis di Jakarta, Januari 2018

Ujung Daun Palem Yang Cemburu

Apa daya ujung daun palem yang disiram kuning matahari sore tadi

Ia cemburu

Pada gelakmu yang ringan dan tertiup nafas petang

Pada ujung bajumu yang lentik dan aroma yang lekat padanya

 

Apa daya rumput kering yang bersembunyi di bawah bangku panjang kemarin

Ia cemburu

Pada suaramu yang terdengar lantang hingga dalam

Pada bingung yang tidak tersimpulkan oleh kesendirian

 

Apa daya aku yang masih begitu malu untuk mengaku

Pada kakumu yang tidak lagi terlihat baru

Pada pintumu yang semakin lapang membiarkanku masuk tanpa harus mengetuk

 

Apa daya rahasia yang kusembunyikan sejak pertama kali mata kita beradu suatu pagi

Pada gejala baru yang didatangkannya sembari menyembuhkan sakit lama seorang Suci

Pada lengkung bibir rupawan yang semakin menjadi candu setiap hari

 

Pinjami Aku Selusin Menit Pada Pagimu

Aku ini benci laju waktu

Kau tidak

Aku ini benci pagi

Kau tidak

Aku ini makhluk malam

Kau tidak

Lalu jika kupinjam sedikit selusin menit pada pagimu

Sehatkah kita yang perlahan hanyut di dalamnya?