);

Langit sedang sedikit mendung ketika aku menulis ini. Sejurnya dari pagi pun langit sudah seperti ini. Dan aku tidak sabar menunggu hujan turun padahal tadinya aku tidak suka dengan hujan. Tapi jenis ketidak sukaanku pada hujan bukan dengan hujannya, aku hanya tidak suka hujan ketika aku harus bepergian jadi hujan membuat langkahku sedikit terhambat. Sementara memperhatikan rintiknya dari dalam rumah, aku jelas suka sekali.

 

Dulu pertama kali aku menginjakkan kaki di Kuala Lumpur untuk berlibur, hal pertama yang aku perhatikan selain jalanan adalah hujannya yang terlihat begitu ‘mendalam’. Aku juga bingung harus menjelaskan kata ‘mendalam’ tadi seperti apa. Tapi yang jelas, setiap hujan turun di sini aku masih saja terkagum-kagum dengan langit dan segala hal di luar jendela yang mendadak terlihat putih seolah dipenuhi embun pagi. Belum lagi rintik rapatnya yang turun tergesa-gesa dan membuat jalanan terlihat semakin cantik. Ketika malam, pemandangan di luar jendela akan menjadi pemandangan favoritku karena pantulan lampu kendaraan dan lampu jalan memberi warna pada si aspal hitam sebab permukaan mereka sedang basah oleh genangan air hujan.

 

Bicara Soal Air

Bicara soal hujan tidak jauh dari pembahasan soal rintik dan rintik adalah wujud paling menarik dari elemen bernama air. Bicara soal air, pikiranku langsung mengarah pada pembahasan mengenai air minum. Dan membahas soal air minum, aku begitu takjub dengan akses air minum di sini.

Mungkin aku hanya terlalu norak atau tidak pernah melihat hal-hal seperti ini sebelumnya tapi yang aku tahu, ada banyak hal yang terkelola dan terencana dengan baik di sini. Tentang air minum ini contohnya.

Jika banyak orang sudah menggunakan water filter atau air keran yang langsung bisa di minum di rumahnya, aku dan housemate-ku lebih memilih untuk mengisi galon air minum kami di mesin drinking water yang berdiri apik di setiap sudut di sekitar kawasan perumahan. Selain dengan alasan berhemat, kami sengaja mengisi galon di mesin yang berada tidak jauh dari rumah dengan alasan biar setidaknya kami ‘bergerak’ sebagai pengganti olahraga.

 

water vending machine

 

Mesin Air Layan Diri

Alias water vending machine adalah mesin penyaring air yang dikeluarkan oleh produsen RO water filter dan dapat dimiliki oleh pihak swasta. Mesin-mesin ini kemudian ditempatkan di titik-titik yang dekat dengan kawasan perumahan.

Mesin air ini mengeluarkan air yang siap minum hanya dengan menggunakan uang koin dengan nilai 10-50 sen. Untuk satu galon dengan kapasitas 6 liter kita hanya perlu memasukkan koin dengan nilai 60 sen. Sementara harga rata-rata air minum dengan ukuran 6 liter  yang di jual di berbagai super market dan groceries store adalah RM 7-8. Bayangkan selisih harga yang bisa kita sisihkan dari hal se-mendasar air minum.

 

pencet sendiri, isi sendiri

 

Tidak jauh dari bangunan tempat aku tinggal ada satu mesin air yang terdekat dan menjadi langganan kami untuk mengisi ulang galon setiap 1-2 minggu sekali. Dengan posisi sumber air minum yang tidak terlalu jauh itu dan harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan air minum dengan kualitas yang sebagus itu maka tidak ada alasan lain untuk tidak memanfaatkan fasilitas semurah dan memudahkan ini.

Dari mesin air ini aku belajar bahwa ternyata ada cara tersirat untuk menghimpun uang koin yang kebanyakan menjadi uang yang terabaikan. Penggunaan mesin air setidaknya mendorong orang-orang untuk lebih menghargai keberadaan uang koin dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sepenting air minum.

Di samping itu, aku semakin paham, bahwa uang sebanyak apapun kalau dihabiskan dengan gaya hidup yang membutuhkan banyak biaya tidak akan terasa cukup. Jadi bisa dibayangkan betapa gaji yang berkisar di atas rata-rata akan terasa sangat besar jika dihabiskan dengan gaya hidup yang bergantung pada ‘mesin air layan diri’.

 

Sampai jumpa di Kelana part 3