Ori, Sel Timur Ujung | Part. 1

Rambutnya masih tetap terlihat patuh, berjuntai menutupi leher hingga bahu. Hari ini tanpa jepitan hitam seukuran lidi daun kelapa, tanpa karet gelang bekas bungkus sarapan pagi mewah para napi; nasi uduk porsi irit dengan potongan tahu goreng dan sambal teri. Lingkar matanya tidak sehitam berbulan-bulan yang lalu. Pipinya sekarang lebih merona meskipun sisa bekas jerawat masih menghiasi wajah oval itu.  Ori mulai terlihat jauh lebih ‘Ori’ semenjak toko pernak-pernik handmade nya dibuka. Meskipun sekali dua atau tiga malam tidak jarang Uri mendengar isak kakaknya itu pecah di dalam kamarnya yang menyudut. Isak pilu yang membuatnya ikut merasa biru. Isak sepotong jantung yang masih belum sanggup mendalami ilmu ikhlas tentang cinta yang berpulang tiba-tiba.

Ori baru saja menghirup udara bebas setahun yang lalu setelah nyaris lima tahun hidup ‘dikandangi’ dan tidak ada cerita yang bisa diceritakan dengan mudah semenjak pertama polisi menjemputnya di rumah Angku setelah membongkar jok mobilnya yang menyimpan bungkusan sabu. Meskipun siang mengejutkan itu dilewati dengan senyum dingin di sudut bibirnya, Uri tetap paham bahwa banyak goresan berat yang sedang ditanggung kakaknya.

“Aku tidak mau lagi kau pulang ke rumah ini!” teriak Angku ke wajah Ori waktu itu. Sekali lagi, hanya senyum kaku dengan lengkungan dingin yang muncul di wajahnya.

Setahun pertama Ori hanya mau bertemu dengan Uri jika ada yang berkunjung. Wajahnya banyak berubah. Lebih tirus, pucat, kantung mata membesar, lingkar hitam yang semakin kental, bibir kering yang tidak lagi pernah terlihat melengkung dan rambut yang selalu diikat dengan karet gelang berwarna merah bekas bungkus nasi uduk. Uri selalu menangis setiap kali melihat kuku cantik kakaknya yang terlihat kusam dan tidak terawat sejak menjadi tahanan.

“Aku baik saja,” kata Ori setiap kali Uri terisak melihat kondisinya.

Awal tahun kedua menjadi tahanan di lapas khusus perempuan, Ori mulai menyibukan diri dengan rutinitas harian. Jika tidak sedang berminat jogging keliling lapangan, Ori pasti terlihat duduk menyudut di lapangan voli dengan buku lusuh di tangannya. Buku yang dipinjami Faron, sipir muda yang tidak pernah bersikap kasar padanya sedari awal. Ketika hari sedang hujan, Ori akan lebih banyak menghabiskan waktu di dapur membantu tim konsumsi mengupas bawang. Hingga suatu hari, Dara ditransfer dari lapas pulau seberang untuk menghabiskan sisa masa hukumannya di tempat Ori dan tiga ratus perempuan lainnya mendekam.

Dara terlihat ramah dengan mata riangnya. Dara selalu tersenyum selepas jadwal senam bersama di pagi hari dan merajut sepanjang hari. Sekali waktu Dara dengan benang dan gulungan selimut yang belum jadi menghampiri Ori yang duduk dengan buku Maya Angelou di tangannya.

“Tahun ke berapa?” tanya Dara tanpa permisi.

“Kedua,” jawab Ori dingin dengan mata tidak lepas dari halaman ke seratus lima belas.

“Sabu?” tanya Dara lagi. Ori mengangguk.

“Aku tujuh tahun lagi.” Dara mulai menyambung benang dengan ujung benang lainnya kemudian mulai menyambung rajutan selimut dengan warna olive green-nya. “Married?” tanya Dara lagi. Ori menggeleng.

“Belum,” jawabnya masih dengan wajah cuek dan sangat merasa terganggu dengan kehadiran Dara yang banyak tanya. Belum dan bukan urusanmu, sengit Ori membatin.  

“Namaku Dara,” ucap Dara tanpa merasa perlu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Ori,” sahut Ori dingin.

