Kelana; Mesin Air Layan Diri | part. 2

Langit sedang sedikit mendung ketika aku menulis ini. Sejurnya dari pagi pun langit sudah seperti ini. Dan aku tidak sabar menunggu hujan turun padahal tadinya aku tidak suka dengan hujan. Tapi jenis ketidak sukaanku pada hujan bukan dengan hujannya, aku hanya tidak suka hujan ketika aku harus bepergian jadi hujan membuat langkahku sedikit terhambat. Sementara memperhatikan rintiknya dari dalam rumah, aku jelas suka sekali.

 

Dulu pertama kali aku menginjakkan kaki di Kuala Lumpur untuk berlibur, hal pertama yang aku perhatikan selain jalanan adalah hujannya yang terlihat begitu ‘mendalam’. Aku juga bingung harus menjelaskan kata ‘mendalam’ tadi seperti apa. Tapi yang jelas, setiap hujan turun di sini aku masih saja terkagum-kagum dengan langit dan segala hal di luar jendela yang mendadak terlihat putih seolah dipenuhi embun pagi. Belum lagi rintik rapatnya yang turun tergesa-gesa dan membuat jalanan terlihat semakin cantik. Ketika malam, pemandangan di luar jendela akan menjadi pemandangan favoritku karena pantulan lampu kendaraan dan lampu jalan memberi warna pada si aspal hitam sebab permukaan mereka sedang basah oleh genangan air hujan.

 

Bicara Soal Air

Bicara soal hujan tidak jauh dari pembahasan soal rintik dan rintik adalah wujud paling menarik dari elemen bernama air. Bicara soal air, pikiranku langsung mengarah pada pembahasan mengenai air minum. Dan membahas soal air minum, aku begitu takjub dengan akses air minum di sini.

Mungkin aku hanya terlalu norak atau tidak pernah melihat hal-hal seperti ini sebelumnya tapi yang aku tahu, ada banyak hal yang terkelola dan terencana dengan baik di sini. Tentang air minum ini contohnya.

Jika banyak orang sudah menggunakan water filter atau air keran yang langsung bisa di minum di rumahnya, aku dan housemate-ku lebih memilih untuk mengisi galon air minum kami di mesin drinking water yang berdiri apik di setiap sudut di sekitar kawasan perumahan. Selain dengan alasan berhemat, kami sengaja mengisi galon di mesin yang berada tidak jauh dari rumah dengan alasan biar setidaknya kami ‘bergerak’ sebagai pengganti olahraga.

 

water vending machine

 

Mesin Air Layan Diri

Alias water vending machine adalah mesin penyaring air yang dikeluarkan oleh produsen RO water filter dan dapat dimiliki oleh pihak swasta. Mesin-mesin ini kemudian ditempatkan di titik-titik yang dekat dengan kawasan perumahan.

Mesin air ini mengeluarkan air yang siap minum hanya dengan menggunakan uang koin dengan nilai 10-50 sen. Untuk satu galon dengan kapasitas 6 liter kita hanya perlu memasukkan koin dengan nilai 60 sen. Sementara harga rata-rata air minum dengan ukuran 6 liter  yang di jual di berbagai super market dan groceries store adalah RM 7-8. Bayangkan selisih harga yang bisa kita sisihkan dari hal se-mendasar air minum.

 

pencet sendiri, isi sendiri

 

Tidak jauh dari bangunan tempat aku tinggal ada satu mesin air yang terdekat dan menjadi langganan kami untuk mengisi ulang galon setiap 1-2 minggu sekali. Dengan posisi sumber air minum yang tidak terlalu jauh itu dan harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan air minum dengan kualitas yang sebagus itu maka tidak ada alasan lain untuk tidak memanfaatkan fasilitas semurah dan memudahkan ini.

Dari mesin air ini aku belajar bahwa ternyata ada cara tersirat untuk menghimpun uang koin yang kebanyakan menjadi uang yang terabaikan. Penggunaan mesin air setidaknya mendorong orang-orang untuk lebih menghargai keberadaan uang koin dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sepenting air minum.

Di samping itu, aku semakin paham, bahwa uang sebanyak apapun kalau dihabiskan dengan gaya hidup yang membutuhkan banyak biaya tidak akan terasa cukup. Jadi bisa dibayangkan betapa gaji yang berkisar di atas rata-rata akan terasa sangat besar jika dihabiskan dengan gaya hidup yang bergantung pada ‘mesin air layan diri’.

 

Sampai jumpa di Kelana part 3

 

 

Dialog Hujan, Kau dan Aku - Part II

Berapa kali kita harus bertemu nama baru kemudian jungkir balik berusaha baik-baik saja hingga akhirnya bertemu dengan sebuah hadir yang mempertegas bahwa kita benar ‘baik-baik saja’? Berapa kali kita harus mengalami patah hati dan kecewa hingga akhirnya paham bahwa semua sedang berjalan memang sebagaimana dan seharusnya semua itu berjalan?

