);

Rinai turun, lebih dari sekali dalam selusin jam ketika matahari sedang membasuh gelap dari ujung ke ujung langit. Bukan, bukan hanya sekedar rinai. Hujan. Yak. Hujan. Dan hujan tidak pernah akur denganku. Tidak pernah akur dengan situasi dan kebutuhanku.

Seringkali hujan turun ketika aku sedang butuh kemana-mana. Dan ketika aku sedang butuh hujan turun sebab aku sedang tidak ingin kemana-mana, berbulan-bulan hujan enggan membasahi tanah di sini.

Bagiku ada lusinan jenis perasaan yang datang ketika butiran halus yang membuat basah itu turun. Kadang hujan turun dan membuatku gelisah dengan berbagai bentuk bingung. Di lain waktu, hujan membuat atap seng terdengar begitu riuh dan memancing lusinan pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab sendiri. Namun apapun itu, hujan tidak terlalu terdengar menarik bagiku.

Hari ini ada yang berbeda dari butiran hujan yang kuperhatikan meluncur dari ujung atap genteng di sudut coffe shop mungil bernuansa rotan ini. Hari ini, hujan turun dan untuk pertama kalinya aku paham betapa rintiknya begitu apik. Betapa setiap percikannya yang usil menyentuh kulitku ini bisa mengirim pesan bahwa hujan, memang secantik itu.

Bicara soal hujan, entah bagaimana berbagai wise thoughts datang tiba-tiba hari ini di bawah warna mendung langit Bogor. Hanya saja kali ini semua pemikiran dan ide itu muncul dengan tema yang sama dan disebabkan oleh alasan yang sama; hujan sedang turun di saat bersamaan di dua tanah yang berseberangan sementara diantaranya ada dua anak manusia sedang saling berdebar mengenang kehadiran masing-masing.

Hujan, I’m in love.

I’m so in love.

Dan hujan, ini hanya sebuah prolog dari lusinan chapter yang ingin kujalani dengan tekun.