);
Galau adalah kosakata yang terlalu sering kita dengar entah sejak kapan istilah menyakitkan itu mulai populer. Berbagai definisi kata galau bermunculan.

Berdasarkan sebuah artikel random yang sempat saya baca, galau digolongkan sebagai adjektiva. Artinya kata sifat yang biasanya ikut pada sebuah subjek berupa nomina. Sedangkan, satu-satunya pengertian yang menyangkut kondisi psikologis, adalah keadaan “kacau tidak keruan” yang lebih tepat dirujuk kepada keadaan pikiran. Karena galau dikategorikan sebagai kata sifat, maka galau juga bisa dianggap sebagai sebuah kondisi pada seseorang.

Terlepas dari apapun makna dan arti kata galau, saya ada sedikit cerita. Sebuah cerita yang saya tulis khusus untuk Anda pembaca setia @puisi.lingkaran (now can I call you ‘Cemara’ my dear fellow GALAU friend?)

Awal 2017, entah bagaimana saya kembali tertarik untuk menulis jurnal. Semacam self-healing jurnal yang menjadi sesi terapi sendiri. Berhubung waktu itu saya sedang memiliki banyak waktu luang dan sedang dihampiri momen galau, maka semakin hari menulis semakin kembali menjadi hal menyenangkan untuk dilakukan setelah bertahun-tahun saya tinggalkan. Hingga seorang teman mencuri intip sebuah halaman dalam jurnal tersebut dan berkata,

“Suci, ini kalimat kamu bagus. Di luar sana banyak yang segalau ini dan butuh sesuatu untuk membahasakan kegalauan mereka itu. Kenapa ga coba publikasi aja?”

Maka teman-teman Cemara, dengan kepala yang suka bertanya sendiri-jawab sendiri ini saya mulai bertanya-tanya sendiri. ‘Lha ia ya, kenapa ga coba publikasi aja’, ‘Eh tapi emang ada yang minat ya sama kata-kata galau bernuansa hopeless romantic gini’. Dan sederet pertanyaan lainnya bermunculan hingga satu-satunya jawaban yang bisa menjawab semua pertanyaan itu muncul; coba aja dulu.

Akhirnya akun Puisi Lingkaran lahir untuk pertama kalinya di instagram dengan beberapa konten pertama sebagai tanda kehadirannya. Mendapat respon yang cukup positif saya semakin semangat terus-terusan menulis dan melahirkan kata-kata yang mewakili kegalauan teman-teman Cemara semua.

Hari ini, lebih dua tahun Puisi Lingkaran menemani momen-momen galaumu.  Maka sebagai ucapan terimakasih saya atas apresiasi dan kesetiaan teman-teman Cemara mengikuti puisi lingkaran dari awal hingga hari ini, konten lama yang sempat kamu jadikan status, bahasa untuk mengungkapkan kegalauanmu itu akan saya repost dengan tampilan yang lebih ramah mata, dengan ilustrasi yang lebih greget, dengan dandanan yang lebih yahut untuk dijadikan status ber’galau-galau’riamu.

Selain itu, karena puisi-puisi yang saya tulis dan teman-teman cemara galau nikmati itu telah berkembang menjadi sebuah ide cerita dan lahir menjadi novel debut saya. Maka buku Apakah Seperti Ini Cinta Itu Sendiri yang sebentar lagi hadir di toko buku kesayanganmu ini adalah persembahan saya untuk teman-teman semua, Cemara-cemara baik hati dengan kegelisahan penuh warna warni yang menjadi inspirasi bagi saya, yang mungkin masih belum menemukan arti dari momen galau yang sempat mampir dalam time linenya. Untuk Cemara-cemara yang membuat saya semakin senang menumpahkan berbagai bentuk gelisah dalam diksi-diksi. Dan untuk Cemara-cemara yang masih berusaha memahami arti dari kata CINTA itu sendiri.

Maka teruntuk Cemara-cemara pengikut @puisi.lingkaran, terimakasih sudah menemani perjalanan saya dalam menulis hingga hari ini. Tulisan ini adalah surat cinta saya untuk teman-teman semua. Dan buku Apakah Seperti Ini Cinta Itu Sendiri adalah rangkuman kegelisahan kita semua yang saya rasa perlu untuk diabadikan. Jadi jika teman-teman Cemara pernah tersentuh dengan diksi-diksi saya, yuk pre order bukunya sebelum 14 Juli 2019.

Peluk Hangat, Cemara!