" /> Homo Sapiens dan Super Power - SUCI BYT );

Look, we all know sapiens. I mean, some of my best friends are sapiens. When sapiens feel safe, they’re the nicest people you could meet” – MR. Hoy, SENSE8 –

 

Secarik kalimat yang terlontar dari mulut Mr. Hoy di sebuah episode dalam series berjudul Sense8 ini memancing ingatanku untuk mengingat banyak film atau series lain yang memperlihatkan berbagai jenis manusia. Mulai dari orang-orang yang obsesi dengan harta hingga tidak pernah ragu untuk menyakiti orang lain demi mendapatkan apa yang mereka mau, orang-orang yang gila kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk menjadi lapisan lebih tinggi dalam siklus rantai makanan, hingga orang-orang dengan semangat dan keinginan yang begitu kuat untuk meraih apa yang menjadi impian mereka. Di saat bersamaan, film-film dan series yang selalu membuatku betah memandang layar berlama-lama itu juga menggambarkan spesies lain dari eksistensi manusia dalam berbagai cerita. Sebut saja Mutan dan manusia super lainnya yang muncul dalam universe-nya Marvel, DC, dan kawan-kawan. Atau manusia setengah robot dengan kemampuan AI, manusia vampir dan manusia serigala, mermaid, manusia keturunan penyihir seperti Hermione dan sahabat-sahabat Hogwarts hingga spesies Homo Sensorium yang baru-baru ini begitu menarik perhatianku sebab aku sedang keracunan 8 tokoh yang begitu beragam di Sense8.

Terlepas dari segala jenis manusia yang digambarkan dalam cerita-cerita fiksi tersebut, sesekali saya sengaja iseng berpikir bagaimana jika kita manusia memang tidak sendiri. Bagaimana jika di permukaan bumi ini memang ada jenis manusia dengan kelebihan dan kekurangan yang digambarkan film-film apik itu. Bagaimana jika salah satu dari kita ternyata adalah keturunan penyihir atau memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Profesor Charles di X-Man. Bagaimana jika kita hanya tidak tau dengan kehadiran spesies lain yang ikut meramaikan kehidupan di kerak bumi ini. Lantas jika benar-benar ada, tetapkah kaum Homo Sapiens menjadi seberbahaya yang selalu digambarkan itu? Atau kita hanya akan menjadi makhluk rapuh yang siap musnah sebab ada banyak jenis makhluk dengan kekuatan super di luar sana?

Pertanyaan-pertanyaan ini menggiringku untuk berpikir lebih jauh tentang kita, manusia dan segala hal yang kita temui di kehidupan makhluk Bumi. Tentang hal-hal yang membuat kita spesial, tentang persoalan yang menjadikan kita kuat, tentang elemen yang membangun kita menjadi ‘kita’.

 

Manusia Makhluk Berbahaya?

Seringkali setiap aku menamatkan satu judul series atau film yang bercerita tentang konflik antara manusia biasa dengan spesies manusia lainnya, atau antara manusia biasa dengan hewan-hewan, manusia biasa dengan zombie, manusia dengan dinosaurus, dan manusia dengan makhluk lainnya, aku selalu punya kesimpulan; manusia bisa menjelma menjadi makhluk paling berbahaya. Lebih berbahaya dibanding jenis makhluk lainnya.

Bermodal obsesi akan kekuasaan dan harta, atau sedikit God Syndrome, manusia bisa menjelma menjadi sosok menyeramkan yang mengancam eksistensi makhluk lain. Well, bahkan manusia memiliki kemampuan untuk membahayakan kaumnya sendiri. Jangan lupa dengan insiden besar di kehidupan nyata yang mengorbankan banyak nyawa seperti serangan bom di berbagai tempat, Holocaust, perang, dan peristiwa lainnya.

