
Bukittinggi masih dingin ketika pagi
Dan tanah Agam terlalu basah untuk disinggahi
Kala itu,
Usai bertumpah keluh ke atas
Ia turun dalam sepagi
Angin gunung Singgalang masih menggigil
Dan bumi Buya Hamka terlalu asing setiap hari
Waktu itu,
Setelah mengemis ke atas
Ia hinggap semasa satu terik matahari
Maka seperti hujan yang baru turun sekali dalam selusin hari
Dan awan gelap yang seolah hendak mebanjiri
Dan angin utara yang meniup kelopak kamboja setiap pagi
Dan riuh jalan Sudirman ketika remang datang
Dan langkah ramai di stasiun kereta
Dan kering debu yang menempel di ujung sepatu
Dan gelap sudut pasar yang ditinggal penjual kain
Dan rahasia bunga kuning di meja kerjanya
Aku menyimpan kasih yang belum bisa dibawa berjalan
Aku mengurung rindu yang belum bisa mengeja tiga kata
Aku membungkam jawaban yang berkali-kali ia tanya
Aku menimbun gelisah yang setiap hari ditambah-tambahnya
Aku melambungkan duga yang kian berbunga-bunga
Ah,
Waktu itu
Sebelum ini
Dan nanti setelah tidak lagi
Baru dilihatnya beda cerita yang disampaikan jemari ini