);

Ketika kamu mulai ragu tentang jalur yang sedang kamu jalani, menilai kapasitas diri adalah hal penting yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan berhenti.

Seseorang bisa saja tanpa disadari sedang berjalan di jalur yang salah, atau bisa saja sedang melakukan sesuatu dengan tepat tapi justru bimbang tentang situasinya sendiri. Biasa. Tiba-tiba merasa ragu tentang sesuatu adalah hal wajar yang pasti semua orang alami.

Pertanyaannya, bagaimana kita harus mengambil sikap ketika ragu itu mulai menyita waktu kamu untuk mencintai diri sendiri?

Begini. Hidup ini adalah pilihan. Semua orang tau itu. Semua orang paham dan terlalu sering menyebutkan itu. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa kita telah benar-benar memilih?

Mungkin kamu sedang bekerja bukan pada tempat yang kamu harapkan. Mungkin kamu sedang menjalani pendidikan di bidang yang tidak kamu sukai. Mungkin kamu sedang menjalani hubungan dengan seseorang yang tidak bisa kamu pahami. Mungkin kamu sedang berurusan dengan hal yang seharusnya tidak kamu datangi. Tapi atas semua hal tersebut kamu sadarnya dikemudian hari. Merasa perlu memperbaiki sesuatu tapi tidak tau harus tetap lanjut atau berhenti. Tidak tau harus mulai dari mana untuk kembali merasa percaya diri.

Saat-saat seperti ini sering saya sebut sebagai moment of doubt. Masa ketika kita mulai ragu dengan sesuatu yang sedang dijalani. Masa ketika kita tidak tau cara untuk berhenti, atau malah tidak tau jika harus berhenti.

Sadar seringkali datang di ujung situasi. Ketika semua mulai berjalan tidak sesuai dengan keinginan hati. Padahal sebelumnya merasa biasa saja menjalani semuanya namun ketika mendengar omongan orang lain, tiba-tiba kamu mulai meragukan diri sendiri.

Hanya ada satu cara untuk menghadapi situasi seperti ini; mengenali kapasitas diri sendiri. Terdengar mudah namun untuk kenal dengan diri sendiri ternyata jauh lebih sulit dari pada mengenal orang yang kita sukai. Mencari tau kelemahan diri sendiri seringkali diabaikan oleh banyak orang. Bisa jadi karena terlalu fokus menghadapi sesuatu berdasarkan kelebihan yang dimiliki.

Katanya, orang hebat adalah orang yang bisa mengenali kelemahan dan kekurangannya sendiri, mengenali kapasitas diri sendiri.

Caranya?

Cukup dengarkan isi hati. Tapi tidak ada yang bilang bahwa mendengarkan kata hati sendiri itu mudah. Seringkali kita malah mendengarkan suara lain dari dalam diri sendiri yang sudah bercampur dengan nafsu dan ego yang tidak disadari.

“I deserve better”, kata hatimu misalnya. Coba kembali tanyakan ke diri sendiri, apakah itu benar-benar datang dari hati terdalammu atau itu hanya suara ego yang berbisik pelan-pelan?

“I can’t do this”, kata hatimu lagi, misalnya. Coba pikirkan lagi, apakah kamu benar-benar merasa tidak sanggup atau energimu sudah terganggu oleh rasa tidak percaya diri?

Mendengar isi hati, mendengar bisikan nurani, memahami kata hati, hanya bisa dilakukan ketika kita mulai mampu menilai dan memandang sesuatu dari segala sisi.

Pandang angka 9 sebagai angka sembilan dari sudut tertentu. Tapi jangan lupa bahwa angka 9 bisa berarti angka 6 jika dilihat dari sudut sebaliknya. Bahkan bisa jadi kita menilai angka 9 sebagai huruf G.

Dalam hal ini, untuk mendengar isi hati, kita perlu untuk melihat kedalam diri sendiri dari sudut pandang orang lain. Cobalah untuk ‘berjalan’ di sepatu orang lain dalam menilai diri sendiri. Cobalah untuk memakai ‘kaca mata’ orang lain ketika ingin memandang diri sendiri.

Susah? Sudah pasti. Tapi tidak ada salahnya jika kita coba dari sekarang untuk mengevaluasi diri kita sendiri hanya demi menemukan kekurangan apa yang kita miliki. Dengan begitu, memilih jalan yang akan ditapaki bukan lagi menjadi hal sulit bagimu.