Keduanya kemudian saling diam dan sibuk dengan benda di tangan masing-masing. sesekali Ori melirik selimut setengah jadi yang sedang dirajut Dara. Rapi, pikirnya. Sesekali juga, Dara mengintip halaman yang sedang dibaca Ori kemudian manggut-manggut sambil berdecak mencoba mengingat sesuatu.

“Hoping for the best, prepared for the worst, and unsurprised by anything in between,” ucap Dara pelan. Ori menoleh, memandang wajah Dara yang dibedaki bedak tabur.

“Sorry?” tanya Ori.

“Maya Angelou.” Dara menjawab lalu melipat selimut yang sedang ditekuni nya dan memandang buku di tangan Ori. “I know Why The Caged Bird Sings. Aku baca ini pas kuliah,” tambahnya.

Ori melipat ujung halaman 116 dan menutup bukunya.

“Lalu?” tanya Ori dengan nada dingin.

“First, aku memang baca bukunya. And I like it. Kedua, ini caraku membuka pembicaraan denganmu. Menurutku banyak orang pakai cara seperti ini untuk memulai pembicaraan dengan orang asing yang menurutnya menarik,” jelas Dara sambil tersenyum.

Tanpa dipinta pipi Ori yang selalu terlihat pucat terasa ‘berdarah’. Hangat. Namun mulutnya terkunci untuk merespon kalimat tidak terduga yang didengarnya siang ini.

“Kamarku di ujung lorong timur. Hanum dan satu sipir sering duduk di sana menunggu aku selesai membuatkan mereka sweater atau selimut untuk kucingnya. Mampir kapan-kapan,” tambah Dara sambil berdiri dan meninggalkan Ori yang masih terdiam. Alih-alih kembali membuka Maya Angelou-nya, Ori justru memperhatikan punggung Dara hingga hilang di balik pagar kawat yang ditunggui dua sipir perempuan dengan wajah kasar.

 

“Kak!” Uri setengah berteriak memanggil Ori yang mematung di depan gantungan tas rajutan.

“Ya.” Ori buru-buru menghapus genangan air yang menjuntai di ujung matanya.

“Ada yang datang.” Uri membukakan pintu mempersilahkan seseorang masuk ke toko pernak-pernik kakaknya.

“Ori,” panggil perempuan dengan rambut sebahu dan toned arms yang menawan. Ori tersentak dan berjalan cepat mendekat.

“Faron,” sapanya sambil memeluk erat tubuh ideal sipir kesayangannya selama menjadi tahanan. “I miss you,” bisiknya di balik bahu Faron yang menepuk-nepuk pundak Ori pelan sambil menahan genangan air mata.

“Kau lebih berisi dan sehat,” puji Faron setelah melepas pelukan dan memandang Ori lama. Ori mengangguk sambil mengusap pipi dengan sisa air matanya. “Lapas terasa berbeda sejak kamu keluar Ri,” tambah Faron lalu duduk di sebelah Uri yang baru saja masuk menaruh tiga cangkir dan satu teko berisi teh tanpa gula.

“Hidupku juga jauh berbeda sejak keluar,” sahut Ori dengan mata berlinang.

“Sudah lah. Sekarang kau sedang menjalani hidup barumu. Yang di belakang biarkan di belakang.” Faron menyesap teh yang dituang Uri. “Aku bawa sesuatu untukmu.” Faron mengaduk isi tasnya sebelum mengeluarkan sebuah buku tulis yang terlihat keriting dan menyodorkannya pada Ori.

“Apa ini?” tanya Ori dengan perasaan tidak karuan.

“Isi sel Dara yang ditahan untuk barang bukti sudah dikembalikan. Aku ambil ini karena menurutku kau butuh sesuatu seperti ini,” jawab Faron berusaha tenang. “Baca setelah kau kuat untuk benar-benar merelakan ya,” tambahnya lalu berdiri dan memeluk Ori singkat.

1.30 | eps.2

Beberapa hari berlalu, aku yang pengecut hanya memandang Della dari jauh. Semenjak hari itu aku sering berpapasan dengannya, dan kami hanya saling senyum tanpa tegur sapa. Bon Cabe yang terasa manis itu kini semakin menunjukan pedasnya. Sepertinya aku bukan orang yang tepat untuknya, untuk apa aku mencoba?

“Hey Rel, sendiri aja?” Tiba-tiba kau mengejutkan lamunanku. Paras ayu, bibir mungil dengan senyum mempesona itu tiba-tiba menaruh piring makan siangnya di depanku.

