" /> Ritual Menyembuhkan - SUCI BYT );

Setiap kali ada teman atau keluarga nanya, “Sekarang lagi nulis apa?” aku hanya bisa diam nyengir sambil mengutuk diri sendiri, “C’mon lazy ass, you should be writing!” lalu membayangkan kebiasaan buruk berminggu-minggu terakhir; buka laptop, buka Microsoft Word, ngetik 1-3 kalimat, dihapus lagi, ngetik lagi, hapus lagi, ketiduran. Berkali-kali bingung dengan alasan kenapa aku sedang sangat tidak produktif menulis ini, pada akhirnya satu jawaban tersimpulkan; all because I doubt my self.

Yap. I doubt my self. Ragu jika pada dasarnya aku sama sekali tidak memiliki kemampuan menulis dan ragu jika tulisanku tidak pernah benar-benar disukai. Maka jadilah setiap kali mulai menulis, aku selalu ragu dengan apa yang akan aku tulis. Setiap kali menulis lagi, aku takut untuk melanjutkan rangkaian huruf-huruf ku kemudian berhenti karena merasa capek sendiri untuk membuat sesuatu yang tidak ada menariknya.

Selidik punya selidik, setelah lagi-lagi lebih banyak merenung ketimbang membuat sesuatu, aku menemukan jawaban paling ajaib untuk menjawab pertanyaan soal situasi seperti ini dan jelas, semua ini berhubungan dengan niat.

Tadinya aku menulis untuk diriku sendiri. Aku menulis untuk membuat jiwaku tetap menari meskipun sedang gelisah dengan banyak insecurities yang bisik-bisik di telinga kiri, gelisah dengan ketakutan akibat overthink yang manja-manja di telinga kanan. Tadinya aku menulis untuk menyembuhkan detak jantungku sendiri biar bisa tidur nyenyak setiap malam dan tidak lagi kepikiran sesuatu karena semuanya sudah dikeluarkan.

Maka jadilah banyak rangkaian diksi ku yang terasa jujur dan tidak sengaja menyentuh jiwa-jiwa lain di luar sana. Terlanjur merasa sanggup menyentuh hati banyak orang, aku memaksa diri sendiri untuk selalu membuat sesuatu yang harus disukai. Aku memaksa diri untuk menghasilkan tulisan menarik yang akan melekat di hati pembacanya. Hingga aku berada di hari ini. Hari ketika menulis berubah menjadi sesuatu yang dipaksakan dan tidak lagi menjadi ritual menyenangkan seperti seharusnya.

Menyadari hal ini, aku merasa sedih. Sedih karena sesuatu yang tadinya berfungsi sebagai obat penenang berubah menjadi sesuatu yang terasa berat karena aku menitipkan sejenis harapan dan tujuan berbeda di dalamnya. Menulis, tidak lagi menjadi ritual ajaib ku.

Setelah puas mengeluh pada diri sendiri dan menjawab lusinan pertanyaan sendiri, aku mengambil selembar kertas dari buku yang sudah sangat lama tidak disentuh kemudian menulis sepenggal kalimat untuk disimpan di dalam dompet agar aku selalu ingat; write for your self first!

Lusinan menit setelahnya, aku duduk di depan jendela dan membuka laptop. Tanpa aku sadari, menulis kembali menjadi bentuk penyembuhan dengan cara sesederhana ini, dalam wujud tulisan seringkas ini. Ini ritual ku untuk menyayangi dan berhenti meragukan diri sendiri.

Caramu? Aku yakin kita semua tau cara terbaik untuk kembali ‘menapak’ dalam rangka mengembalikan bagian terbaik dari diri kita yang sempat tertidur lama.  (SuciBYT)