);

Sekali waktu, aku duduk lama di sebuah warung kopi. Seingatku waktu itu aku sedang menunggu seorang teman. Atau mungkin hanya sedang iseng menghabiskan waktu sambil membiarkan matahari sedikit lebih teduh.

Sepuluh menit pertama, datang seorang pria paruh baya. Beliau langsung duduk tepat di depanku dan tersenyum ramah. Lima menit kemudian ia bertanya aku kebetulan lewat atau sengaja datang ke warung kopi ini. Ya semacam percakapan basa-basi.

Sepuluh menit kedua setelah si pria paruh baya duduk di depan ku, ia bertanya apa cita-citaku. Pertanyaan tiba-tiba yang ditanyakan oleh total stranger di tempat yang jarang aku datangi. Aku sempat terdiam dan berpikir dalam, ‘apa cita-citaku?’

Menjadi wanita karir? Menjadi pemilik restoran nasi Padang? Jadi perwira Polisi? Atau menjadi seorang pengajar? Aku sempat benar-benar bingung karena semua hal yang aku sebutkan ini, adalah keinginan yang di saat tulisan ini ditulis, belum satupun yang ‘jadi’.

Seingatku, waktu itu jawabanku sederhana; Ingin menjadi orang kaya. Bahkan sekarangpun, jika ditanya aku ingin menjadi apa (meskipun tidak ada lagi yang akan bertanya hal-hal seperti itu pada orang seumuranku), aku akan dengan senang hati menjawab “Ingin menjadi orang kaya,”.

Waktu itu reaksi si pria paruh baya hanya tersenyum lalu menjelaskan beberapa esensi yang perlu aku pahami dalam mengejar ‘cita-cita’.

 

Hukum Tarik-Menarik

Setelah selesai tersenyum bijak, si bapak paruh baya bertanya lagi, “Jadi cita-citamu ingin jadi orang kaya? Apa yang sudah kamu lakukan untuk meraihnya?” Aku terdiam. Berpikir lagi dan menjawab “Belum ada Pak.” Si pria paruh baya kembali tersenyum.

“Ketika seorang murid ingin nilai ulangannya bagus, apa yang dilakukannya? Belajar. Ketika seorang petani ingin tanamannya menghasilkan hasil panen yang memuaskan, apa yang dilakukannya? Memupuk. Ketika seorang pedagang ingin dagangannya laku, apa yang dilakukannya? Promosi. Sesederhana itu mengejar cita-cita,” jelasnya sambil sesekali mereguk kopi hitam di gelas beningnya. Aku terpaku menyimak.

“Jika ananda bilang cita-citanya ingin jadi orang kaya, tidak salah. Persoalannya, apa yang harus kamu lakukan untuk jadi orang kaya? Mengumpulkan harta jika kaya menurut ananda adalah banyak harta, belajar lagi dan lagi jika kaya menurut ananda punya banyak ilmu, kesana-kemari jika kaya menurut ananda adalah banyak pengalaman, menyayangi orang yang diakungi sepenuh hati jika kaya menurut ananda adalah memiliki banyak orang yang diakungi.

Mengejar apa yang kita mau tidak pernah berjalan dengan mudah. Tapi, ketika akal kita sanggup untuk membayangkannya, bukan tidak mungkin kita sanggup mengejarnya. Apa yang kita pikirkan, kita inginkan, seolah memang sedang menunggu untuk dikejar, atau bahkan sedang berjalan pelan-pelan menghampiri.

Murid yang belajar belum tentu nilai ulangannya bagus. Petani yang memupuk ladangnya belum tentu tidak gagal panen. Pedagang yang rajin berjualan belum tentu dagangannya laku. Dan orang yang rajin bekerja belum tentu langsung menjadi kaya harta.

Semua yang kita inginkan, belum tentu akan sampai ke tangan ini meskipun kita telah melakukan sesuatu. Apalagi jika kita tidak melakukan sesuatu?” jelasnya panjang lebar. Aku terdiam. Mencerna semua kalimatnya dengan tenang.

“Lalu solusinya Pak?” tanyaku penasaran. Kembali ia mereguk kopinya lalu menyalakan sebatang rokok gudang garam.

“Pikiran kita pasti selalu memikirkan apa yang kita inginkan. Otomatis semua yang kita lakukan mengarahkan kita untuk melakukan sesuatu demi mengejar keinginan itu. Sisanya, selain urusan yang paling berkuasa mengatakan Kun Fayakun itu, tunggu waktu menjawab. Jadi atau tidak cita-cita itu sampai ke tangan kita.” Aku tertegun.

 

Jadi…

Tidak ada kesimpulan yang bisa aku simpulkan selain masih penasaran dengan apa yang harus aku lakukan untuk mengejar keinginanku menjadi ‘orang kaya’. Bahkan aku mulai ragu ‘orang kaya’ yang aku mau itu kaya yang seperti apa.

Tidak ada jawaban yang bisa aku cerna lalu dihidangkan baik-baik sebagai referensi untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan pikiran yang lebih terarah.

Aku hanya bisa mencoba memahami bahwa hidup, keinginan, usaha, hasil akhir, sama sekali di luar kontrol yang hidup itu sendiri. Tapi yang tidak bisa aku lupakan adalah kalimat ‘jika pikiran kita sanggup memikirkannya, bukan tidak mungkin kita akan mendapatkannya’. Entah bagaimana, kalimat itu seolah terngiang-ngiang setiap kali aku memikirikan sesuatu. Terlebih ketika aku mulai memahami Law Of Attraction yang pro-kontra itu.

Namun pada akhirnya, aku mendapat pelajaran penting dari pembicaraan sederhana yang ringkas itu; sekalipun seseorang itu entah siapa, tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan terlibat pembicaraan bermakna yang akan menambah ‘bahan’ untuk dicerna oleh akal dan pikiran. Sejak saat itu, aku selalu tertarik untuk menemukan orang-orang baru dan bertukar cerita tentang hidup. Apparently, not every stranger is a total stranger.