);

Rasanya belum lama ini kita baru saja menyambut 2020 dengan penuh harapan dan cita-cita. Kemudian baru-baru ini, kita semua menyambut 2021 sambil tetap berharap agar semua menjadi lebih baik dan agar kita kuat-kuat menghadapi apapun cerita yang belum dan akan kita hadapi.

Tentu saja dengan angka penanda usia zaman yang semakin bertambah ini, kita semua semakin dewasa dan berumur. Mungkin orang-orang yang seumuran denganku mulai merasa tua di usia late 20s-nya. Mungkin hari ini orang-orang yang mengalami masa remaja di musim awal lahirnya Instagram mulai merasa dewasa. Maka tidak ada salahnya kita semua mulai berpikir, bertindak, dan memproses sesuatu dengan lebih baik. 

Berbicara soal “lebih baik”, aku ingin memastikan bahwa menjadi sehat luar dalam termasuk ke dalam salah satu pencapaian yang sudah seharusnya kita punya atau setidaknya sesuatu yang harus kita capai sesegera mungkin. Dan tentu saja, menjadi sehat luar dalam adalah perkara yang tidak terlalu mudah, sementara di saat bersamaan, menjadi sehat luar dalam adalah hal yang ternyata begitu sederhana untuk diproses.

 

Sehat luar dalam?

Ya. Sehat luar dalam bagiku adalah sebuah definisi yang mejelaskan mengenai keadaan diri kita ketika dengan tubuh yang sehat dan terasa kuat, kita memiliki pikiran, mental, perasaan yang sehat. 

Tapi apapun itu, setidaknya kita tau dan paham bahwa ada banyak hal yang bisa kita perbaiki pelan-pelan, yang harus kita latih mulai dari sekarang, dan yang harus kita biasakan sejak hari ini untuk menjadi semakin sehat luar-dalam. 

Untuk menjadi sehat luar dalam menurutku adalah sesuatu yang perlu dimulai dengan menjadi sehat ‘di dalam’. Ada banyak hal yang harus kita perhatikan untuk memastikan bahwa di dalam, kita sedang benar-benar dalam keadaan sehat. Sederhananya, kita harus belajar untuk put ourselves first and be content. Sementara di lain sisi, kita juga harus memahami bahwa dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai prioritas utama bukan berarti kita sedang mendidik mental ini menjadi sosok yang egois. Karena dengan mencintai diri sendiri, kita sedang belajar bahwa untuk menjadi utuh di dalam sebelum mulai mencintai figur lain di luar diri kita sendiri.

Di bawah ini adalah dua contoh dari banyak hal yang harus kita perhatikan dan jadikan lebih baik dalam rangka bertumbuh menjadi the better version of us yang mengerti dengan our own self-worth.

 

Berkata tidak

Berkata tidak tanpa perlu alasan adalah salah satu hal sederhana yang kerap kita anggap sepele sementara ia sangat berperan dalam menentukan apakah kita sedang sehat luar dalam atau tidak. 

Seringkali ketika seseorang meminta sesuatu, mengajak kita untuk melakukan sesuatu, mengundang kita untuk menghadiri acara tertentu, akan sulit bagi kita untuk berkata tidak karena satu dan lain hal. Mungkin karena tidak ingin membuat orang-orang itu merasa ditolak, mungkin kita tidak ingin membuat orang kecewa, atau bahkan kita tidak ingin dipandang sebagai sosok yang hard to keep up with. Dan jikapun harus berkata tidak, kita selalu merasa terbebani untuk menjelaskan hal-hal yang melandasi kata tidak tersebut. 

Padahal, sebagai manusia yang memiliki path sendiri-sendiri, sangat sah-sah saja untuk berkata tidak dengan tegas tanpa perlu merasa bersalah karena tidak menyediakan alasan dibalik kata tidak tersebut. Sangat boleh-boleh saja jika kita berkata “Tidak bisa,” pada seseorang yang mengajak hang out atau pada seseorang yang meminta kita untuk membawakan sesuatu. 

The thing is, you’re not entitled to explain yourself. 

Maka hanya dengan mulai membiasakan untuk berkata tidak tanpa mengikut sertakan penjelasan apa-apa ini, pelan-pelan kita akan semakin tau cara menempatkan diri sebab dengan begitu kita lebih mengenal our worth sambil tetap menjadi manusia yang memanusiakan sesama manusia.

 

Berkomunikasi dengan sehat

Tanpa perlu merasa berkewajiban untuk menjelaskan apapun ketika berkata tidak tadi, sebagai manusia yang ‘manusia’ kita tentu berpikir jika penolakan kita berdampak buruk pada seseorang. Which is fine karena memang sudah seharusnya kita memiliki tenggang rasa pada apa yang orang lain alami dan rasakan. 

Hanya saja, tidak banyak yang menyadari bahwa di sisi lain, pihak yang menerima jawaban tidak kita tanpa alasan tadi juga sudah seharusnya tidak feeling offended atau marah. Lebih jauh lagi, tidak semua orang mengerti bahwa untuk berkata tidak tanpa alasan, bukan berarti kita harus mengabaikan cara berkomunikasi yang sehat. 

Sebagai makhluk yang akrab dengan proses komunikasi dan mengerti bahwa sebuah komunikasi adalah dasar dari apapun yang kita lakukan, maka sebenarnya proses interaksi adalah sesuatu yang sederhana.  Dengan mengerti bahwa kita tidak seharusnya menjelaskan mengenai pilihan yang kita pilih pada orang lain,  kita seharusnya bisa melalui dan menjalani proses interaksi dengan baik. Kita hanya perlu menyadari bahwa dalam interaksi yang baik, dibutuhkan proses komunikasi yang sehat. Dan sebagai manusia, proses komunikasi yang sehat sudah seharusnya menjadi dasar yang kita pakai dalam hidup sebagai makhluk sosial.

Menurutku, sebagai orang-orang yang semakin tua dan dewasa, sebagai manusia yang sudah terlibat dalam banyak jenis interaksi sejak lahir hingga hari ini, proses menjadi sehat luar dalam ini yang membuat kita menjadi smart enough to understand.