In a perfect world, the door she just slammed wouldn’t wake her brother from his sleep. The house would be hers, and she wouldn’t be having an upstairs neighbor that let their seven-year-old kid run around giving the ceiling those loud thumps at 11 p.m. on a Sunday night. But this wasn’t it. Not a perfect world, nor was it the one where she imagined a wise female empress ruling the system. This is the one where she had to walk home really paying attention to where she put her steps because she wouldn’t want to be stepping on a dog’s turd. Real story. This is the world where she only took short breaths, afraid of catching the familiar scent in the city, the pungent ammonia smell in every corner.
Jenna pulled her hands from the red face. It was obvious that anger had formed as a shade of magenta on her cheeks. “I’m sorry,” she let out a sigh along with the apology.
“What happened?” Heru dragged a chair on their IKEA dining set.
“I’m the one who should be asking the question,” she took a seat in front of her brother. Heru scratched his chin.
“I broke Tedi’s hand.”
“That part, I heard. Why?”
“He said you’re a bitch.”
Jenna scoffed. Laughed. And coughed. “Excuse me?”
“A bitch, Jenna. He said you’re a bitch?”
She grabbed a mug with I Heart Bali and sipped the coffee she left from the morning. “Well, I am. For many reasons,” Jenna let out another snort out of her mouth. The coffee she hadn’t fully swallowed spilled. “Oh, for God’s sake!”
“Come on. Be an adult for once,” Heru studied his sister’s face. “Why?”
“Why what?”
“Why didn’t you show her the mirror? You’re not following the deal.”
Jenna dipped her finger inside the cold coffee. She put the finger on her mouth and tutted.
“But what is Tedi’s problem with that?”
“Because you didn’t show the mirror to that human, Tedi’s sister has to work hard on fanning the other human. It was so hard for his sister to keep that human sane the whole time. And you, failing to open that other human’s eyes makes it harder for Tedi’s sister. Okay?”
She raised her chair and walked to the human-sized mirror in their entryway. Her eyes traced the outline of her own shape. Her horns grew taller these days. Jenna tossed a look at Heru.
“You know why I let my human be blind to her own image?” Heru shook his head. “Alyssa’s human was the mirror, you know? If the confession she made doesn’t make my human see it, then she’s just that kind. Alright?”
“What kind?”
Jenna walked back to the dining table. She scanned her brother’s back. The wing had already shown.
“The kind that makes other humans have a bad feeling just by the idea of having an immediate proximity with her. The kind that makes other humans cry on their way home. The kind that makes other humans pray so that their loved ones wouldn’t have to face the same situation she caused. The kind that humans are being taught so that they can prevent themselves from turning into that version. The kind that they just have to accept that they are, existing. Maybe so that others can learn. Or compare. Or, I don’t know, talk about it and feel better about themselves?”
“Yeah, what kind is that?”
She sat in front of her brother and nudged his chin. She stared deep into his eyes and let her raven-colored teeth peek from behind her lips.
“The kind that I call my achievement.”
RIAK-RIAK MESIN TENUN
Dua atau tiga kali dalam setahun, aroma belerang yang mengendap di dasar danau Maninjau menguar. Jutaan ikan yang dibesarkan dalam karambaoleh ratusan pengusaha ikan nila akan mati dalam satu atau dua minggu. Sudah menjadi kebiasaan bagi pemilik karamba untuk menjadikan danau sebagai tempat pembuangan bangkai ikan-ikan gagal panen mereka. Bercampurlah aroma belerang, ikan nila pucat yang menggembung, dan segala hal membusuk yang dibuang ke tengah danau ini. Familiar bagi orang-orang yang memilih untuk tetap menghuni rumah peninggalan leluhur mereka di pinggir danau. Mengganggu bagi orang-orang yang bertahan hidup was-was berdampingan dengan lereng bukit-bukit yang terbiasa longsor.
Rani, dibandingkan dengan siapapun percaya bahwa hidungnya lebih akrab dengan aroma belerang dan bangkai ikan yang menepi itu. Sambil tetap menikmati teh racikannya di beranda belakang setiap pagi dan menjelang maghrib, Rani tidak peduli jika ada ratusan orang yang nyaris muntah menghirup aroma musiman di sekeliling danau Maninjau itu. Baginya, bau busuk ini hanya identitas di kampung halaman tempat ibunya lahir, tumbuh, menjalani kehidupan dan menua sebelum kembali menjadi tanah.
Rani hidup di rumah kayu bersama saudaranya. Rumah berumur seratus tahun dengan beranda yang setengahnya menjorok ke arah danau. Rani punya kebiasaan menghabiskan tiga puluh menit setiap pagi dan sore untuk menikmati teh sambil merapikan benang-benang tenunan dan menghitung jumlah karamba yang terlihat dari berandanya.
