);

Hujan sedang begitu rajin turun setiap kuning sore perlahan berubah abu-abu. Ketika rintik-rintik halus sedang menjamah aspal panas Ibu Kota, Arlin sedang duduk sendiri di depan meja makan. Matanya terlihat gelisah. Yang ia tau, sore-sore seperti ini rumah terasa hangat. Tapi entah mengapa, kali ini dingin angin di luar seolah menyeruak masuk lewat celah jendela dan menggetarkan hatinya yang sedang bimbang.

Arlin selalu bingung jika ia mulai dihadapkan pada dua pilihan. Baginya, memutuskan sesuatu butuh waktu lama. Sulit bagi Arlin untuk menentukan apa ia harus mengikuti naluri, atau pertimbangan logis lainnya. Sebab terlalu sering pilihan yang hendak dijalaninya berbenturan dengan nilai-nilai logis kebanyakan orang.

Kali ini, Arlin tidak tau entah ia harus bertahan dengan egonya atau mulai menjadi orang yang berbeda. Arlin sudah terlalu lama mengabaikan kata hatinya dalam melakukan sesuatu. Selama itu pula Arlin merasa tidak lagi memiliki “nyala” dalam jiwanya. Semakin hari, Arlin semakin merasa ia telah berubah menjadi mayat hidup. Berjalan dengan pikiran kosong, menangis kesepian di balik tawa palsu setiap hari, dan berbicara tanpa pernah lagi memandang mata lawan bicara.

“Bagaimana jika suatu hari ada yang mengetuk hati bekumu itu? Bagaimana jika sebenarnya kau pun tidak bisa menolak cerita baru itu. Kau masih akan tetap tidak peduli?” kata Azis waktu itu.

Kalimat itu yang sekarang membuatnya bimbang. Sebab, tanpa ia sadari setiap hari pikirannya semakin sering dihantui rasa penasaran dan kagum pada seseorang. Hanya saja ia belum berani mengakui itu pada diri sendiri.

Arlin tidak pernah betah menghabiskan waktu bersama orang lain selain dirinya sendiri. Arlin juga tidak pernah menghabiskan banyak ruang memori untuk memikirkan sosok spesifik dalam hidupnya. Tapi dengan orang baru ini, Arlin merasa berbeda. Entah bagaimana, ia menjadi lebih suka menghabiskan waktu berlama-lama setelah makan hanya karena merasa nyaman bertukar cerita. Arlin menjadi lebih betah di rumah hanya karena kehadiran orang itu seolah membuat dirinya merasa lebih baik.

Namanya Jessie. Bukan orang pertama yang membuat Arlin merasa spesial. Namun berhasil mengungkit lagi beberapa jenis perasaan yang telah lama hilang dari jiwanya. Padahal di awal pertemuan mereka, Arlin sama sekali tidak menduga bahwa seorang Jessie akan berubah menjadi sosok misterius dengan tatapan dalam yang mengagumkan.

Bukan Arlin namanya jika tidak penasaran dengan hal-hal baru. Namun dengan Jessie, ia hanya diperbolehkan merasakan sesuatu secara rahasia. Diam-diam menyimpan keinginan untuk mendekati lebih, diam-diam membayangkan sesuatu yang lebih.

“Kamu misterius Ar. Tapi aku tau persis isi kepalamu,” kata Jessie suatu pagi ketika mereka sedang berjalan kaki dari parkiran menuju kantor.

“Misterius apanya?” Arlin berkata sambil tetap melangkah.

“Lihat. Setiap ada yang selisih jalan dengan kamu, mata mereka memandang lama dulu ke wajah yang menunduk itu. Aku hitung setiap yang berpapasan dengan kita dari tadi memandangmu lebih dari 20 detik. Itu bukti mereka tertarik.” Jessie menjelaskan sambil meniru gaya karyawan lain yang berselisih jalan dengan mereka.

“Bisa saja,” kata Arlin sambil sedikit tersipu.

Pagi itu. Sekali lagi Jessie membuat Arlin sedikit lebih membuka pintunya tanpa harus mengetuk. Menegur jiwanya tanpa bersuara. Di persimpangan, setelah Jessie berpamitan dan melangkah ke arah jalan yang berbeda, Arlin memandang punggungnya hingga hilang di balik celah gedung. Lalu masih berdiri di sana beberapa menit lamanya.

Arlin melepas nafas panjang. Ia tidak menyadari bahwa baru saja kerinduan yang tidak dikenal sedang menggerakkan tubuhnya untuk melakukan sesuatu yang asing bagi seorang Arlin.

Sementara dari ujung gang yang berbeda, Jessie berdiri di sebelah mobil yang sedang terparkir. Memperhatikan Arlin yang terlihat gelisah. Entah bagaimana, Jessie tersenyum begitu manis lalu berlalu sambil menyumbatkan earphone ke telinganya.