" /> Dua Nenek dan Sungai Danube - SUCI BYT );

Angin sejuk sisa-sisa musim dingin masih meniup ranting-ranting gundul di Prater park. Cukup sejuk untuk membuat kopi pagi Renee kehilangan kepulan uap nya dengan segera. Kopi pagi dalam mug berwarna biru tua yang baru akan habis setelah matahari petang terlihat meleleh di permukaan sungai Danube. Sejak pertama paham dengan romantisnya rayuan kafein di pagi hari hingga bulan terakhir sebelum usia ke-65-nya ini, Renee selalu menghabiskan kopi pagi berlama-lama, one small sip to another small sip hingga mug-nya benar-benar kosong setelah malam bersiap-siap turun. Dan tentu saja, meskipun kopi itu mulai berhenti mengeluarkan aromanya karena terlalu lama dibiarkan.

Kerut di pipi Renee merapat karena bibirnya melengkung spontan mengetahui Laura mulai sibuk menyiapkan sarapan mendengarkan ketukan wajan dan kompor yang beradu dari dapur.

“Aku bisa cium aroma keju melelehnya dari luar,” sapa Renee sambil berjalan pelan mendekati meja makan. Laura hanya tersenyum sambil tetap sibuk dengan french toast grilled cheese-nya.

“Sudah minum vitaminmu?” tanya Laura menoleh dan kembali memperhatikan warna toast-nya. Renee mengangguk tanpa suara.

“Laura,” panggil Renee pelan. Laura mematikan api kompor lalu memandang Renee sambil mendekat dengan dua potong french toast yang terlihat crispy di tangannya.

“Ya?” jawabnya dan duduk di hadapan Renee kemudian menyodorkan toast berwarna keemasan itu pada Renee.

“Hari ini 38 tahun yang lalu, kau ingat kita ada dimana?” Renee mengambil potongan french toast di depannya sambil memandang Laura yang mengerutkan dahi dan menggeleng.

Have a walk with me abis ini ya?” tanya Renee lagi. Laura mengangguk dengan senyum mengembang di wajah keriputnya.

Keduanya menghabiskan toast masing-masing dan meminum jus mangga mereka sambil sesekali saling memandang dan tersipu diam-diam.

“Ayo,” kata Renee berdiri dan mengulurkan tangannya meminta Laura berdiri. “We’ll clean the table later,” tambahnya menyambut uluran tangan Laura sambil lagi-lagi mempertontonkan lengkungan bibirnya yang tidak simetris.

“Kita mau kemana?” tanya Laura penasaran.

Just a small walk ke taman di ujung jalan, aku ingin menghabiskan selusin menit di pinggir Danube,” jawab Renee.

 

Sungai Danube dan arusnya yang sedang begitu tenang mengalir. Di depan pohon oak yang kedinginan, Renee dan Laura duduk bersebelahan lengkap dengan pakaian berlapis mereka. Syal maroon yang melingkar di leher Renee membaur sempurna dengan coat abu-abu berbahan katun raminya. Tubuh mungil Laura terbungkus plaid black coat dengan corduroy pants berwarna senada. Renee memandang jauh menyebrangi sungai. Sudut mata tua yang menampung banyak garis halusnya mulai basah. Lama Renee terdiam sebelum menghirup napas panjang dan mulai bersuara.

“Tiga puluh delapan tahun yang lalu, hari seperti ini kita duduk berhadapan di depan jendela sambil sesekali memperhatikan Anson road yang baru saja disiram hujan.” Renee kembali memandangi tepian sungai lalu menggenggam tangan Laura erat. “Aku masih ingat dengan jelas jernih bola mata dengan pupil Long Black-mu mendengarku bercerita tentang dua nenek tanpa cucu mengasingkan diri untuk berdua, jauh dari semua hanya untuk berdua.” Renee berhenti dan memutar badannya menghadap Laura yang menatapnya teduh.

“Laura, aku tidak tahu siapa yang akan pulang lebih dulu antara kita. Yang aku tahu, hidupku terasa hidup semenjak kau tarik tanganku di belakang panggung waktu itu, dan hari ini kita adalah dua nenek itu,” sambungnya dengan suara bergetar membuat mata pudarnya yang tertutup kelopak sayu benar-benar basah. “Laura, kita masih punya setahun, dua tahun, lima atau sepuluh tahun lagi. Kita juga bisa hanya punya sebulan atau sekali pagi lagi, aku tidak tahu. Namun hidup disini dan menyadari bahwa ujung petualanganku ditutup dengan hadirmu masih ada, dua perempuan muda yang begitu kasmaran 38 tahun yang lalu itu akan sangat bangga pada cita-cita cintanya,” tutup Renee sambil menyandarkan kepalanya di bahu Laura.

Laura menghela napas mengisi rongga dadanya yang terasa hangat. Jelas ada banyak salju yang meleleh di dalam sana. Terlalu meleleh hingga dua matanya yang masih saja terlihat menyala mulai basah. Laura melingkarkan tangannya di pundak Renee lalu mengusap wajah Renee dengan mata ikut memperhatikan permukaan Danube. Of course they are, bisiknya membatin sambil membiarkan lelehan salju tadi meluncur dari ujung matanya.

“I’m proud of us,” ucapnya pelan.