Rani tidak terlalu suka dengan jumlah karamba yang mengapung di permukaan danau Maninjau ini. Mungkin satu-satunya keturunan Angku Laweh, kakeknya, salah satu dari pelopor budidaya ikan nila dalam jala apung yang tidak ikut serta memanfaatkan danau untuk mencari nafkah. Karenanya, Rani sering menjadi bahan olok-olok orang kampung karena mengasingkan diri dari kegiatan ekonomi nomor satu di sekitar danau Maninjau itu.Rani sering dicibir oleh tetangga dan sepupu-sepupunya karena lebih memilih untuk hidup pas-pasan dengan penghasilan kecil yang didapatkan dari menjual songket.
Songket karya Rani memiliki corak unik yang penuh dengan pola-pola yang bercerita. Tidak ada orang di kampungnya yang terlalu paham pekerjaan Rani. Bagi mereka Rani hanya tukang tenun songket yang hidup dari santunan dua kakak pengusaha karambanya.
Sore ini, seperti biasa Rani duduk di beranda. Menghirup teh sambil menyusun benang dan memilih warna yang akan dipakainya untuk songket selanjutnya dan sesekali memandang jauh ke seberang danau memperhatikan sisa matahari bersembunyi di balik bukit. Namun riak danau petang ini terasa berbeda. Suara rangkulan air yang menepuk ujung tangga beranda terdengar lebih pelan namun dalam. Terasa dekat tapi seolah jauh. Rani beranjak dari kursi rotannya dan mendekati tangga, memperhatikan permukaan air yang terlihat semakin tenang seiring dengan silau petang yang semakin hilang dan redup. Perlahan semua suara menjadi seirama dan gumaman halus bersiul dari arah danau.
Rani terkesiap. Sambil memejamkan mata Rani kembali mendekat ke arah danau dan duduk di ujung tangga. Suara merdu itu kembali mendengung. Mengalun dari kedalaman danau. Menggetarkan ujung-ujung rambut halus di kulit Rani dan membuat hembusan angin terasa ratusan kali lebih dingin. Terhipnotis. Rani semakin membenamkan kakinya ke dalam air dan melangkah turun ke anak tangga yang lebih rendah. Alunan suara dari jauh itu semakin berirama. Memanggil. Seketika adzan magrib berkumandang. Rani tersentak membuka mata dan meninggalkan beranda. Menutup pintu terburu-buru.
Di dalam kamar, setelah mengganti pakaian yang basah karena berendam di danau dan menunaikan sholat maghrib, Rani duduk bersandar di ujung kasur. Memandang keluar lewat celah yang disisakan jendela. Mengingat suara halus yang membuat Rani seolah ingin menyelam jauh ke dasar danau tadi. Baru sekali dalam hidupnya mendengar suara seperti itu. Dan hanya dari film fantasi soal makhluk lain di perairan Rani pernah mendengar suara yang serupa. Tapi apa mungkin di danau Maninjau ini ada makhluk yang selama ini diceritakan sebagai sosok khayalan itu.
Rasa penasaran Rani lebih kuat dibandingkan rasa takutnya. Tanpa peduli langit sudah gelap dan danau semakin tenang, Rani bergerak keluar kembali ke beranda. Dengan langkah pelan Rani mendekati ujung tangga. Matanya menangkap selembar kain terhampar. Mengapung di dekat tangga. Rani mendekat dan mengambil kain basah yang memiliki motif dan warna unik itu. Songket tua berisikan corak abstrak membentuk sosok manusia, danau, dan manusia setengah ikan. Rani kembali tersentak. Namun tetap memegang erat kain di tangannya. Suara merdu yang didengarnya petang tadi kembali mengalun dari arah danau. Buru-buru Rani kembali masuk dan meninggalkan beranda dengan bulu kuduk berdiri.
Rani menyalakan keran air dan membilas kain basah yang dibawanya dari beranda. Membuat luntur air danau penuh bau amis dan membuat warna di kain itu semakin terlihat jelas. Semakin Rani memperhatikan motif di songket itu semakin matanya terasa panas sebelum akhirnya meneteskan butiran air dari sudut matanya. Rani menangis menyadari bahwa corak di atas kain itu ternyata bercerita tentang seorang manusia yang menenggelamkan dirinya ke danau untuk dapat bersama dengan manusia setengah ikan yang hidup di dasar danau. Hanya saja air mata Rani bukan tentang kisah cinta antara dua makhluk berbeda alam itu. Rani menangis mengingat alunan yang didengarnya yang membuat Rani merasa bahwa kisah cinta yang dilihatnya di atas kain songket ini bukan cerita fiksi yang sering dilihatnya di film-film atau cerita yang bisa dibacanya dari buku-buku. Rani tiba-tiba merasakan duka yang teramat dalam mengingat danau yang menjadi sumber kehidupan ribuan manusia yang hidup di kampungnya ini, perlahan mati. Seakan menenggelamkan diri ke dasar air—yang dilakukan sosok dalam corak songket itu—orang-orang memanfaatkan danau terlalu berlebihan adalah tindakan bunuh diri yang membuat kisah cinta antara manusia dan alam adalah cerita cinta antara dua makhluk yang berbeda alam. Seolah luntur, ketakutan Rani hilang. Rani bangkit dan kembali membuka pintu beranda.
