);

WARNING!!! This post contains some emotional feeling if you know the one I am talking about. This post is dedicated to my partner Tami Julian as tribute for being my best partner and my super bestfriend this whole time.

Sebulan yang lalu (mungkin lebih), aku menulis sebuah hadiah untukmu. “A Letter to A Super Bestfriend”. Tulisan yang bisa saja mengubah semua hal yang sedang berjalan manis menjadi rumit dan tidak menarik lagi. But not for us.

I called you San. You called me San. Special nickname for both of us semenjak lebih dari 5 tahun yang lalu kita banyak menghabiskan waktu bersama. Seolah waktu itu hadirmu sengaja dihadiahkan oleh Sang Sutradara sebagai warna baru dalam kisah hidup seorang Suci.

Yang tadinya aku tidak pernah peduli dengan rambut kusut atau muka kusam justru sangat ingin terlihat menarik di depanmu. Yang tadinya aku tidak pernah peduli dengan perut yang semakin buncit karna gaya hidup tidak sehat justru mulai berpikir untuk mulai merawat diri, karnamu. Julian.

Jika diceritakan satu persatu, aku akan kehabisan waktu untuk menuliskan semua kenangan denganmu. Mulai dari perjalanan singkat dari Padang ke kampungku Maninjau dengan sepeda motor yang terasa begitu menyenangkan, hingga tentang sosis bakar di pantai Padang yang kau kenalkan padaku bertahun-tahun yang lalu. Mulai dari proyek perdana yang melibatkan kita berdua, hingga party planner kecil-kecilan yang kita bangun berdua.

To me, you are my perfect partner. Partner yang selalu hadir di segala situasi, yang selalu mendengarkan di semua jenis kusut, konsultan yang selalu memberi saran terbaik di segala bimbang, tutor yang mengajariku photoshop, dan influencer yang selalu mengajakku untuk tertarik dengan apapun yang kau senangi, termasuk melukis dengan cat air di tahun-tahun menganggur kita waktu itu.

I asked you about everything. Ketika aku berniat membeli sepatu, tidak ada orang yang aku tanyai selainmu. Ketika aku kebingungan dengan persoalan gadget, kau selalu menjadi tempat bertanya favoritku.

Until that day, hari ketika seolah yang terdengar dan terlihat adalah mimpi buruk panjang yang tidak  juga berakhir meskipun aku telah bangun, tidur dan bangun lagi, tidur lagi berkali-kali. Hari ketika aku berusaha percaya bahwa kau tidak bisa lagi dihubungi meski ditelfon berkali-kali. Hari ketika dengan susah payah aku harus berhenti menangis hanya karna tidak tau lagi harus berkata apa.

Lalu hari ini, seminggu setelah berita menyakitkan itu, aku baru sanggup memberanikan diri menulis sesuatu sepanjang ini. Karna meskipun aku telah berhenti menangis melepasmu, tetap saja jika teringat namamu masih ada beban berat yang membuat dadaku terasa sempit.

Hari ini adalah hari kesekian aku berhenti menangis. Namun bukan berarti aku berhenti merasa kehilangan. Dan meskipun aku sangat kehilangan partner terbaikku, bukan berarti aku harus dirundung duka berminggu-minggu. No. Kau tidak akan suka dengan hal-hal seperti itu. Yang aku tau, kau sangat bangga karna akhir-akhir ini aku menjadi semakin tangguh. Sudah lama kau tidak mendengarku mengeluh bukan?

Julian. Aku menulis ini bukan untukmu, bukan untuk orang lain yang juga kehilangan hadirmu. Aku menulis ini untuk diriku sendiri. Untuk mengingatkanku bahwa aku tidak boleh menangis lagi karna tentu saja kau sekarang berada di tempat terbaik. Lebih baik dari tempat kami yang kau tinggal ini.

Tadinya aku ingin marah karna kau berhutang ‘a proper goodbye’ padaku. Lalu aku urung menganggapnya hutang sebab aku harusnya berterimakasih. Padamu, juga pada Sutradara kita yang memberiku kesempatan sekali lagi bertemu dan memperhatikanmu makan dengan lahap malam itu.

Julian. Aku menulis ini untuk menyimpanmu baik-baik di ruang ingatan paling rapi yang pernah aku punya. Agar jika suatu hari aku mulai pikun atau mudah lupa, aku tau kau pernah ada di sana, di tahun-tahun terbaik masa mudaku.

