);

Beberapa Sabtu yang lalu, aku terlibat pembicaraan yang cukup menarik dengan seorang teman. Berhubung orang ini tau kalau aku adalah satu dari sedikit sekali orang yang masih suka dengan eksistensi surat cinta, ia memintaku menuliskan kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf panjang untuk menceritakan proses jatuh cintanya pada seseorang.

Which is why I wrote this post dengan maksud sekedar berbagi rasa kasmaran yang mungkin sedang hilang, atau sekedar berbagi bagaimana manisnya sensasi membaca sebuah surat cinta.

For your information, the next part is going to sounds a bit lame, or cheesy (you name it). Karna tidak semua orang senang dengan kalimat-kalimat berbau ungkapan-ungkapan perasaan seperti ini.

So here it was.

____________________________________________

Hello there. I don’t know where to start. Tapi menulis kalimat ini dan kalimat-kalimat berikutnya terasa akan memulihkan gelisah yang sedang aku idap.

Gelisah? Exactly. Padahal semenjak beberapa tahun belakangan berakhir tidak baik bagiku dan kisah saling menitipkan hati, aku seolah berhenti menemukan cara untuk kembali merasakan berbunga-bunganya jatuh cinta.

Kau adalah orang lama yang sempat hilang dalam rumus-rumus lingkaranku. Lama sekali sebelum kita kembali bertemu suatu hari. Berhubung aku adalah orang yang tidak terlalu percaya dengan istilah ‘kebetulan’, maka pertemuan itu membuatku pelan-pelan percaya bahwa ada cerita yang sedang menunggu untuk diperankan kemudian hari.

Tadinya bertukar cerita denganmu biasa saja, sama sekali tidak mengganggu cara paru-paruku memproses oksigen yang terhirup. Tadinya bertatap muka denganmu biasa saja, sama sekali tidak mengganggu caraku mengambil gelas atau menyuap nasi yang entah bagaimana tiba-tiba seolah harus terlihat sempurna. Tadinya aku tidak perlu merasa harus wangi setiap saat hanya agar kau tau aku ini sedang berusaha terlihat menarik.

Tadinya, tersenyum padamu hanya sebuah senyum biasa. Hingga suatu hari bahkan melihat punggungmu saja senyumku bisa melebar from ear to ear.

Mungkin jenis reaksi yang sedang diproses tubuhku sering dirasakan banyak remaja SMA yang sedang merasakan sensasi cinta monyet. Mungkin bagimu, masa-masa itu sudah sangat lama berlalu dan kau bisa saja lupa dengan manisnya susah tidur karna kepikiran orang tertentu.

Kali ini, aku yang menjadi anak SMA itu. Hanya saja aku tidak bisa lagi menyebutnya cinta monyet, sebab antara kau dan aku ada sesuatu yang lebih rumit dari sekedar kisah cinta anak SMA.

Sebelum kau terlalu bingung bagaimana aku bisa seperti ini, mungkin harus kuceritakan sedikit bagaimana rasanya ketika pintu harapanku tentang ‘melangkah’ kembali terbuka ketika kita kembali bertemu.

Atau perlu kuceritakan juga bagaimana rasanya ketika dengan spontan kau menghadiahkan pelukan hangat di depan rak buku sesaat setelah aku mendapat panggilan kerja. Well, pelukan sehangat itu atas pencapaianku baru kudapatkan sekali, dan itu dulu sekali ketika dengan keringat dingin aku berhasil keluar dari ruang sidang skripsi.

Oh atau mungkin perlu kuceritakan juga bagaimana rasanya ketika aku sedang merasa gamang, dan kau memintaku untuk ‘berteduh’ di bawah payungmu saja.

Yang jelas, berbagai ‘kejadian’ itu seolah mengubah reaksi otakku atas kehadiranmu setiap hari. Atas suaramu yang kudengar setiap hari. Dan atas caramu memanggil namaku setiap pagi.

Berkali-kali aku coba ceritakan gejala aneh ini di sela pembicaraan kita tentang isi kepalamu yang luar biasa. Berkali-kali juga aku berkesimpulan bahwa kau ini adalah ‘makhluk tidak peka’. Itulah alasannya aku harus memaksamu membaca tulisan ini.

Mungkin setelah selesai mengeja kalimat-kalimat ini, kau baru mengerti bahwa sore itu aku ingin sekali mengurangi jarak antara bahu kau dan aku lalu berbisik ‘I can do better than that person you love’.

Atau mungkin kau baru akan paham kalau malam itu aku ingin sekali melangkah lebih dekat lalu bilang ‘Orang itu kamu’.

So, yeah. Setelah membaca ini, kau harus tau bahwa malamku sudah jarang berlalu tanpa memikirkanmu terlebih dulu sebelum aku tidur. Setelah membaca ini kau juga harus tau bahwa aku ini sulit sekali mendengar omongan orang lain, and if there is someone I would listen to, it was you.

Setelah membaca ini kau juga harus tau, bahwa aku menjadi versi terbaik diriku setelah menghabiskan banyak waktu denganmu. You cure me at all level of my sickness. But at the same time, you are the reason why I am calling my self ‘sick’.

After all, thankyou for letting your eyes keeping up with my confession. See you on the next level!