“Eh Del, kok tumben enggak gabung sama mereka?” tanyaku mencoba biasa saja sambil melirik ke arah meja tempat Syahrul duduk bersama teman-temannya.

“Iya, lagi penuh di sana terus aku ngalah aja. Enggak apa-apa kan aku di sini?” tanyanya sambil duduk persis di depanku.

“Iya enggak apa-apa.” Jawabku singkat dan kembali menyuapi diriku sendiri dengan gado-gado tambah telur dadar ala Ibu Minah.

Kami berbincang, dia yang memulai. Dia bertanya apa aku punya akun kosong di Netflix dan kebetulan aku memang sedang mencari seseorang untuk join akunku yang kosong satu. Kami banyak bercerita tentang film-film favorit kita. Tidak sama memang, dia lebih suka film-film aksi atau biografi, sedangkan aku lebih suka drama keluarga atau fiksi. Namun, ada satu hal yang membuat pikiran kita sejalan, kita sama-sama membenci genre romance-comedy.

Kami tertawa terbahak-bahak sampai aku kadang sadar beberapa pegawai lain memperhatikan. Kami bercerita bagaimana kami bisa saja tertidur di bioskop karena film rom-com yang pasangan kami minta untuk tonton. Bagaimana kami belum pernah selesai menonton film Titanic atau Ada Apa Dengan Cinta karena tertidur sebelum pertengahan dan akhirnya menyerah. Seakan semesta memberi restunya, kami semakin dekat dan mulai terbuka tentang satu sama lain di 40 menit ini.

Sayang 2.30 sudah datang, kami harus segera bergegas pergi ke meja kerja masing-masing.

“Eh Rel, minta nomor lu dong. Nanti sekalian kirimin email sama password dan nomor rekening ya?” Kuberikan nomorku sambil gemetar. Dia melihatnya kurasa. Getaran gugup itu.

Di meja kerja aku masih terlalu gugup. Tak mengganggu kerjaku, malah lebih membuatku produktif hari itu. Aku menyelesaikan targetku secepat mungkin untuk bersantai di jam-jam sebelum sebelum pulang.

“Eh kok bengong mulu lu? Enggak mau siap-siap pulang?” Buya, teman sebelahku menyadarkan lamunanku.

“Oh iya, yuk.” Jawabku singkat.

“Lu lagi kenapa dah? Betewe lu jadi ikut acara lari bareng enggak di GBK?” tanya Buya sambil membereskan mejanya.

“Iya jadi.” Jawabku tanpa merubah pandanganku dari meja kerja.

“Oke, gue tunggu di bawah ya. Nanti kita berangkat bareng yang lain juga.” Aku menoleh ke arahnya, tersenyum dan mengangguk setuju.

Kami berangkat menggunakan mobil Buya. Sesampainya di GBK, kami langsung pergi ke arah tengah untuk bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku terkejut karena di sana ternyata ada Syarul, Della dan lain-lain. Aku gugup tapi senang, aku senang tapi gugup. Entah apa yang sedang mengusikku. Cintakah, atau hanya obsesi semata?

Aku tersenyum ke arah teman-teman yang sudah mulai berkumpul dan melakukan peregangan. Kami berlari tak lama kemudian. Aku mencoba menyeimbangkan lariku dengan Della sehingga kita sejajar. Dia sadar dan mulai menurunkan satu airpods miliknya.

“Mau barengan?” dia menyodorkan airpods-nya kepadaku.

“Boleh,” jawabku.

Kami pun dia dalam belaian lagu sambil berlari kecil mengejar peluh.

Semesta, apa yang sedang kau coba sampaikan? Manusia dengan paras ayu, bibir mungil dan senyum mempesona inikah yang harus aku puja? Atau obsesi ini harus aku kubur dengan alasan berbakti kepada orang tua? Semesta, semoga cepat kau sampaikan jawabmu pada waktu

1.30 | eps.1

 

“Arel mau istirahat jam berapa?” tanya kak Intan, team lead-ku hari itu. 

“Bebas kak.” aku menjawab singkat. 