Rani berdiri di ujung tangga membiarkan angin malam menampar wajahnya. Berharap kembali mendengarkan nyanyian dari danau Maninjau yang begitu ia cinta. Hening. Hanya bunyi air yang merangkak perlahan menepuk ujung beranda. Rani menghela nafas panjang, menghirup semua aroma yang bisa terhirup dari angin malam dan permukaan danau Maninjau yang semakin kotor.
Untaian benang-benang yang ditenun Rani dalam songketnya selama ini ternyata adalah wujud kepasrahan Rani terhadap pencemaran danau Maninjau. Tanpa merasa perlu untuk memberikan kritik, berusaha sekecil apapun untuk membantu danau Maninjau memiliki kembali keasrian purbanya, Rani memilih untuk menjadi pengrajin songket sebagai bentuk persembunyian dari dorongan apatis di dalam jiwanya terhadap perubahan alam dan perilaku manusia.
Semakin Rani memandang permukaan danau, semakin ia terhanyut dalam corak riak yang menepi. Semakin Rani tenggelam dalam pikirannya, semakin Rani menyadari bahwa danau Maninjau telah memanggilnya. Lolongan merdu yang didengar Rani itu adalah tangisan pilu permintaan tolong oleh peninggalan fenomena alam yang sekarat. Hamparan lukisan abstrak yang tergambar dalam songket yang ia temukan malam ini adalah sajak penuh metafora yang mengajarkan Rani bahwa mencintai saja tidak cukup, dengan segala perasaan dan emosi yang dirasakannya menjadi manusia yang hidup di pinggir danau Maninjau dan menyaksikan keindahan alam ini berubah menjadi pembuangan kotor atas kerakusan manusia, Rani harus melakukan sesuatu.
Seperti sosok manusia yang menenggelamkan dirinya ke dasar danau untuk dapat bersama dengan manusia setengah ikan di dalam corak songket itu, Rani merasakan bersama butiran air yang meleleh dari sudut matanya, bahwa dirinya mungkin ditakdirkan untuk menjadi sosok manusia yang menceburkan diri ke air danau untuk hal yang sama: cinta.
Untuk nyanyian yang terdengar oleh Rani malam ini, untuk sebuah tangisan sakral yang datang dari dasar danau, untuk lolongan dari alam yang menyerah atas keserakahan manusia mengeruk keuntungan tanpa peduli dengan makhluk lain yang bergantung pada danau ini, Rani bersumpah akan melakukan apapun yang bisa ia perbuat untuk mengembalikan keindahan danau Maninjau dan berhenti tenggelam dalam keadaan pasrah dan bersembunyi dari realita. Dengan membuat songket Rani akan bercerita soal danau Maninjau untuk memperjuangkan perhatian dari tangan-tangan dan kuasa yang lebih berpengaruh untuk memperbaiki kelestarian danau tempat kelahirannya.
Rani memejamkan mata. Sayup kembali terdengar dengungan merdu dari tengah danau mengiringi helaan nafas cita-cita yang mulai terpancar dalam jiwa Rani. Rani ingin membuat danau Maninjau berganti wajah, membuatnya kembali terlihat membiru menuju pemulihan. Rani ingin menyembuhkan danau yang sekarat ini dan aroma belerang yang sedang identik dengan kerusakan ini dapat dengan ajaib berubah menjadi simbol ketahanan.
Rani terus menyusun rencana dalam kepalanya, membayangkan setiap songket yang akan dibuatnya untuk menceritakan kisah penebusan dan komitmen. la ingin menjadi suara bagi danau Maninjau. Sambil menghirup aroma angin yang membawa bau amis, imajinasi Rani menarasikan danau Maninjau yang bebas dari belenggu kelalaian dan pengabaian, kembali bergema dengan melodi, alunan nyanyian dari dasar danau—kali ini, bukan kesedihan dan duka, melainkan harapan. Ikrar dan tekad Rani di malam yang tak terlupakan itu memicu perubahan dalam dirinya, menuliskan cerita dan kisah cinta baru antara manusia dan alam.
Dalam kain-kain waktu, songket-songket Rani akan menjadi benang-benang yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan, menjalin cerita ketahanan dan ikatan abadi antara manusia dan alam. Di mata Rani, Danau yang memudar dalam warna keputus-asa-an ini berkilau dengan pantulan biru langit di atas permukaannya yang tampak asri.
Journaling Journey: A Peek Inside My Journal Pages
All the journals I keep
One of my most cherished possessions are my journals. Oh how I love collecting all those leather bound vintage looking notebooks and relish writing on them more than typing on any good-looking keyboard. It's the feeling of the fountain pen nib gliding over the paper and the sound it makes that I love most. But, above all, it's the sense of contentment I get after completing my morning pages, writing poems in my fat vintage writing journal, or jotting down my monthly expenses and budgeting.