Sifat-sifat buruk yang selalu ada dalam diri kita manusia seperti tamak, arogan, dengki, rasa takut dan segala hal negatif itu dibungkus dengan baik oleh para creator yang menghasilkan cerita-cerita tentang perjuangan surviving, perang, perlawanan, dan kisah lainnya yang menggambarkan betapa berbahayanya manusia jika sifat-sifat buruk itu dibiarkan tumbuh.

Sebut saja perjuangan Rick Grimes dan keluarganya yang kehilangan banyak orang penting dalam hidup mereka di dunia yang penuh dengan para zombie namun kematian yang dipertontonkan adalah hasil kekejaman manusia. Atau cerita hidup para mutan yang terancam di dunia X-Man karena manusia berusaha menekan kehadiran mereka sebab rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu yang berbeda dan tidak mereka ketahui. Atau bahkan kisah perperangan di Game of Thrones yang memperlihatkan bahwa ketamakan manusia jauh lebih berbahaya dari seramnya para White Walker pasukan The Night King.

Maka, tidak salah jika aku berani berkesimpulan bahwa manusia memang adalah makhluk yang berbahaya terlepas dari segala keterbatasan kita sebagai Homo Sapiens biasa.

 

Sekuat Apa Kita?

Kembali lagi ke pertanyaan-pertanyaan khayalan tadi; bagaimana jika kita memang tidak sendiri?

Well, terlepas dari semua keterbatasan kita sebagai manusia biasa dan perbandingannya dengan kemampuan serta kekuatan spesies lain seperti mutan, Homo Sensorium, atau para pahlawan super, kita manusia memiliki kesamaan yang sama-sama membuat kita spesial dan kuat; nurani, cinta dan rasa takut.

 

Maka beruntunglah kita para manusia biasa si Homo Sapiens yang sering digambarkan sebagai makhluk yang buruk ini karena kita tidak mempunyai kekuatan lain selain nurani, cinta dan rasa takut. Sebab seperti yang selalu disebut dalam setiap kisah superhero, with power comes price. Lebih jauh lagi, terkadang kekuatan spesial seringkali menjadi kelemahan dari yang memilikinya. Super-nya Superman lemah terhadap Cryptonite, tangguhnya mutant lemah dengan serum The Mutant Cure, apiknya ke-vampiran kalah oleh sinar matahari, and so on.

Bayangkan betapa tangguhnya kita dengan kekuatan nurani, cinta dan rasa takut yang nyaris tanpa cela. Bayangkan betapa beruntungnya kita yang memiliki rasa takut yang membuat kita memikirkan banyak cara untuk bertahan, memiliki nurani yang menjadikan kita menjalani hidup ini dengan banyak jenis perasaan dan empati, yang kombinasi keduanya menghasilkan koneksi tidak terbatas antara kita dengan banyak manusia lainnya, yang menghasilkan cinta dan segala efek sampingnya yang luar biasa. Rasa takut, cinta dan nurani yang membuat kita sanggup merasakan dan memikirkan apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain tanpa perlu menjadi bagian dari cluster tertentu dari peradaban para Sensate.

Jadi…

Seperti Steve Rogers yang memilih untuk menjadi manusia biasa dan menjalani kehidupan yang diinginkannya, atau seperti Bella Swan yang memutuskan untuk menjadi vampir demi hidup panjang bersama kecintaannya, kita sebagai manusia juga bisa memilih. Memilih untuk menjadi kuat dengan nurani yang tidak diabaikan, memilih untuk menjadi tangguh dengan rasa takut yang dipahami, dan memilih untuk meredam segala bentuk buruk yang bersembunyi jauh di dalam bagian tertentu diri kita agar tidak menjadi makhluk yang berbahaya dan tidak membahayakan orang-orang di sekitar kita, memilih untuk mencintai.

Seperti Nomi, Lito dan para Sensate lainnya yang terkoneksi secara sensor di tubuh mereka, kita si manusia biasa Homo Sapiens yang katanya banyak kekurangan itu bisa memilih untuk terkoneksi dengan manusia-manusia lain dan merasakan apa yang orang lain rasakan dengan kekuatan spesial kita tadi; nurani, cinta dan rasa takut.