);

It’s been a couple of week since the last time I post something on my blog. I don’t know what is going on in my head but I’ve been looking for an idea to write about on my blog post the whole week and couldn’t find any. Every time I opened my laptop and start to write I’m kinda confused about where to start and what to write. But then one of my readers sent an email yesterday said that she subscribed to my page because my work helped her.  I don’t know who she is but I do know that she lives far away from this crowded town. That email hit me straight to my heart and put a spark in me to try harder on doing what I like to do; writing.

Aside from that good thing from the email, she asked me one question and she really needs me to write something about it.

 

What if I miss someone beyond my reach?

That’s her question. To be honest, I don’t know how to answer that hard question. And to be really honest, me my self is struggling with that kind of feeling too. But I do know one thing. Someone once told me that “when we miss someone, it means we remember all the good memories and all the good feeling they gave”. So I assure you that missing someone is a good thing. We shouldn’t be sad or feel bad when we miss someone.

But what if this feeling put us in a dull mode and gave us some hunger that needs to be fed?

Well, for me there is some kind of missing and worst kind of it are this two; [1] when you miss someone who has passed away [2] when you miss someone with ‘you are dead to me’  kind of thought about you.

I know. Both of them are hard to accept. When we miss someone that gone, I mean literally gone, we can’t just stop by at their grave to tell them how much we miss them. In my case, let say when I miss my long gone grandmoms, I did try to visit their new home to tell them how much I miss them. But it’s useless. The feeling still there. And it hurts. So I guess this kind of missing is the one without the cure. It’s like an allergic that stay for a long time with you and start to irritate you when something triggers it out.

But again, missing someone is a good feeling. That’s what you need to remind yourself. Maybe their presence is no longer visible to your eyes or your skin and your ears. But deep down, they live in your heart. You’ll feel closer to them when you remember how warm the laughter you shared when they were still there when you remember how kind they were to you back then, or how much you mean to them. Sounds even hurting but no, it’s not.

 

What about the second kind of missing?

You mean the ‘you are dead to me’ one? Look. If someone used that term to define your existence in their life but you still miss them, they must’ve meant more than something to you. Admit it, you can’t just hate someone because they hate you that much. You can’t just forget about some memories once someone erases you from their life.

So how to deal with it? I don’t know. I really don’t know. But it’s a choice no?

You miss someone who has erased you from their life, all you gotta do is choose whether if you want to keep longing for their presence and deal with the pain or just think about it this way; ‘if they can easily erase you, then they don’t deserve to be missed’. And yes, it sounds that easy but to work it out? You might want to have some kind of amnesia about certain memories.

 

__________________________________________________________________________________

 

Beberapa minggu ini saya seolah kehabisan ide untuk menulis. I mean, kehabisan ide harus menulis tentang apa di blog ini. Mungkin karena terlalu fokus dengan buku yang sebentar lagi terbit, atau memang sedang bertemu dengan jalan buntu. Kebuntuan itu berlanjut hingga beberapa hari yang lalu seorang subscriber page ini mengirim email. Sebuah email hangat yang menyapa dari jauh (sebutlah dari benua berbeda).

Dalam email itu si pembaca ini berterimakasih karena katanya beberapa tulisan saya cukup membantu dia menghadapi beberapa hari berat dalam hidupnya. Berhubung saya cukup mudah tersentuh, jelas saja email itu membuat saya terharu dan kembali bersemangat untuk terus menulis karena ternyata corat coret saya bisa seberarti itu bagi orang lain di luar sana.

Sebutlah nama si pembaca ini Karen. Dalam emailnya, Karen sedikit bercerita tentang kerinduannya pada seseorang dan meminta dengan sungkan jika mungkin saya ingin menulis sesuatu tentang perasaan rindu. Sejujurnya, membahas tentang kerinduan sedikit sulit karena lebih jujur lagi, sayapun seringkali sulit tidur karena jenis perasaan yang datang seperti alergi itu. Di akhir surat elektroniknya itu, Karen menanyakan satu hal;

 

What if I miss someone beyond my reach?

Yap. Itu pertanyaannya. Saya semakin kebingungan harus menulis tentang apa dalam rangka menjawab pertanyaan itu. Namun ada satu hal yang saya tau, seseorang pernah berbisik dengan hangat; “Suci, merindukan seseorang tidak boleh membuatmu sedih, jika hatimu bisa serindu itu itu pada mereka, itu berarti kau sedang ingat dengan kenangan dan hal-hal indah tentang mereka”.

Jadi kesimpulannya, merindukan seseorang adalah hal indah yang tidak bisa kita hindari. Dan tentu saja kita tidak boleh bersedih hati dalam menyikapinya.

Lantas bagaimana jika perasaan rindu itu justru membuatmu seolah kosong dan memberimu sejenis haus yang rasanya harus segera disiram?

Well, bagi saya ada berbagai jenis kerinduan, dua diantaranya adalah jenis kerinduan yang terasa begitu berat; [1] rindu pada seseorang yang sudah ‘pergi’ [2] rindu pada mereka yang menganggapmu sudah ‘pergi’.

Ketika kita rindu dengan seseorang yang sudah ‘berpindah’ alam, yang sudah ‘pergi’, kita tidak bisa sekedar mampir ke makam mereka untuk saling menyapa dan menceritakan betapa kita rindu pada mereka. Tidak bisa. Itulah yang membuat rindu jenis ini terasa begitu menyakitkan terkadang. In my case, ketika saya begitu rindu dengan nenek saya yang sudah lama berpulang, saya datang ke kediaman baru mereka dan bercerita betapa saya rindu dengan pelukan hangatnya. Hanya saja it’s useless. Rindu nya masih tetap ada. And it hurts. So I guess jenis rindu seperti ini adalah jenis rindu yang tidak ada obatnya karena jenis perasaan seperti ini akan menempel terus menerus seperti alergi dan akan kambuh kalau ada sesuatu yang memicunya.

Namun tetap saja, merindukan seseorang adalah jenis perasaan yang bagus. It means kita benar-benar memiliki hati dan perasaan. Hanya saja kita perlu selalu ingat bahwa kehadiran mereka yang sudah ‘pulang’ itu memang tidak lagi terasa nyata, namun deep down, di hati dan ingatan kita, mereka akan selalu ada. Bukankah mengenang betapa hangatnya suasana yang pernah kita bagi dengan mereka akan membuat kita merasa bahwa mereka tetap ‘sedekat’ itu?

 

Lalu bagaimana dengan jenis kerinduan yang kedua?

Merindu orang yang jelas-jelas menghapusmu dari hidup mereka maksudmu? Terus terang, kita tidak bisa membenci seseorang begitu saja hanya karena mereka bisa membenci kita dengan mudah. Kita juga tidak bisa melupakan sebuah kehadiran hanya karena hadir kita sudah dihapus dengan sangat mudah oleh seseorang.

Lantas bagaimana cara menghadapinya? Kawan, kembali lagi pada teori pilihan. Jika kamu memilih untuk terus-terusan merindukan orang ini silahkan bertahan dengan jenis efek sampingnya. Namun jika kamu ingin berhenti, coba pahami ini; “jika dia dengan mudah menghapus hadirmu, maka dia adalah orang yang tidak pantas untuk dirindukan”. Dan ya, terdengar sesederhana itu namun tetap saja, untuk melupakan jenis perasaan atau beberapa hadir yang hilang terkadang kita seolah butuh menderita amnesia terlebih dahulu.