My fat vintage writing journals for poetry and writing ideas
People have been saying that journaling helps you declutter the mind and keep you organized. Well in my case, I’ve been journaling since I was so young when my handwriting was still hard to read even for myself. I’ve been in love with writing since I learned how to hold a pen and generate a word. And the more I grow, the more I know that it’s more than just venting or telling the diary how I was feeling that day. It was more than taking notes about lists of books I need to find in order to complete my tasks as college students. It was more than just trying to get my handwriting better and more readable.
Some notable articles are out there that tell you how journaling helps people to heal, stay sane, focused, organized, and all those benefits. But here, I am trying to give you a little peek into my journal. The page that I wrote at the very beginning of 2023 is the kind of page I have been doing every new year to help me navigate, look back at what I have gone through, and see what I have learned from the year to set some self-growth goals for the coming year. With the help of journaling prompts I found on Pinterest, here are the questions I answered on the new year pages I wrote at the very end of 2022 to welcome my 2023.
The annual reflection journal entry
Disclaimer: Below part is the real text from the original pages and me sharing this is me being vulnerable to everyone who would spend their time reading. It would be worth it if my annual reflection could help and inspire you. So yeah, I hope this one gives a lot of people the words they need to hear, I hope some of you can relate to this and feel heard, I hope it would be helpful to you as it has been really helpful to me.
What did 2022 teach me about myself?
This year has taught me that I am a strong one. Even better, I’m the strongest even though most of the time I forgot to praise myself and thank her for being so strong, standing tall and walking out just fine after everything that I’ve gone through.
But I learn that as strong as I thought I’am, I still need compassion that I keep giving to others for myself. I learned that I can get mad, I can cry ugly, I can break down, and feel like doing nothing and that’s okay. It’s okay to feel all the emotions, acknowledging my own feelings, going through phases and all. Because instead of ruining me, all of that makes me grow. Even stronger.
2022 taught me that I need to always remember that we can only plan, work on it and hope that everything will work out just fine. Everything else is out of our control. Accepting that truth is a huge act of self-love for me. 2022 also taught me that all I need to do after doing my part in life is give in. I’m still working on that. But I learned that the twist of everything often brings me to other scenarios I came to love even more than the first plan. So 2022 taught me to say this more to myself: “Suci, just don’t worry too much!”
Who showed up for me and how I can nurture those relationships?
It’s myself first and foremost. Before my better half, before my family and anyone else. It’s me who deeply cares for me. But most of the time, I always ignore her voice and needs. To nurture this relationship I need to make the give and take system with myself better. I need to listen to her voice first before asking for other’s. I need to fulfill and satisfy her needs first before I give it to others. Then, with this getting better, I can show up better for my better half and my family who always showed up for me.
What do I need to accept about myself and other people in my life?
I need to accept that whenever I think about this or that, or when people say this or that, sometimes it’s just showing the fact that not everyone has what it takes to be something, to say something or to do something. I need to accept that there are differences, backgrounds, side stories about everything in everyone. With that fact in mind, I need to accept the fact that what I think is right is not always right. For that case, I need to be less judgy because who am I to judge?
And I also need to breathe, to take a break, to pause, to reflect before I keep going. I can’t handle everything all at once and still be okay. I need to accept that what I want is not always for the best and I need to re-adjust.
How did I cope with uncomfortable feelings?
I’m used to writing, journaling and crying when dealing with my feelings. But I learn that talking about it to the person I can be vulnerable with and I trust the most is adding more power to charge my soul. I also learned that writing the unsent letters helps a lot. Going to therapy has been playing a huge part for me to get better at feeling the feelings. And of course, I learn to be more accepting so the energy I used to spend on worrying can be utilized on feeling the feelings.
How can I better manage my reaction to my feelings?
I can learn to prioritize the time to really listen to myself inside before I can start thinking and process my feelings. If I feel like I need to cry, I’m just gonna cry it out. If I feel like I need to be angry, I’m going to write nasty and raging writings to be fully mad. I can learn to stop holding the feelings and react to the feelings in alignment with how I see fit, with what she needs.
In what ways will I take better care of myself in 2023?
I’m going to lessen the blaming session of myself every time things go south. I’m going to think of myself as the person I love the most in this life. I’m going to quit feeling guilty every time I fail to achieve or do things. I’m going to start getting used to smoking less, and I’m going to teach my brain that I don’t need to punch the wall everytime I get so angry. I’m going to trim my hair every 3 months to get it healthier and allocate more of my earnings to have a spa day, or getting a massage, or traveling with my loved ones. I’m going to learn new skills to upgrade my level on this game called surviving life. And because getting a fat paycheck makes me happy, I’m going to get a better job with a bigger paycheck. But what’s more important is that I need to be more mindful, to be present, and enjoy my time, my days. In that way, I can be happier, fulfilled, and content with everything I have and the people I love.
