);

Pernah dengar nasihat “jangan mengeluh terus, tidak ada gunanya”? Kamu setuju?

Well, sebelum lebih jauh saya ingatkan bahwa tulisan edisi kali ini berisi banyak hal yang mungkin tidak sejalan dengan caramu memandang sesuatu. So if you find something does not fit your logic, close the page.

 

Here we go…

Pada dasarnya kita semua memiliki kemampuan yang sama; mengeluh. Setiap orang mampu mengeluh dengan fasih dan dengan cerdas sanggup merinci segala detail tentang hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidupnya lalu membentuknya dalam sebuah narasi yang mungkin butuh untuk didengarkan oleh orang lain. Benar?

Jujur saja, saya sendiri adalah orang yang mahir dalam mengeluh dan cukup sering mengeluh. Tapi persoalan mengeluh berguna atau tidak, saya tidak janjikan jawaban pasti. Sebab sekali lagi, belum tentu cara kita memandang sesuatu sejalan.

 

Mengeluh, apa itu?

Mengeluh adalah sebuah proses mengeluarkan segala hal yang mengganggu esensi damai dalam hati, merusak mood di hari tertentu, mengganjal pikiran, dan lain sebagainya lewat sebuah narasi yang bisa disampaikan lewat curhat, bergunjing, mengadu, merengek, dan berbagai bentuk lainnya.

Semua orang punya kemampuan mengeluh. Jika dipersilahkan dengan baik seseorang akan mengeluh berlama-lama di telingamu. Dengan rinci!

Nah jika seseorang yang mengeluh itu menemukan tempat untuk menumpahkan luapan rasa tidak senang dan tidak puasnya terhadap sesuatu itu merasa lebih lega setelah didengarkan, mengeluh menjadi berguna atau tidak?

 

Kenapa seseorang bisa mengeluh?

Terlepas dari kemampuan mengeluh super expert yang dimiliki setiap orang ini, mengeluh adalah sebuah tindakan yang bisa dihindari dan bisa dibiarkan memakan kemampuan manusia lainnya; bersyukur.

Mengeluh menjadi cara kita untuk meratapi sesuatu yang tidak sejalan dengan harapan ketika kita sedang begitu lelah dan lupa untuk bersyukur atas segala hal baik yang ternyata jauh lebih menarik dan lebih berlimpah ketimbang hal-hal buruk yang dikeluhkan itu.

Hanya saja sebagai manusia yang tidak bisa selalu menjadi bijak ini kita seolah sedang berjalan di atas seutas tali. Ketika keseimbangan sedang minus, perjalanan terasa begitu sulit dan kita bisa terjatuh kapan saja. Sebaliknya, ketika kita sedang dalam kondisi (mental) yang jauh dari energi buruk, meniti seutas tali itu tidak akan terasa begitu menyulitkan karena hanya perlu melangkahkan kaki bergantian.

Persoalan mengeluh tadi pun begitu. Ketika sedang ditempa banyak hal yang berkali-kali membuat hati kecewa, perasaan terluka, ego terusik, dengan mudah segala hal yang tadinya tidak terlihat dan tidak terasa akan mengapung dan menumpuk menjadi satu lalu memaksa untuk dikeluarkan lewat sebuah keluhan. Akibatnya, kita luput bersyukur. Sekali lagi, kita luput bersyukur.

 

Lalu bagaimana?

Jika ditanya apa gunanya punya teman yang bisa diajak berbicara, salah satunya adalah untuk mengatasi situasi seperti ini. Dimana mengeluh bukan lagi sekedar proses mengutuk sesuatu yang tidak disukai melainkan mengeluarkan racun yang mengganggu ketentraman hati. Maka untuk menghindari mendengar teman-temanmu mengeluh, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk mengingatkan mereka betapa dirinya berharga, betapa hidup mereka penuh dengan banyak hal indah, betapa perjalanan mereka sering dihinggapi kejadian-kejadian luar biasa yang membuat petualangan mereka unik dan berharga. Tidak ada salahnya mengeluarkan pujian untuk mengingatkan temanmu bahwa mereka berwarna, bahwa hidup mereka tidak seburuk itu.

 

Bagaimana jika tidak ada orang yang mengingatkan itu?

Tugas kita adalah mencintai diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengharapkan orang lain peduli dengan kehadiran kita. Tugas besarnya adalah melakukan sesuatu untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengharapkan orang lain melakukan sesuatu untuk kita.

Jika benar-benar tidak ada telinga yang bisa diharapkan untuk mendengar bahkan hanya sekedar ‘hari ini terlalu gerah bajuku sampai lecek karena keringat’-mu, mengeluh lah pada diri sendiri.

 

Ha? Mengeluh pada diri sendiri? Bukannya itu bikin kita makin ga enak hati?

Ada caranya. Seperti yang saya sudah sebutkan tadi, mengeluh tidak sepenuhnya tidak berguna. Kemampuan mengeluh yang sudah menjadi bawaan kita sejak lahir itu ada manfaatnya. Caranya; bercakap-cakap lah dengan diri sendiri. Di situ, keluhkan segala hal yang membuatmu begitu murung hari ini atau semua detail yang membuatmu selalu merasa ‘tidak cukup’ itu. Dengarkan sendiri apa yang hatimu ingin utarakan. Pancing egomu untuk membantah semua keluhan itu. Buat dirimu merasa berarti dengan mematahkan segala hal tidak menyenangkan itu.

Percayalah, bercakap-cakap dengan diri sendiri sekali-sekali banyak manfaatnya sebab dengan mengeluh dan berbicara pada diri sendiri berarti kita sedang mengingatkan ego dan logika untuk bekerja lebih maksimal dalam menemukan jalan keluar, untuk melihat sesuatu lebih jelas. Dalam hal ini, mengeluh berubah menjadi sesuatu yang mengingatkan kita dengan kemampuan lainnya, bersyukur dan berjuang lebih keras misalnya.

Setidaknya kita paham bahwa yang sedang dijalani bukanlah sebuah cerita fiksi, bahwa seperti ini lah hidup itu; penuh dengan hal tidak diinginkan. Hingga akhirnya kita benar-benar mengerti bahwa tidak selalu yang diharapkan dan diinginkan itu adalah sesuatu yang baik untuk kita. Hingga akhirnya kita belajar to wear all of this shit of life as a flame that forged our soul to be better, stronger, greater. Jadi mengeluh lah dengan ‘benar’!

Masih belum paham? Feel free to contact me on Twitter, email, or Instagram. Saya akan menjadi telinga untuk semua keluhanmu dan kita sama-sama belajar untuk ‘memakai’ keluhan sebagai kostum perang.