“1.30 ya?” tanya dia balik dan langsung kuserang dengan jawaban “Oke komandan” seperti biasa. Bekerja sebagai Customer Service membuatku tak begitu memikirkan waktu istirahat. Akan sama saja pikirku, kita harus istirahat sendiri-sendiri. Pola kerja yang membutuhkan kehadiran manusia 24/7 membuat antara aku dan teman-temanku harus beristirahat bergantian. Aku yang tak pandai mencari kawan sudah terbiasa dengan makan siang di kantin basement kantor seorang diri atau bersama tim lain yang tak begitu aku kenal. Tapi siapa sangka, makan siang hari ini bisa menjadi berbeda. 

Aku yang terbiasa dengan rutinitas akan memilih meja yang sama, agak pojok dekat jendela. Sebagai penikmat makanan, biasanya aku akan berkomentar atau mencaci maki makanan yang aku pesan karena ada saja hal yang kurang. Entah itu garam, kematangan, atau hal lainnya. Padahal aku juga tak begitu mengerti soal masakan. Dan sebagai laki-laki, hari ini makanan bukan lagi menjadi sorotan utamaku. Di ujung sana ada seorang wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna. “Ya Tuhan, ada apa ini?” bisikku dalam hati. Aku tak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Masih ada adik-adik yang butuh dana sekolah untuk dipikirkan, bukan lirikan manis, tangan mungil, kulit bersih dan rambut menawan di hadapanku itu. Bukan. Aku mencoba berpaling, aku harus kuat. Kupercepat makanku, kualihkan pandanganku semoga gangguan semacam ini cepat berakhir. 

“Hey Rel, udah beres istirahat lo?” Sial, ada Syahrul yang tiba-tiba menyapaku di situasi genting seperti ini. “Iya.” aku jawab sambil mengangguk dan senyum singkat. 

“Eh sini dulu, kenalin ini anak baru namanya Della.” Si wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna itu mengangguk. Jelas langsung kubalas anggukan itu dengan anggukan lainnya dan senyuman, yang kaku. 

“Duluan ya.” tanpa basa basi kulambaikan tanganku dan bergegas pergi. 

Tak biasanya aku seperti ini. Kejadian tadi membuatku terbayang-bayang. Tuhan, aku tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Bukan aku namanya jika tak bisa berpikir dengan logika. Mungkin ini hanya rasa kagum semata akan paras wajahnya, tak lebih dari itu.

Baca Juga:

The Coffee of Your Name

Dialog Hujan, Kau dan Aku

 

Setelah tidur terlalu larut, aku terkejut saat bangun dan melihat jam sudah pukul tujuh. Tak biasanya aku terlambat. Tak biasanya juga aku terjaga terlalu larut hanya untuk menatap langit-langit kosan.

“Rel hari ini istirahat jam 12.30 ya!” terdengar suara kak Intan dari meja seberang. “Besok jangan terlambat lagi!” tambahnya. 

“Siap komandan!” jawabku singkat. 

Selang sepuluh menit sebelum istirahat aku langsung terbayang nasi goreng tongseng kambing. Nasi yang digoreng dengan bumbu tongseng dan daging kambing sih bakal luar biasa. Toh di luar cuaca lagi agak mendung, makan yang beginian apalagi kalau pedes pasti enak sih. Ngebayanginnya saja sudah membuat air liurku mengalir deras, jadi tak sabar. 

“Bu, nasi goreng tongseng kambing pedas satu ya.” Langsung kupesan nasi goreng itu tanpa basa-basi. Begitu jam istirahat dimulai aku langsung ke bawah dan cari spot di ujung dekat jendela. Saat ingin menyantap nasi gorengku, dia datang. 

“Eh Arel kan? Hmm.. baru istirahat ya?” tanya dia agak malu. 

“Iya, kenapa ya Del?” jawabku mencoba bersikap biasa.

“Boleh nitip ini gak? Tadi gak sengaja gue bawa pas mau pesen tongseng. Gue istirahat selalu jam 1.30 tapi kalau jam segitu biasanya tongsengnya abis. Jadi gue pesen duluan izinnya ke toilet dan kayaknya kalau gue ke loker naro ini lagi bakal jadi lama banget deh.” agak ragu dia menjelaskan sekalian menyodorkan Bon Cabe kepadaku. 

“Iya boleh.” jawabku singkat, kaku. 