What has been a barrier to me completing my goals and how will I remove the barrier in 2023?
There are these different boxes of goals and expectations in life that I need to be aware of. If the goals involve external factors that I can’t control in order to make it happen, I need to make a good and detailed plan. Step by step. And for that, the expectation has been a huge problem for me because then I would be focusing on the outcome instead of the process and get distracted on the way through and then I would be less powerful to make it work. So, to make things easier for me, I need to be more realistic, focus on the day to day goals to build the huge long term dreams. I also need to know which one is more important than the other and the first indicator for that sorting process is classifying it with what would benefit my surviving life more, what would make me happier, and what will get me more time to be with the people I love.
What limiting beliefs do I need to release?
I need to get rid of the mindset that I have to meet certain criteria to be accepted, to be loved, to be worthy of anything when it comes to my family. Because they’re my family, they should and supposed to love me unconditionally. They do. I mean they will always love me for who I am. With this card in hands, I can start living my life truthfully and can use the energy I used to waste worrying about their opinion and reaction for something useful.
I also need to stop thinking that every bad thing that happened in my life happened because I’m not good enough. That mindset stops me from doing anything fully invested because then I would think that whatever I do, it’ll never be enough.
What do I need to practice doing more and less of?
I need to pay more attention to what’s inside my body to see if the machine, or my battery or anything in there needs fixing and how that affects my external reaction, behavior and attitude. I need to practice healthy eating more. I need to take care of my physical self more. I need to keep exercising every morning. I need to practice “don’t put it, put it away” more. I need to fight hard not to skip any of the 5 prayers no matter what. I need to keep on doing the routines I’ve been doing that have been giving benefits to every aspect of my life. I need to lessen my smoking habit and eventually quit. I need to quit procrastinating. I’m just going to practice everything that would help me take care of my 30 year old physical body and any good ritual to shape my spiritual and mental self.
What one boundary do I need to implement to improve my peace in 2023?
I need to have a clearer understanding on which one is my exam paper to finish, and which one isn’t. Because I’ve been drying myself out all this time, I keep trying to solve other’s cases when it’s so way out of my paygrade, beyond my limits, and it exhausts me. My legendary aunt says: when the weight feels too heavy, it’s probably not ours to carry. In simpler words, I need to make clear boxes to put which case is mine to solve, and which one is only for me to observe.
Becoming A Woman
I was raised and come from a privileged family. Well educated parents, warm big family members, good financial situation so that I can have a good education, fulfill the needs of school equipment and books, and filtered entertainment on our old TV.
I believe I’m smart. Smart enough that I got to go to college without any trouble and graduated on time with good grades. I also believe that my background as a woman who grew in traditional Minangkabau culture has influenced the way I look at issues around the world.
I never really care about inflation, or the rising price of household needs, or the corrupt system in every level of any field in our country. I remember being pissed at college students who marched on Khatib Sulaiman street following the rising price of BBM, because back then I thought that that was an unnecessary thing to do.
I kept telling my friends just to have a life, study hard, and graduate sooner, instead of hanging around with some other students and discussing politics.
Come to think of how ignorant I was, I wish I could fly back in time and tell my younger self, “hello young lady, please read more stuff other than that romance novel, please watch around and wake up”.
But I wouldn’t blame her. She was young, naive, and she never really experienced bigger issues directly affecting her life. Because as I said, I came from a privileged background where my father would solve things for me. I am lucky.
Speaking of luck and privileges, I still think that I have the privilege to have time to learn with a lot of free resources around. I am so lucky to meet people who would discuss things with me, open my eyes, and introduce me to things I’ve never really understood.
Because of that, I’ve spent the past two years learning about things I should’ve been familiar with since I was young.
Who would’ve known that I am now familiar with Mona Eltahawy or Blaire Imani’s voices. that I’ve read Kalis Mardiasih’s books and that I’m proud to have Roxane Gay’s book standing in our book cabinet.
Who would’ve guessed that now I could cry everytime I hear the I Believe You song from FLETCHER, or that now I realize I have a flaming rage after I watched Bombshell and Promising Young Women.
Yep. In every chapter or every story of the suffering women in Mbak Kalis’s books, I cried. It’s like the fact that there are women who’s hurting mentally and physically has squeezed my eyes dry.
I believe it’s the same reason that pumps my heart faster full of anger watching Bombshell and the same reason causing me a long hour of crying in desperation after I watched Promising Young Women.
On the other hand, that same reason is the very excuse for me not reading news about sexual assault or child exploitation in our country because I’m protecting my mental health and feelings. Because I’m feeling powerless.
But there was this one time when I could hold my breath with teary anger while listening to I Believe You song by FLETCHER. This powerful underrated song has brought back that reason to my mind. Crawling in my throat and pushing me to phrase that reason. The fuel of this anger. The cause of what I’m feeling. I believe the feeling is higher than solidarity. I couldn’t find the exact words to describe it.
What I do know is, “I’m not free while any woman is unfree, even when her shackles are very different from my own,” just like this statement of Audrey Lorde.