 

Well, your name is not a new name. I’ve spelled each letters on your name pretty well quite a few times. Lalu, setelah semua perjalanan dan petualangan masing-masing, entah bagaimana suatu hari kau dan aku sama-sama memutuskan untuk bertemu lagi. Entah bagaimana.

Dan di saat pada akhirnya kita berhasil mengindra suara masing-masing setelah sekian lama, aku seolah sedang mencoba mengenal lagi sosok di balik nama unik yang mendadak soothe my feelings ini. Apparently, we were strangers back then. Or, kita hanya terlalu sibuk dengan tanjakan masing-masing hingga abai mengenali hadir masing-masing.

Siang ini, aku terburu-buru keluar kamar setelah memastikan rambutku tertata dengan baik, aromaku menguar dengan apik, dan kemeja biru tua ku membungkus kulit pucat yang dikurung berhari-hari di kamar ini dengan menarik. Kemudian setelah yakin bahwa aku memang sedang terlihat bagus, di tengah terik dan riuhnya jalanan ibu kota, kubiarkan matahari yang sedang berada tepat di atas kepala membuatku kembali berkeringat.

Kau tau, setiap akhir pekan di kota sesak ini jalanan tidak pernah terasa bersahabat. Meskipun jam pulang kantor masih jauh berjam-jam lagi. Maka jadilah aku duduk di belakang punggung ojek langganan sambil mengutuk macetnya rute ramai yang menghubungkan dua tempat ini sebab entah bagaimana, aku yakin aku tidak akan bisa datang tepat waktu di tempat yang sudah dijanjikan. Dan aku tidak suka jika harus membuatmu menunggu.

Selusin menit kemudian, dengan gugup tidak beralasan aku melangkah pelan meniti tangga sambil merapikan lagi kemejaku yang lecek akibat jalanan Jakarta. Benar. Gugup tidak beralasan yang semakin menjadi-jadi ketika kau terlihat menyudut di seat luar dengan rambut yang sedikit berkibar.

Seolah begitu ahli membaca ‘jalan’, aku mulai lancang menyimpulkan bahwa nanti setelah selesai kita bertukar cerita, aku tidak lagi akan pernah sama. Terlalu lancang hingga enggan melepasmu berlalu nanti karena aku tau, mulai detik ini waktu yang dihabiskan denganmu tidak akan pernah terasa cukup.

"Hai, apa kabar?" katamu sambil berdiri melihatku datang dan merentangkan tangan menyambut punggungku yang mendekat.

Hujan, banyak hari panjang yang akan aku lalui setelah ini sebab jelas, berdebar luar biasa aku ketika jantung kami berdekatan. Dan ini bukanlah sebuah kebetulan.

 

BACA PART I - DISINI

 

Dialog Hujan, Kau dan Aku

Rinai turun, lebih dari sekali dalam selusin jam ketika matahari sedang membasuh gelap dari ujung ke ujung langit. Bukan, bukan hanya sekedar rinai. Hujan. Yak. Hujan. Dan hujan tidak pernah akur denganku. Tidak pernah akur dengan situasi dan kebutuhanku.

Seringkali hujan turun ketika aku sedang butuh kemana-mana. Dan ketika aku sedang butuh hujan turun sebab aku sedang tidak ingin kemana-mana, berbulan-bulan hujan enggan membasahi tanah di sini.

Bagiku ada lusinan jenis perasaan yang datang ketika butiran halus yang membuat basah itu turun. Kadang hujan turun dan membuatku gelisah dengan berbagai bentuk bingung. Di lain waktu, hujan membuat atap seng terdengar begitu riuh dan memancing lusinan pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab sendiri. Namun apapun itu, hujan tidak terlalu terdengar menarik bagiku.

Hari ini ada yang berbeda dari butiran hujan yang kuperhatikan meluncur dari ujung atap genteng di sudut coffe shop mungil bernuansa rotan ini. Hari ini, hujan turun dan untuk pertama kalinya aku paham betapa rintiknya begitu apik. Betapa setiap percikannya yang usil menyentuh kulitku ini bisa mengirim pesan bahwa hujan, memang secantik itu.

Bicara soal hujan, entah bagaimana berbagai wise thoughts datang tiba-tiba hari ini di bawah warna mendung langit Bogor. Hanya saja kali ini semua pemikiran dan ide itu muncul dengan tema yang sama dan disebabkan oleh alasan yang sama; hujan sedang turun di saat bersamaan di dua tanah yang berseberangan sementara diantaranya ada dua anak manusia sedang saling berdebar mengenang kehadiran masing-masing.

Hujan, I’m in love.

I’m so in love.

Dan hujan, ini hanya sebuah prolog dari lusinan chapter yang ingin kujalani dengan tekun.