" /> OITNB (2013); Sekolah Humanity Dari Warga Litchfield Correctional Facility - SUCI BYT );

Terjebak dalam rutinitas baru kerap membuat saya keteteran agar tetap memiliki waktu yang cukup untuk menulis. Maka semakin waktu luang saya menyempit, semakin ritual ngoceh lewat susunan abjad itu terlewatkan. Sementara ada banyak jenis risau yang perlu untuk diabadikan. Termasuk jenis risau dan gelisah yang datang setiap kali saya baru saja selesai menamatkan lusinan episode dari series-series dengan jalan cerita yang ‘kaya’.

Belum lama ini, akhirnya saya selesai menyimak cerita perempuan-perempuan warga Litchfield Correctional Facility di serial Orange Is The New Black (OITNB). Sedikit terlambat untuk tenggelam dalam drama para tahanan perempuan ini karena OITNB menayangkan episode terakhir dari final season-nya Juli 2019 lalu dengan episode perdana tayang di pertengahan 2013.

source: Netflix courtesy

 

#OrangeForever

Tidak ada penjelasan lain tentang OITNB selain betapa kayanya series besutan Netflix ini dengan moral lesson dan value yang ‘berisi’. Pertanyaan yang sedikit mengganggu kemudian muncul mengikuti kekaguman saya pada OITNB; Kenapa orang-orang tega underestimate series apik ini dengan melabelinya sebagai ‘film lesbi’? I mean c’mon people, sedangkal itukah cara orang-orang mengkonsumsi sebuah karya?

Well, berhubung cerita dalam OITNB adalah cerita yang berlatar di rumah tahanan perempuan–yang di real world pun tentu saja mengandung same-sex tale–maka jangan heran ketika beberapa kisah cinta atau adegan-adegan sensual sesama perempuan bermunculan. But that’s not the point. Intinya, ada banyak hal yang bisa dibicarakan ketika membahas OITNB ketimbang hanya mengedepankan persoalan orientasi seksual di dalam ceritanya.

 

Represents Humanity Issue

OITNB adalah sebuah karya yang so much deeper than just lesbian stories capitalized by entertaiment industries karena OITNB menggambarkan humanity issue dengan pengemasan  story telling yang relateble to us as a human being. Mungkin karena OITNB diangkat dari kisah nyata hingga isu yang diangkat dalam kisahnya terasa dekat karena dimanapun sudutnya, kita semua kerap melihat persolan yang sama. Bahkan jikapun OITNB hanya kisah fiksi yang sama sekali tidak pernah terjadi, kisah di dalamnya tetap akan terasa relatable dan mengusik rasa kemanusiaan karena benar, dunia kita se-kacau itu.

OITNB menggambarkan dengan tepat bagaimana sistem yang corrupt, birokrasi yang bobrok, alokasi dana yang dimainkan, ketamakan, dan another bad side of human being memberi dampak pada segala lapisan. Saya bahkan nyaris menyerah untuk mengikuti perjuangan Taystee dan teman-temannya karena tidak lagi kuat menahan kesal dengan pertanyaan yang selalu sama; kenapa manusia bisa berbuat sekejam itu? Kenapa orang-orang bisa berbuat setega itu? Saya benar-benar hampir berhenti mengikuti kisah Piper dan Alex atau Red dan Gloria karena semakin saya tenggelam dalam drama di OITNB, semakin saya menyadari bahwa manusia memang benar bisa semenyeramkan itu.

 

Need a lecture?

Yang selalu jadi kebahagiaan tersendiri dari menikmati karya bagi saya adalah memetik banyak value yang dikemas rapi oleh creator-nya. Dalam OITNB ada banyak dialog yang membuat kita tersentak menyadari berbagai jenis rasa. Mulai dari motherhood, persahabatan hingga tentang keluarga. But above all that, OITNB mengajarkan kita untuk berhenti menghakimi sesama manusia, untuk berhenti bertindak sesukanya hanya karena ada label dan pemisah yang seharusnya tidak ada. OITNB memperlihatkan bahwa hanya karena seseorang melakukan sesuatu yang buruk, bukan berarti mereka adalah orang yang buruk. People do bad things, we all did. Dan semua, ada alasannya.

 

Masih belum tertarik nonton?

Percayalah, dulu-dulu saya juga tidak tertarik untuk ngikutin OITNB karena beranggapan bahwa cerita dengan latar belakang kehidupan perempuan-perempuan kriminal di tahanan hanya akan penuh dengan drama klasik dan konflik yang tidak menarik. Tapi begitu episode pertama dimulai dan Red muncul dengan rambut merahnya sebagai koki Rusia yang disegani para tahanan, OITNB menjelma menjadi serial favorit saya (setelah Game of Thrones, tentunya).

Seperti tokoh-tokoh dalam Game of Thrones, OITNB juga punya pengembangan karakter yang sempurna. Tidak ada karakter yang tidak likeable. Character arc masing-masing tokoh membuat mereka yang tadinya dibenci menjadi junjungan hingga cerita usai di season terakhir. And that, my friend, adalah proses yang benar-benar kita lalui sebagai individu yang berkembang di kehidupan dunia nyata.

Maka bagi saya OITNB adalah bentuk sekolah yang mengajarkan banyak hal dalam setiap cerita di 91 episodenya. OITNB adalah miniatur sempurna dari penggambaran kehidupan seorang perempuan yang penuh dengan kisah perjuangan, naik-turun bertahan hidup, susah payah menjaga keutuhan keluarga, dan kasih sayang sesama manusia. OITNB bukan hanya sekedar serial yang saya tonton ketika karantina. Lebih dari itu, OITNB adalah sebuah karya yang pantas untuk dibicarakan lebih dari hanya sekedar menjadikannya sebagai indikator gay atau tidaknya seseorang.

PS: Here are some of my favorite quotes from Orange is The New Black

“Dad, I get I’m not the person that you want me to be. But isn’t that the entire point of family? You get who you get and you love them despite all the stuff that they do”  – Piper Chapman, OITNB

 

“Do you know the difference between pain and suffering? Yeah, well, you should hear it. Pain is always there because life is freaking painful, okay? But suffering is a choice”, – Tiffany Doggett, OITNB

 

“But Mommy said I can’t listen to the people who know the least about me. I gotta listen to the people who know me the most” – Suzanne, OITNB-

 

“No offense, but, uh, men being in charge has never done me any good.” – Tiffany Doggett