“Thank you! Nanti gue ambil jam setengah satu ya, lu kalau mau pakai boleh pakai aja ya!” dengan paras ayu, bibir mungil, dan senyum sempurna dia pergi terburu-buru ke arah pintu. Kupandangi Bon Cabe miliknya sambil berpikir, ada kesamaan yang kutemukan antara aku dan Della. Kami sama-sama penikmat tongseng dan pedas. Sambil menahan bahagia aku menikmati makan siangku.

Satu jam ini terasa nikmat namun tak juga berasa sebentar. Aku kerap bertanya, “kok Della enggak datang-datang untuk ambil Bon Cabe dia? Ini sudah 1.30 loh!” aku agak kesal setelah melihat jam di tangan sebelah kiriku. Atau sedikit kesal karena aku belum juga melihat wajahnya.

“Eh sorry ya telat, udah Bon Cabenya?” terengah-engah dia masih saja tersenyum. 

“Udah, makasih ya.” kesalku runtuh. “Ya Tuhan, aku kenapa?” bisikku dalam hati. 

“Lah gue lah yang terima kasih. Yaudah, gue makan dulu. Lu semangat kerja lagi ya.” dia pun kembali ke mejanya persis seperti kemarin dan persis bersama Syahrul. 

“Eh Rel, lu masih di sini?” Tiba-tiba Syahrul mengingatkanku akan waktu yang kubuang berjalan lambat sambil senyum-senyum sendiri ini. “Mampus udah 1.40 gue telat!” 

Kembali kejadian itu terbayang-nayang, kembali sampai larut malam aku baru dapat terpejam. Tuhan, jika rasa cinta dapat mengalahkan amarah, apakah Della yang kubutuhkan? Hanya butuh satu tatapan untuknya menghilangkan keluhku tentang makanan, hanya butuh satu permintaan maaf untuknya menghilangkan kesalku yang kadang tak beraturan. Jika senyuman adalah obat termanjur dari segala obat, aku yakin senyumnyalah obat termanjur untuk segala penyakit hatiku.  

 

Baca juga:

Like Never Before #loveletterseries

The Click, Alasan Kenapa Kamu Jatuh Cint

 

Walau semalam terasa juga lebih panjang dari biasanya, aku bersyukur aku tidak harus terlambat ke kantor. 

“Arel, istirahat lu jam 12.30 ya hari ini!” seperti biasa, setengah teriak Kak Intan dari meja seberang sesaat setelah aku duduk di meja kerjaku.

“Enggak mau kak! Aku mau jam 1.30 aja!” hampir berteriak aku menjawab sampai seluruh tim melirikku terheran-heran. Aku tersenyum.

 

Sebelum Kedatangan Gerbera - Part 3

Kata orang, waktu berjalan seringkali tidak sesuai dengan keinginan. Mungkin itu sebabnya Jessie tidak pernah suka dengan jam tangan dan benda-benda lainnya yang menunjukkan laju waktu. Ia tidak suka jika harus diingatkan bahwa semakin hari, waktu semakin berjalan, dan jika tidak bergerak, ia akan tertinggal. Dimakan masa.

Berbulan-bulan lamanya Jessie seolah menyerah dengan waktu, tuntutan sosial, dan moral-moral lainnya yang harus ia kejar. Sementara jiwa yang terbungkus dalam kulitnya adalah sosok pemalas yang tidak suka dengan keterburu-buruan. Jessie benci dengan laju waktu.

Tampaknya yang tau persoalan ini hanya ia sendiri. Sebab tidak seorangpun yang berhenti mendesaknya untuk sesuatu. Dulu, Jessie didesak untuk menyelesaikan pendidikan dengan segera. Setelahnya, ia dipaksa untuk mendapatkan pekerjaan yang bahkan ia tidak suka. Sekarang Jessie dipaksa untuk menjalani hidupnya sebagai orang dewasa. Padahal ia masih terjebak di quadran kedua. Quadran dimana ia masih dikelilingi teman-teman, dimana yang menjadi tujuan hanya gelar sarjana, dimana keputusan bukan ada di tangannya. Jessie seolah menolak untuk berpindah quadran dalam lingkaran hidupnya.

Bertemu dengan Arlin, Jessie baru belajar bahwa tidak selamanya ia bisa bergulung selimut hangat di tempurung nyamannya. Mau tidak mau dan suka tidak suka, semua orang harus bergerak mengikuti laju waktu. Dan ketika itu terjadi, Arlin benar-benar memaksa Jessie untuk peduli dengan putaran jarum jam.

