);

Mimpi musim semi datang dalam tidur di malam kemarau
Tersesat langkah dua pasang kaki
Tertiup angin laut selatan di senja ungu alun-alun
Kau pulang kemudian
Membekas pucuk ranummu dalam rimba di kepalaku
Namamu menghutan disana
Memeluk gigil yang rindu akan gravitasi dari matamu

Satu samudera dua iklim
Garis purba kita sejalan di bibir pantai masing-masing
Pikirmu musim hujanku berhenti menggulung nadi?
Belum, jika yang masih kuhela adalah sisa gelak tawamu
Belum, jika yang masih bertamu dalam tidurku adalah caramu mengeja empat huruf dalam namaku

Maka jika aku terjaga sebelum Subuh dan jemari kita luput berkirim cerita sesudahnya
Mungkin mimpi musim semi itu akan bersambung nanti
Selepas berpandang lagi sepasang dan sepasang mata ini
Dan tersesat lagi dua kakimu dalam langkah setengah sadar kita