);

Ada banyak kalimat klise yang mengajarkan kita untuk berkata jujur. Mulai dari kalimat yang mengatakan bahwa kejujuran yang pahit akan terdengar lebih baik dibandingkan kebohongan yang manis, hingga kalimat yang mengatakan bahwa tidak jujur adalah mencuri hak orang lain untuk mengetahui kebenaran.

Maka kejujuran terdengar sebagai suatu tingkah yang positif dan berdampak baik. Lalu bagaimana jika kejujuran adalah sebuah kesalahan? Bagaimana jika setelah berkata jujur, sesuatu tidak lagi akan pernah sama?

Mungkin ini alasan sebagian besar manusia masih menyimpan beberapa kebohongan dalam hidupnya. Mungkin tidak semua orang bisa menerima akibat dari kebenaran yang dikatakannya. Mungkin tidak semua orang sanggup melihat reaksi orang lain ketika mendengar kebenaran dari mulutnya. Dan mungkin tidak semua orang mau menanggung perubahan akibat kejujuran yang disampaikannya.

source: https://www.imdb.com/title/tt5164432/?ref_=ttmi_tt

Meskipun penting, kejujuran tetap menjadi sebuah pilihan yang tidak boleh dipaksakan. Kejujuran adalah hak semua orang. Jika Simon (Love, Simon – 2018) memilih untuk berkata jujur tentang orientasi seksualnya, maka itu adalah hak nya untuk mengungkapkan yang sebenarnya setelah ia merasa siap dengan semua akibatnya.

Menjadi jujur adalah hal terberat. Bukan hanya bagi seorang pembohong, akan tetapi menjadi jujur seringkali membuat naluri dan nurani kita bertengkar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengatakan sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak.

Menjadi jujur akan jauh terasa lebih mudah jika saja kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya. Itulah sebabnya seringkali orang menyesali kejujurannya setelah sesuatu yang tidak mereka harapkan terjadi.

Berbicara tentang jujur, saya teringat pada citra diri yang dibangun oleh semua orang. Seringkali image yang ditunjukkan pada publik oleh setiap individu adalah image yang telah dibangun sedemikian rupa untuk mendapatkan respon tertentu dari lawan interaksi.

Seringkali dalam membangun image, seseorang merasa tidak puas dengan respon yang didapatkan atau sebaliknya. Seringkali juga, seseorang bahkan merasa sangat tertekan dengan image yang terlanjur ia pakai.

Maka ketika pada kesempatan tertentu dengan orang tertentu image tersebut bisa dilepaskan dan pada akhirnya berhasil memperlihatkan wujud asli “siapa saya”, ada kelegaan yang tidak bisa didapatkan dari hal lain. Di sinilah kejujuran berperan penting. Mendatangkan kelegaan ketika tidak perlu lagi berpura-pura.

Entah itu berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda dengan jati diri, hingga berpura-pura menjadi orang yang bahagia padahal sedang tersiksa sendiri.

Namun apapun bentuk kepura-puraannya apapun wujud rahasianya, kejujuran tetap menjadi bagian dari pilihan yang harus diputuskan. Memutuskan untuk jujur dan mengakui apa adanya, atau memutuskan untuk tetap menyembunyikan sesuatu hingga siap menanggung akibat dari sebuah kejujuran.

Jadi, jujur tentang apa yang belum Anda lakukan?