);
Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk terbiasa dengan sesuatu? Seminggu? Berbulan-bulan? Satu tahun? Well, that depend on the case right?

 

Ketika kita harus terbiasa dengan sebuah temu-pisah

Salah satu dari beberapa hal yang tidak saya suka dari proses bertumbuh adalah waktu bersama keluarga yang semakin berkurang dan hadir yang satu-satu mulai hilang. Terlepas dari situasi dan kenyataan yang harus kita hadapi, temu-pisah adalah bagian pahit yang mau tidak mau harus kita nikmati dari sebuah proses menjadi seorang manusia.

Persoalan terberat dari sebuah temu-pisah adalah perihal ‘aftertaste’ yang seringkali sulit (bahkan sama sekali mustahil) untuk lenyap begitu saja dari ruang penyimpanan memori seseorang.

Semisal, setelah menghabiskan berhari-hari waktu luang yang penuh dengan kebersamaan hangat di musim libur lebaran saya seolah begitu enggan untuk kembali ke rutinitas harian yang tentu saja membuat saya harus kembali terpisah satu selat dengan orang tua dan keluarga di rumah. Akibatnya, ketika pada akhirnya saya harus kembali dan bangun-tidur-bangun lagi di tanah perantauan, sisa-sisa rasa gembira dan bahagia yang terasa ketika pulang masih menyala dan sudah pasti menjadikan momen ‘pergi lagi’ terasa berat.

Contoh lain, ketika bertemu seseorang kemudian tanpa direncanakan saling jatuh hati lalu entah bagaimana segala hal tidak berjalan seperti yang diharapkan dan orang itu  seolah tereliminasi oleh seleksi alam dari lingkaranmu; move on nya susah. Lagi-lagi aftertaste dari sebuah pertemuan menyisakan bekas yang tanpa kita sadari mempengaruhi cara otak kita memproses suasana hati di saat-saat tertentu.

Atau, seperti ketika kita harus melanjutkan pendidikan atau karir di tempat yang berbeda dengan teman-teman dekat hingga akhirnya terpaksa berjauhan kemudian di tempat yang berbeda kita menyadari ada sesuatu yang terasa tidak lengkap.

 

Hanya saja ternyata…

Membiasakan diri dengan temu-pisah dan beratnya rasa kehilangan ternyata adalah bagian penting dari sebuah proses ‘bertumbuh’. Banyak bunga yang harus kehilangan kelopaknya sebelum berubah menjadi sebutir buah-buahan. Banyak daun yang harus gugur dari ranting pepohonan yang pada akhirnya tumbuh semakin tinggi dan rindang. Banyak rambut yang perlu rontok untuk memberi ruang pada rambut baru yang tumbuh kemudian. Banyak yang hilang dari sebuah proses. Dan itulah harganya.

 

So growing up sucks then

It is sucks. Tumbuh menjadi orang dewasa ternyata memaksa kita untuk ikhlas dan merelakan apa yang hilang dalam prosesnya. Waktu bersama keluarga, teman-teman akrab, momen-momen berharga, banyak hal terlewatkan dalam proses tumbuh.

Saya bahkan masih selalu ingin jadi anak gadis manja Papa, masih ingin bertemu setiap hari dan berdebat tentang hal-hal tidak penting dengan kakak adik lalu bertengkar memperebutkan pangkuan Mama. Masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk berpetualang dengan teman-teman senyawa. Tapi sekali lagi, semakin kita bertambah dewasa semakin sedikit waktu yang kita punya untuk hal-hal seperti itu, untuk hal yang selalu ada sejak kita bahkan belum bisa melangkah dengan sempurna. Perubahan rutinitas, perubahan lingkungan, dan berbagai perubahan lainnya sudah pasti akan kita hadapi.

Semakin kita dewasa, semakin sering langkah kaki mengantar kita pada tempat yang tidak pernah terbayangkan untuk menjadi tempat hidup, membawa kita pada situasi dan tanggung jawab yang tidak pernah diharapkan, mempertemukan kita dengan kehadiran baru yang tidak pernah diduga namun pada akhirnya menjadi begitu penuh makna.

Namun semakin kita menikmati prosesnya akan semakin kita menyadari bahwa tidak ada yang bertahan selamanya. Semakin kita peka dengan aturan mainnya, semakin kita aware dengan elemen-elemen di dalamnya.

 

Jadi…

Menyadari bahwa waktu dan masa tidak akan pernah terasa sama, maka belajar terbiasa dengan segala bentuk perubahan adalah kemampuan yang benar-benar harus kita kuasai. Pahami bahwa kehilangan dan perpisahan adalah pertanda bahwa kita benar-benar sedang menjalani hidup dengan ‘hidup’, bahwa hati kita bekerja sebagaimana sebuah hati harusnya bekerja. Hargai setiap momen yang datang dan nikmati sebaik mungkin seperti apapun rasanya. Jika momen itu berakhir, kuatlah menjalani hari-hari berikutnya dengan aftertaste yang tersisa hingga datang waktunya kita bertemu dengan bentuk lain dari sebuah temu-pisah.