So here I am, trying to write my journey of becoming a woman who understands that we need to do something no matter in what field we are working on, despite every background we have.
And yes here I am realizing how far I’ve come to wanting to do more to add more power to us women.
Because if I was an ignorant young girl who would negatively comment on people marching, then she is now a woman who would join, screaming and do anything she could in any women’s march.
Ori, Sel Timur Ujung | Part. 1
Rambutnya masih tetap terlihat patuh, berjuntai menutupi leher hingga bahu. Hari ini tanpa jepitan hitam seukuran lidi daun kelapa, tanpa karet gelang bekas bungkus sarapan pagi mewah para napi; nasi uduk porsi irit dengan potongan tahu goreng dan sambal teri. Lingkar matanya tidak sehitam berbulan-bulan yang lalu. Pipinya sekarang lebih merona meskipun sisa bekas jerawat masih menghiasi wajah oval itu. Ori mulai terlihat jauh lebih ‘Ori’ semenjak toko pernak-pernik handmade nya dibuka. Meskipun sekali dua atau tiga malam tidak jarang Uri mendengar isak kakaknya itu pecah di dalam kamarnya yang menyudut. Isak pilu yang membuatnya ikut merasa biru. Isak sepotong jantung yang masih belum sanggup mendalami ilmu ikhlas tentang cinta yang berpulang tiba-tiba.
Ori baru saja menghirup udara bebas setahun yang lalu setelah nyaris lima tahun hidup ‘dikandangi’ dan tidak ada cerita yang bisa diceritakan dengan mudah semenjak pertama polisi menjemputnya di rumah Angku setelah membongkar jok mobilnya yang menyimpan bungkusan sabu. Meskipun siang mengejutkan itu dilewati dengan senyum dingin di sudut bibirnya, Uri tetap paham bahwa banyak goresan berat yang sedang ditanggung kakaknya.
“Aku tidak mau lagi kau pulang ke rumah ini!” teriak Angku ke wajah Ori waktu itu. Sekali lagi, hanya senyum kaku dengan lengkungan dingin yang muncul di wajahnya.
Setahun pertama Ori hanya mau bertemu dengan Uri jika ada yang berkunjung. Wajahnya banyak berubah. Lebih tirus, pucat, kantung mata membesar, lingkar hitam yang semakin kental, bibir kering yang tidak lagi pernah terlihat melengkung dan rambut yang selalu diikat dengan karet gelang berwarna merah bekas bungkus nasi uduk. Uri selalu menangis setiap kali melihat kuku cantik kakaknya yang terlihat kusam dan tidak terawat sejak menjadi tahanan.
“Aku baik saja,” kata Ori setiap kali Uri terisak melihat kondisinya.
Awal tahun kedua menjadi tahanan di lapas khusus perempuan, Ori mulai menyibukan diri dengan rutinitas harian. Jika tidak sedang berminat jogging keliling lapangan, Ori pasti terlihat duduk menyudut di lapangan voli dengan buku lusuh di tangannya. Buku yang dipinjami Faron, sipir muda yang tidak pernah bersikap kasar padanya sedari awal. Ketika hari sedang hujan, Ori akan lebih banyak menghabiskan waktu di dapur membantu tim konsumsi mengupas bawang. Hingga suatu hari, Dara ditransfer dari lapas pulau seberang untuk menghabiskan sisa masa hukumannya di tempat Ori dan tiga ratus perempuan lainnya mendekam.
Dara terlihat ramah dengan mata riangnya. Dara selalu tersenyum selepas jadwal senam bersama di pagi hari dan merajut sepanjang hari. Sekali waktu Dara dengan benang dan gulungan selimut yang belum jadi menghampiri Ori yang duduk dengan buku Maya Angelou di tangannya.
“Tahun ke berapa?” tanya Dara tanpa permisi.
“Kedua,” jawab Ori dingin dengan mata tidak lepas dari halaman ke seratus lima belas.
“Sabu?” tanya Dara lagi. Ori mengangguk.
“Aku tujuh tahun lagi.” Dara mulai menyambung benang dengan ujung benang lainnya kemudian mulai menyambung rajutan selimut dengan warna olive green-nya. “Married?” tanya Dara lagi. Ori menggeleng.
“Belum,” jawabnya masih dengan wajah cuek dan sangat merasa terganggu dengan kehadiran Dara yang banyak tanya. Belum dan bukan urusanmu, sengit Ori membatin.
“Namaku Dara,” ucap Dara tanpa merasa perlu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Ori,” sahut Ori dingin.
Keduanya kemudian saling diam dan sibuk dengan benda di tangan masing-masing. sesekali Ori melirik selimut setengah jadi yang sedang dirajut Dara. Rapi, pikirnya. Sesekali juga, Dara mengintip halaman yang sedang dibaca Ori kemudian manggut-manggut sambil berdecak mencoba mengingat sesuatu.