“Cuma orang lemah dan mudah menyerah Jes yang tidak mau tau dengan waktu,” katanya sambil mengetik sesuatu di laptopnya waktu itu. Jessie hanya diam. Ikut memperhatikan yang dikerjakan Arlin.

“Aku tidak pernah suka dengan jam tangan,” kata Jessie.

“I know. That’s why I put one on your bag. Check it out.” Arlin mengalihkan pandangannya ke Jessie sambil tersenyum.

Jessie beringsut mendekati ransel buluknya. Mengambil kotak kecil yang terbungkus kertas kardus tipis. Sebuah arloji dengan strap kulit berwarna coklat.

“Do you like it?” Arlin mendekat.

“I like the watch, not the time,” jawabnya. Arlin hanya menggeleng.

Jessie memakai jam tangan dengan diameter kebesaran untuk tangannya yang mungil itu.

“Do you like it?” Jessie menanyakan pertanyaan yang sama sambil menyodorkan tangan kanannya pada Arlin.

“Of course I like it.” Arlin tersenyum dan menepuk bahu Jessie. Keduanya tertegun lalu kembali terdiam.

Jika mengingat hari itu, Jessie hanya bisa tersenyum sendiri sambil membayangkan jika saja untuk mengatakan perasaannya pada Arlin bisa sedikit lebih mudah. Tidak serumit dan sesulit ini. Sementara Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, Arlin juga sedang begitu bimbang tentang hal yang sama. Dibukanya folder foto di handphonenya. Membolak balik album yang menyimpan banyak wajah Jessie. Ingin rasanya ia memperjelas yang sedang dirasakannya ini. Setidaknya untuk dirinya sendiri. Namun ada hal yang lebih penting untuk ia hadapi. Bukan sekedar tentang hasrat. Bagi seorang Arlin, memikirkan perjuangannya lebih penting. Perjuangan yang selalu disebut-sebutnya sebagai perjalanan yang masih panjang.

“Arlin.” Suara Jessie terdengar memanggilnya dari balik pintu. Arlin terdiam. Mengkhayal jika saja ia boleh langsung memeluk Jessie ketika pintu itu dibukanya nanti. Hanya saja sekali lagi akalnya lebih kuat dibandingkan “rasa” yang masih remaja itu.

“Kenapa?” tanyanya dengan suara selembut biasa.

“Ada yang datang,” jawab Jessie lalu berlalu.

Arlin keluar kamar dan menuruni anak tangga. Entah bagaimana tiba-tiba kakinya terhenti melangkah ketika melihat Harun berdiri tepat di depan anak tangga terakhir sambil menatapnya dan tersenyum.

“Arlin,” sapanya pelan.

Arlin terpaku. Memandang Jessie yang berlalu ke dapur dengan wajah yang mengisyaratkan “I know a thing and I don’t want to be here when you two talk” atau yang biasa disimpulkan para remaja dengan wajah cemburu.

Jembatan Muaro Panjalinan

Cerita tentang jembatan yang sama

Yang dibisikkan daun kering pada dahan yang membiarkannya berguguran

Dialog klasik antara gerimis dan awan yang menjatuhkannya

Kalimat rayuan yang diucapkan pengembara pada oase yang ditemuinya

Nyanyian yang disenandungkan angin pada pasir yang ditiupnya

Cerita tentang jembatan yang sama

Tempat berteduh banyak pejalan kaki

Tempat berhenti kapal-kapal yang pulang pagi

Cerita tentang jembatan yang sama

Yang lama tidak menunggu kakimu kembali

Jembatan yang mendengar dengan setia;

Keluhan rindu yang ditinggal pergi

Submergence Movie (2017); Katanya Love Has No Limits

Tentang Submergence

Diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh J.M. Ledgard, Submergence bercerita tentang kisah cinta antara seorang ahli matematika yang mengkaji kehidupan di kedalaman tergelap samudera dengan seorang mata-mata yang akan menjalani misi berbahaya di Somalia.

Keduanya jatuh cinta dalam waktu singkat, bertukar kasih sayang, hasrat dan dialog tentang kehidupan dalam waktu yang singkat juga. Bertemu di sebuah hotel, Dani sang profesor (Alicia Vikander) dan James (McAvoy) seolah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Mengawali kisah mereka dengan makan siang yang berisi percakapan tentang laut, James dan Dani saling tenggelam dalam kepribadian masing-masing dan menjadi begitu dekat dalam waktu beberapa hari. Bertukar hasrat dan pendapat hingga akhirnya James harus pergi untuk melaksanakan tugasnya, begitupun Dani.