Tulisan ini untukku, untuk menguatkanku yang kehilangan bagian termanis dalam ceritanya. Kau adalah chapter terbaik dalam hidupku. Itulah sebabnya sulit bagiku untuk menyadari bahwa tidak adalagi seorang Julian di hari-hari besarku nanti. Hari apapun itu.

Maka Julian, jika aku keliru menyimpulkan riang matamu malam itu ketika bertemu lagi denganku, cukup tegur aku dengan hadir dalam mimpi-mimpiku. Jika aku benar dan kau hanya terlalu kelu untuk mengaku, cukup restui aku jika suatu hari aku bertemu orang lain yang akan membuatku kembali tertawa, selepas tawaku ketika denganmu di pinggir Batang Arau malam itu.

Julian, selamat jalan! Punggungmu akan tetap jadi punggung kesukaanku.

_____________________________________________________________________________

(An English Version Of “Hey, Julian”)

 

Months ago, I wrote you a letter; “A Letter To A Super Best friend”. A bunch of words and lines that might’ve changed anything we had. The kind of writing that might ruin our friendship. But not for us.

I called you San, you called me San, a special nickname for both of us for 5 years when we used to spend most of our time together. Feels like your presence were a present from The Almighty as a new color in my path.

 I never care enough about the way I looked, I don’t care if my hair got messy. I totally don’t care if I have pimples on my cheek, and I really don’t care if my fat belly looks way more pointed than my breasts. But with you, I wanted to be seen as an attractive pretty girl.

 But Julian, if I have to tell a story about you and me right from the zero points to this day, I’d be running out of time. From our Padang-Maninjau road trip to the sausage shop you take me at the beach. From a small project in which both of us were involved to our small party planner.

Julian, you’re a perfect partner to me. The kind of partner who will always be there when everything gets messed up. The kind of partner who always listens to my bullshit about things that ruin my mood in some random days. The kind of partner who becomes my instant consultant about things that confuse me. The kind of partner who teaches me things, a tutor who taught to photoshop. A kind of partner who influenced me to drown into anything you like.

I asked you about anything. Whenever I want to buy something, you were the only person I asked about which one should I get. Every time I got confused with some electronic devices, you were my favorite person to talk to.

Until that one horrible day comes. The day when all I saw and all I heard feels like a long nightmare that won’t stop even if I tried to wake up, sleep again, wake up and sleep again so many times. The day when I cried my self to stop crying just because I was too tired of crying and have nothing else to say.

But then today, it’s been a week since that news almost killed me. I have to pull my self together and face it. I put my best effort to have such courage to write something about you. Without even a tiny drop of tear.

But San, just because I’m done crying doesn’t mean I’m done missing you. Believe me when I say I still have a heavy weight in my chest everytime I hear your name in the news. But just because I lost my perfect partner doesn’t mean I have to cry for weeks. No, you won’t like that. Because all I know, you were so proud watching me grow this tough. And I’m going to keep it that way.

Julian, this writing is not for you, not for anyone who feels the same loss of losing you. I write this for me. To remind me that I can’t cry anymore because why would I cry for the one who is in a better place, a lot better than mine in fact.

I was about to be mad at you because you owe me a ‘proper goodbye’. But then I won’t face this that way. In fact, I should be thanking you and be so grateful to The Almighty because we had one more chance that night to meet again and talk. I should be so grateful because that night, I still had a chance to see you eat those noodles.

Julian, I wrote this to keep you safe in the best memory storage I ever had so that one day when I get senile, memory loss, I know you were there, in the most beautiful years of my youth.

Again, I wrote this for my self, to bear out my self who lost the sweetest perfect part of her story.

Julian, you were the best chapter of my life. That’s why this loss feels so hard for me because I know, there will be no Julian anymore out there, somewhere, to watch me finally achieve my biggest dream. There will be no Julian to say “San, you’re doing great” at any big days anymore. It feels so hard for me because I didn’t just lose the best partner, I didn’t just lose my best friend, but I lost the best part of me, I lost the love of my life, all at the same time.

So Julian, if I mistook the bright shine of your eyes that night, please just say something, I’ll be waiting for any explanations in my dream, meet me there. But if I was right and you were just being too shy to admit, please just bless me enough that one day I meet someone who can make me laugh again as warm as our laugh that night aside Batang Arau River.

Julian, your back will always be my favorite back!