“Hoping for the best, prepared for the worst, and unsurprised by anything in between,” ucap Dara pelan. Ori menoleh, memandang wajah Dara yang dibedaki bedak tabur.
“Sorry?” tanya Ori.
“Maya Angelou.” Dara menjawab lalu melipat selimut yang sedang ditekuni nya dan memandang buku di tangan Ori. “I know Why The Caged Bird Sings. Aku baca ini pas kuliah,” tambahnya.
Ori melipat ujung halaman 116 dan menutup bukunya.
“Lalu?” tanya Ori dengan nada dingin.
“First, aku memang baca bukunya. And I like it. Kedua, ini caraku membuka pembicaraan denganmu. Menurutku banyak orang pakai cara seperti ini untuk memulai pembicaraan dengan orang asing yang menurutnya menarik,” jelas Dara sambil tersenyum.
Tanpa dipinta pipi Ori yang selalu terlihat pucat terasa ‘berdarah’. Hangat. Namun mulutnya terkunci untuk merespon kalimat tidak terduga yang didengarnya siang ini.
“Kamarku di ujung lorong timur. Hanum dan satu sipir sering duduk di sana menunggu aku selesai membuatkan mereka sweater atau selimut untuk kucingnya. Mampir kapan-kapan,” tambah Dara sambil berdiri dan meninggalkan Ori yang masih terdiam. Alih-alih kembali membuka Maya Angelou-nya, Ori justru memperhatikan punggung Dara hingga hilang di balik pagar kawat yang ditunggui dua sipir perempuan dengan wajah kasar.
“Kak!” Uri setengah berteriak memanggil Ori yang mematung di depan gantungan tas rajutan.
“Ya.” Ori buru-buru menghapus genangan air yang menjuntai di ujung matanya.
“Ada yang datang.” Uri membukakan pintu mempersilahkan seseorang masuk ke toko pernak-pernik kakaknya.
“Ori,” panggil perempuan dengan rambut sebahu dan toned arms yang menawan. Ori tersentak dan berjalan cepat mendekat.
“Faron,” sapanya sambil memeluk erat tubuh ideal sipir kesayangannya selama menjadi tahanan. “I miss you,” bisiknya di balik bahu Faron yang menepuk-nepuk pundak Ori pelan sambil menahan genangan air mata.
“Kau lebih berisi dan sehat,” puji Faron setelah melepas pelukan dan memandang Ori lama. Ori mengangguk sambil mengusap pipi dengan sisa air matanya. “Lapas terasa berbeda sejak kamu keluar Ri,” tambah Faron lalu duduk di sebelah Uri yang baru saja masuk menaruh tiga cangkir dan satu teko berisi teh tanpa gula.
“Hidupku juga jauh berbeda sejak keluar,” sahut Ori dengan mata berlinang.
“Sudah lah. Sekarang kau sedang menjalani hidup barumu. Yang di belakang biarkan di belakang.” Faron menyesap teh yang dituang Uri. “Aku bawa sesuatu untukmu.” Faron mengaduk isi tasnya sebelum mengeluarkan sebuah buku tulis yang terlihat keriting dan menyodorkannya pada Ori.
“Apa ini?” tanya Ori dengan perasaan tidak karuan.
“Isi sel Dara yang ditahan untuk barang bukti sudah dikembalikan. Aku ambil ini karena menurutku kau butuh sesuatu seperti ini,” jawab Faron berusaha tenang. “Baca setelah kau kuat untuk benar-benar merelakan ya,” tambahnya lalu berdiri dan memeluk Ori singkat.
1.30 | eps.1
“Arel mau istirahat jam berapa?” tanya kak Intan, team lead-ku hari itu.
“Bebas kak.” aku menjawab singkat.
“1.30 ya?” tanya dia balik dan langsung kuserang dengan jawaban “Oke komandan” seperti biasa. Bekerja sebagai Customer Service membuatku tak begitu memikirkan waktu istirahat. Akan sama saja pikirku, kita harus istirahat sendiri-sendiri. Pola kerja yang membutuhkan kehadiran manusia 24/7 membuat antara aku dan teman-temanku harus beristirahat bergantian. Aku yang tak pandai mencari kawan sudah terbiasa dengan makan siang di kantin basement kantor seorang diri atau bersama tim lain yang tak begitu aku kenal. Tapi siapa sangka, makan siang hari ini bisa menjadi berbeda.
Aku yang terbiasa dengan rutinitas akan memilih meja yang sama, agak pojok dekat jendela. Sebagai penikmat makanan, biasanya aku akan berkomentar atau mencaci maki makanan yang aku pesan karena ada saja hal yang kurang. Entah itu garam, kematangan, atau hal lainnya. Padahal aku juga tak begitu mengerti soal masakan. Dan sebagai laki-laki, hari ini makanan bukan lagi menjadi sorotan utamaku. Di ujung sana ada seorang wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna. “Ya Tuhan, ada apa ini?” bisikku dalam hati. Aku tak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Masih ada adik-adik yang butuh dana sekolah untuk dipikirkan, bukan lirikan manis, tangan mungil, kulit bersih dan rambut menawan di hadapanku itu. Bukan. Aku mencoba berpaling, aku harus kuat. Kupercepat makanku, kualihkan pandanganku semoga gangguan semacam ini cepat berakhir.
