);

Matahari mulai menampakkan wajah gagahnya pagi-pagi. Menyiram tanah kering di ujung Ibu Kota dengan sinar kuning yang hangat. Semburat terang itu menganggu mata sipit Jessie yang masih lelap. Seolah tidak terganggu dengan cahaya matahari yang menyentuh wajahnya, Jessie tetap tertidur bahkan terlihat bermimpi lebih dalam. Jendela lebar yang berseberangan dengan tempat tidur Jessie terlihat dipenuhi embun. Mungkin karena Jessie menyetel suhu kamarnya terlalu dingin sementara di luar, matahari pagi sudah membuat orang-orang gerah.

Jessie tidak pernah menjadi tukang tidur yang baik; tertidur dimana saja terbangun susahnya luar biasa. Dua alarm yang sengaja diposisikan di dekat kepalanya tidak akan ampuh membangunkan Jessie dari tidurnya yang dalam kecuali alarm itu berbunyi tepat ketika Jessie sedang tidak sengaja terjaga. Tapi Jessie mendadak menjadi begitu sensitif jika Arlin yang membangunkannya. Jangankan dipanggil, Arlin membuka pintu saja, Jessie sudah pasti langsung terjaga.

Hanya saja pagi ini Jessie seolah dibiarkan tidur lebih lama. Tidak ada yang membangunkannya. Mungkin karena sekarang hari Sabtu. Atau mungkin karena semua tau Jessie baru tidur jam 5. Atau mungkin karena Arlin tau, Jessie butuh tidur lebih lama khusus hari ini. Atau Arlin hanya sedang terlalu sibuk untuk menyempatkan diri masuk ke kamar Jessie dan memanggil namanya dengan lembut seperti biasa.

Enam puluh menit kemudian berlalu dan Jessie masih saja bergulung dalam selimutnya.

“Jes.” Suara Arlin tiba-tiba terdengar di balik pintu. Terlihat tangannya masih basah dan rambut yang sedikit kusut.

Jessie langsung membuka mata dan duduk di pinggir kasur. Menunggu Arlin mengulang memanggil namanya.

“Jes, sarapan yuk.” Arlin memanggil Jessie lagi dengan lembut.

Jessie hanya tersenyum sambil mengucek mata dan mulai berdiri mendekati pintu, membukanya perlahan dan tersenyum pada Arlin yang terlihat kikuk.

“Aku cuci muka dulu,” katanya dengan suara parau. Arlin mengangguk dan berlalu. Meninggalkan Jessie yang masih kusut.

Di dapur, Arlin terdiam berhadapan dengan setumpuk pancake pisang yang baru saja ia buat. Berharap Jessie suka dengan masakannya. Hanya saja seolah ada yang salah, namun bukan pancake nya. Arlin menyadari bahwa tidak seharusnya ia sekikuk itu ketika melihat Jessie membuka pintu tadi. Dan harusnya ia tidak perlu susah payah berharap Jessie akan menyukai sarapan buatannya.

Dihempaskannya nafas panjang. Terdengar langkah kaki Jessie mendekati dapur. Tanpa disadari, Arlin sedikit merapihkan rambutnya.

“Bikin sarapan apa?” tanya Jessie sambil mengambil gelas di rak dinding yang tergantung di depan Arlin membuat sisa aroma body mist khasnya tercium oleh Jessie.

“Tuh liat aja sendiri,” jawabnya cuek namun kikuk.

Dengan cuek Jessie mengisi gelasnya dan mengambil banana pancake kecoklatan lalu bergegas ke meja makan.

“Hari ini ada rencana apa?” tanya Arlin di sela suapan pelannya.

“Nggak kemana-mana. Pengen di rumah aja.” Jessie terlihat begitu cuek. Arlin sedikit kesal dengan sikap Jessie yang tidak seperti biasa. Diperhatikannya suapan demi suapan Jessie yang tenang sambil sesekali curi-curi menatap mata Jessie yang masih kusut.

Tiba-tiba Jessie memandang Arlin yang seolah sedang menyelam ke dalam matanya. Seketika Arlin tertunduk namun tetap berusaha tenang. Diam-diam Jessie tersenyum. Manis sekali hingga ia lupa bahwa Arlin balik memperhatikannya.

“Kenapa?” tanyanya melihat bibir Jessie yang melebar. Sambil menggeleng Jessie kembali menyumbat mulutnya dengan segulung pancake gosong.

Pagi itu, kembali detak jantung mereka bekerja dengan cara yang tidak terduga. Memompa lebih cepat dari biasa dan seolah tidak malu untuk terlihat dari naik turun bahu masing-masing menahan gugup yang datang tiba-tiba. Ada sebaris pertanyaan yang ingin diluapkan namun masih terlalu prematur untuk diungkapkan.