);

Kita berevolusi. Kita berubah setiap hari, sekecil dan sesederhana apapun itu. Jika kemarin kita tanpa sengaja menginjak tokai guguk tetangga, maka hari ini kita memilih untuk menaruh langkah di bagian lain untuk menghindari insiden kotor ini, contoh sederhana dari ‘berubah’ itu sendiri. Perubahan terjadi karena kita belajar, perubahan terjadi karena kita ditempa, perubahan terjadi karena kita benar-benar berevolusi.

Hal yang sama berlaku pada the whole package of you. Mulai dari kebiasaan kecil, cara berpikir, cara berbicara, dan banyak detail lainnya. Akan ada banyak perubahan yang terjadi sadar tidak sadar, suka tidak suka. Semakin kita tumbuh, semakin kita berubah. Perlahan, kita mulai merasa tidak sedang berada di tempat seharusnya kita berada. Perlahan juga, kita mulai merasa tidak sesuai dengan orang-orang di sekitar. The hard truth, termasuk keluargamu.

 

Sounds rebel? I guess not.

Begini, esensi dasar dari sebuah bertumbuh adalah tentang perubahan dan acceptance masing-masing soal perubahan tersebut. Sayangnya, tidak semua pihak sanggup menerima dan menghargai perubahan yang terjadi, bahkan individu yang berubah itu sendiri. Alhasil, lebih dari setengah nama yang kita kenal tanpa rasa bersalah akan mengeluarkan kalimat-kalimat bernada judgemental atau memaksakan kita untuk tetap menjadi ‘kita’ yang mereka harapkan. Lebih sayang lagi, seringkali orang-orang yang tidak bisa menerima perubahan itu adalah orang tua dan keluarga sendiri.

Mungkin your siblings tidak bisa terima bahwa hari ini selera musikmu bukan lagi jenis lagu yang sama yang sering kamu dengar bersama-sama dulu. Mungkin ibumu tidak suka dengan caramu memperlakukan rambut cantik itu. Atau ayahmu tidak bisa terima bahwa hari ini kamu lebih senang menghabiskan lusinan menit dalam hari-harimu untuk duduk menyudut dan tenggelam dalam bacaan kesukaanmu. Lebih jauh lagi, kita mulai berpendapat tentang sesuatu yang sama sekali tidak sejalan dengan prinsip orang-orang terdekat yang somehow membuatmu merasa butuh untuk menjauh demi menghindari pergesekan.

Perubahan membuat banyak orang merasa tidak cukup atas dirinya bagi orang lain terutama bagi orang tuanya. Perubahan membuat seseorang merasa tidak diterima di lingkungannya. Perubahan benar-benar membawa efek samping dalam proses interaksinya sebagai makhluk sosial. Faktanya, tidak semua orang sanggup menghadapi respon orang lain terhadap perubahan yang ia alami.

Pada akhirnya, banyak yang menyerah dan melepaskan diri sendiri agar bisa fit to the society dan memenuhi harapan keluarga mereka. Bagus jika setelah melakukan hal tersebut kamu bahagia saja. Namun alangkah menyakitkannya jika pelan-pelan kamu kehilangan esensi self-love mu dan terjebak dalam lingkungan yang memaksamu untuk tidak menjadi diri sendiri. Hal sederhana mendadak akan menjadi sesuatu yang sangat rumit. Berbagai scary voices mulai berdatangan di sleepless night mu. Kamu mulai merasa tidak cukup untuk segala hal, merasa tidak cukup untuk semua orang.

 

Lantas?

Jika saja semua orang sanggup memahami bahwa kita punya hidup sendiri-sendiri yang akan dipertanggung jawabkan sendiri-sendiri. Jika saja semua orang mampu menghargai perubahan dan menerimanya sebagai bagian dari diri individu itu sendiri. Jika saja semua orang mengerti bahwa cara kita memilih bahagia tidak akan pernah sama. Maka semua tentu akan terasa lebih mudah. Hanya saja cara kerja hidup tidak seperti itu.

Satu-satunya jalan adalah mengalah atau disiasati dengan cerdas. Caranya? Nanti kita bahas lain kali.