Dari awal hingga akhir film berdurasi 172 menit ini, cerita disampaikan dengan pelan. Tidak ada klimaks yang membuat tegang namun cukup menghanyutkan. Menunggu apa yang akan terjadi di menit berikutnya dengan santai sambil menikmati kisah cinta si profesor dengan James More.

Dialog dalam film ini berhasil membuat saya berpikir dan bertanya beberapa hal tentang kehidupan. Tidak berat namun cukup “berisi” untuk sebuah film drama yang mengikut sertakan pembahasan mengenai terorisme, Islam, dan kemanusiaan. Submergence seolah merampungkan berbagai genre menjadi satu film. Drama kisah cinta untuk hubungan dua orang dengan pekerjaan berbahaya. Spy thriller untuk sensasi suram ketika James ditawan jihadis. Underwater adventure untuk pekerjaan Dani di bawah laut, terosisme, bahkan perubahan suhu.

Untuk sebuah kisah cinta, Submergence berhasil membuatnya “terasa” melihat bagaimana Dani yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hanyut oleh daya tarik James. Bahkan nyaris di sepanjang film berlangsung, Dani yang memiliki peran penting dalam penyelaman berbahaya tersebut justru lebih fokus menunggu panggilan atau text dari Jamesnya yang hilang.

Benarkah Love Has No Limits?

Jika dilihat dari kisah cinta Dani dan James dalam film ini, tentu tag line mereka itu tidak terasa. Sama sekali tidak ada adegan atau dialog yang menggambarkan “love has no limits” itu. Dani yang rindu dengan kekasihnya hanya kehilangan fokus pada pekerjaan karena menunggu kontak dari James. Sementara James yang ditawan hanya bisa berbicara sendiri tentang Dani namun tidak ada "power" yang terasa untuk menggambarkan tagline film ini.

Lalu ending seperti apa yang sanggup menggambarkan “love has no limits itu”?  Entahlah. Mungkin jika di dasar laut sana Dani mendengar suara James lalu tiba-tiba kapal selamnya muncul di perairan Somalia atau jika James yan sedang ditawan itu berani melakukan perlawanan lalu kabur dengan kapal milik jihadis untuk menunggu Dani kembali kepermukaan di titik selamnya. Kisah cinta Dani dan James cukup manis namun tidak cukup kuat untuk dirasakan oleh penonton yang mengharapkan lebih dengan tagline “Love Has No Limits” mereka.

Recomended Atau Tidak?

Untuk dinikmati malam hari sambil menunggu kantuk, film ini recomended untuk dinikmati sendiri atau bersama pasangan, teman-teman. Saya sendiri tidak pernah melewatkan film-film yang melibatkan McAvoy karena yakin dengan kualitas actingnya.

Meskipun story Submergence dan karakter tokoh utama yang kurang kuat, McAvoy tidak pernah gagal memainkan perannya sebagai karakter spesifik dengan ciri khas tersendiri. Begitu juga dengan Alicia Vikander yang berhasil membangun chemistry dengan McAvoy untuk kisah cinta singkat mereka.

Adegan ranjang yang sedikit namun intens dan emosional akan membuat penonton menikmati sensasi jatuh cinta yang disampaikan kedua tokoh utama ini. Belum lagi air mata berlinang-linang McAvoy dalam beberapa scene yang memperlihatkan karakter mata-mata yang sedang diperankannya adalah sosok emosional dengan perasaan sensitif.

Secara kisah mungkin akan dianggap kosong oleh sebagian besar penonton. Alur yang datar seolah “memubazirkan aktor sekelas McAvoy” dalam film ini. Terlebih dengan ending yang agak membingungkan (meskipun hanya ada dua kemungkinan); mereka bertemu lagi atau Mr. More tewas di tempat ia ditawan.

Namun secara eksekusi, sinematografi, dan casting, dua jempol untuk Submergence ini. Saya menikmati menyimak cerita dari awal hingga selesai walaupun sedikit kecewa karena tidak sesuai ekspektasi saya sewaktu melihat trailer.