“Hey Rel, udah beres istirahat lo?” Sial, ada Syahrul yang tiba-tiba menyapaku di situasi genting seperti ini. “Iya.” aku jawab sambil mengangguk dan senyum singkat.
“Eh sini dulu, kenalin ini anak baru namanya Della.” Si wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna itu mengangguk. Jelas langsung kubalas anggukan itu dengan anggukan lainnya dan senyuman, yang kaku.
“Duluan ya.” tanpa basa basi kulambaikan tanganku dan bergegas pergi.
Tak biasanya aku seperti ini. Kejadian tadi membuatku terbayang-bayang. Tuhan, aku tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Bukan aku namanya jika tak bisa berpikir dengan logika. Mungkin ini hanya rasa kagum semata akan paras wajahnya, tak lebih dari itu.
Setelah tidur terlalu larut, aku terkejut saat bangun dan melihat jam sudah pukul tujuh. Tak biasanya aku terlambat. Tak biasanya juga aku terjaga terlalu larut hanya untuk menatap langit-langit kosan.
“Rel hari ini istirahat jam 12.30 ya!” terdengar suara kak Intan dari meja seberang. “Besok jangan terlambat lagi!” tambahnya.
“Siap komandan!” jawabku singkat.
Selang sepuluh menit sebelum istirahat aku langsung terbayang nasi goreng tongseng kambing. Nasi yang digoreng dengan bumbu tongseng dan daging kambing sih bakal luar biasa. Toh di luar cuaca lagi agak mendung, makan yang beginian apalagi kalau pedes pasti enak sih. Ngebayanginnya saja sudah membuat air liurku mengalir deras, jadi tak sabar.
“Bu, nasi goreng tongseng kambing pedas satu ya.” Langsung kupesan nasi goreng itu tanpa basa-basi. Begitu jam istirahat dimulai aku langsung ke bawah dan cari spot di ujung dekat jendela. Saat ingin menyantap nasi gorengku, dia datang.
“Eh Arel kan? Hmm.. baru istirahat ya?” tanya dia agak malu.
“Iya, kenapa ya Del?” jawabku mencoba bersikap biasa.
“Boleh nitip ini gak? Tadi gak sengaja gue bawa pas mau pesen tongseng. Gue istirahat selalu jam 1.30 tapi kalau jam segitu biasanya tongsengnya abis. Jadi gue pesen duluan izinnya ke toilet dan kayaknya kalau gue ke loker naro ini lagi bakal jadi lama banget deh.” agak ragu dia menjelaskan sekalian menyodorkan Bon Cabe kepadaku.
“Iya boleh.” jawabku singkat, kaku.
“Thank you! Nanti gue ambil jam setengah satu ya, lu kalau mau pakai boleh pakai aja ya!” dengan paras ayu, bibir mungil, dan senyum sempurna dia pergi terburu-buru ke arah pintu. Kupandangi Bon Cabe miliknya sambil berpikir, ada kesamaan yang kutemukan antara aku dan Della. Kami sama-sama penikmat tongseng dan pedas. Sambil menahan bahagia aku menikmati makan siangku.
Satu jam ini terasa nikmat namun tak juga berasa sebentar. Aku kerap bertanya, “kok Della enggak datang-datang untuk ambil Bon Cabe dia? Ini sudah 1.30 loh!” aku agak kesal setelah melihat jam di tangan sebelah kiriku. Atau sedikit kesal karena aku belum juga melihat wajahnya.
“Eh sorry ya telat, udah Bon Cabenya?” terengah-engah dia masih saja tersenyum.
“Udah, makasih ya.” kesalku runtuh. “Ya Tuhan, aku kenapa?” bisikku dalam hati.
“Lah gue lah yang terima kasih. Yaudah, gue makan dulu. Lu semangat kerja lagi ya.” dia pun kembali ke mejanya persis seperti kemarin dan persis bersama Syahrul.
“Eh Rel, lu masih di sini?” Tiba-tiba Syahrul mengingatkanku akan waktu yang kubuang berjalan lambat sambil senyum-senyum sendiri ini. “Mampus udah 1.40 gue telat!”
Kembali kejadian itu terbayang-nayang, kembali sampai larut malam aku baru dapat terpejam. Tuhan, jika rasa cinta dapat mengalahkan amarah, apakah Della yang kubutuhkan? Hanya butuh satu tatapan untuknya menghilangkan keluhku tentang makanan, hanya butuh satu permintaan maaf untuknya menghilangkan kesalku yang kadang tak beraturan. Jika senyuman adalah obat termanjur dari segala obat, aku yakin senyumnyalah obat termanjur untuk segala penyakit hatiku.