);

Kata orang, waktu berjalan seringkali tidak sesuai dengan keinginan. Mungkin itu sebabnya Jessie tidak pernah suka dengan jam tangan dan benda-benda lainnya yang menunjukkan laju waktu. Ia tidak suka jika harus diingatkan bahwa semakin hari, waktu semakin berjalan, dan jika tidak bergerak, ia akan tertinggal. Dimakan masa.

Berbulan-bulan lamanya Jessie seolah menyerah dengan waktu, tuntutan sosial, dan moral-moral lainnya yang harus ia kejar. Sementara jiwa yang terbungkus dalam kulitnya adalah sosok pemalas yang tidak suka dengan keterburu-buruan. Jessie benci dengan laju waktu.

Tampaknya yang tau persoalan ini hanya ia sendiri. Sebab tidak seorangpun yang berhenti mendesaknya untuk sesuatu. Dulu, Jessie didesak untuk menyelesaikan pendidikan dengan segera. Setelahnya, ia dipaksa untuk mendapatkan pekerjaan yang bahkan ia tidak suka. Sekarang Jessie dipaksa untuk menjalani hidupnya sebagai orang dewasa. Padahal ia masih terjebak di quadran kedua. Quadran dimana ia masih dikelilingi teman-teman, dimana yang menjadi tujuan hanya gelar sarjana, dimana keputusan bukan ada di tangannya. Jessie seolah menolak untuk berpindah quadran dalam lingkaran hidupnya.

Bertemu dengan Arlin, Jessie baru belajar bahwa tidak selamanya ia bisa bergulung selimut hangat di tempurung nyamannya. Mau tidak mau dan suka tidak suka, semua orang harus bergerak mengikuti laju waktu. Dan ketika itu terjadi, Arlin benar-benar memaksa Jessie untuk peduli dengan putaran jarum jam.

“Cuma orang lemah dan mudah menyerah Jes yang tidak mau tau dengan waktu,” katanya sambil mengetik sesuatu di laptopnya waktu itu. Jessie hanya diam. Ikut memperhatikan yang dikerjakan Arlin.

“Aku tidak pernah suka dengan jam tangan,” kata Jessie.

“I know. That’s why I put one on your bag. Check it out.” Arlin mengalihkan pandangannya ke Jessie sambil tersenyum.

Jessie beringsut mendekati ransel buluknya. Mengambil kotak kecil yang terbungkus kertas kardus tipis. Sebuah arloji dengan strap kulit berwarna coklat.

“Do you like it?” Arlin mendekat.

“I like the watch, not the time,” jawabnya. Arlin hanya menggeleng.

Jessie memakai jam tangan dengan diameter kebesaran untuk tangannya yang mungil itu.

“Do you like it?” Jessie menanyakan pertanyaan yang sama sambil menyodorkan tangan kanannya pada Arlin.

“Of course I like it.” Arlin tersenyum dan menepuk bahu Jessie. Keduanya tertegun lalu kembali terdiam.

Jika mengingat hari itu, Jessie hanya bisa tersenyum sendiri sambil membayangkan jika saja untuk mengatakan perasaannya pada Arlin bisa sedikit lebih mudah. Tidak serumit dan sesulit ini. Sementara Jessie sibuk dengan pikirannya sendiri, Arlin juga sedang begitu bimbang tentang hal yang sama. Dibukanya folder foto di handphonenya. Membolak balik album yang menyimpan banyak wajah Jessie. Ingin rasanya ia memperjelas yang sedang dirasakannya ini. Setidaknya untuk dirinya sendiri. Namun ada hal yang lebih penting untuk ia hadapi. Bukan sekedar tentang hasrat. Bagi seorang Arlin, memikirkan perjuangannya lebih penting. Perjuangan yang selalu disebut-sebutnya sebagai perjalanan yang masih panjang.

“Arlin.” Suara Jessie terdengar memanggilnya dari balik pintu. Arlin terdiam. Mengkhayal jika saja ia boleh langsung memeluk Jessie ketika pintu itu dibukanya nanti. Hanya saja sekali lagi akalnya lebih kuat dibandingkan “rasa” yang masih remaja itu.

“Kenapa?” tanyanya dengan suara selembut biasa.

“Ada yang datang,” jawab Jessie lalu berlalu.

Arlin keluar kamar dan menuruni anak tangga. Entah bagaimana tiba-tiba kakinya terhenti melangkah ketika melihat Harun berdiri tepat di depan anak tangga terakhir sambil menatapnya dan tersenyum.

“Arlin,” sapanya pelan.

Arlin terpaku. Memandang Jessie yang berlalu ke dapur dengan wajah yang mengisyaratkan “I know a thing and I don’t want to be here when you two talk” atau yang biasa disimpulkan para remaja dengan wajah cemburu.