);

Well, sebelum saya mulai membahas apa yang ingin saya bahas, ada contoh situasi yang perlu saya ceritakan;

Ketika kamu terbiasa dengan kehadiran seseorang, terbiasa dengan kebersamaan yang tanpa disadari ternyata berkesan, terbiasa dengan berbagai jenis click atau gelombang dan resonansi yang dia sebabkan. Sejauh yang bisa diingat tadinya kamu biasa saja (namun tanpa sadar mulai terbiasa) dan berusaha abai dengan perhatian dan kemungkinan peluang lain dari yang dia perlihatkan.

Masalahnya: Ada orang baru yang masuk di antara kamu berdua dan situasi serasa terbalik.

Kesimpulan sementara; Kita hanya mau apa yang kita tidak bisa punya or at least ‘terancam tidak bisa kita punya’.

Now admit it, all of us have experienced a burning desire for the one person who’s just out of reach, the one person we just cannot have. Kita seolah lebih menggebu-gebu ketika sesuatu/seseorang itu bahkan mulai berada di luar radius jangkauan. Tanpa disadari.

Misalnya ketika kita masih begitu kanak, mainan yang tergeletak di lantai terlihat biasa saja namun seolah tiba-tiba menjadi begitu terlihat seru ketika si mainan mulai berada di tangan kakak/adik. Alhasil, kakak adik bertengkar memperebutkan si mainan yang mendadak jadi lebih menawan itu.

Persoalan yang sama juga sering (mungkin sedang) terjadi ketika kita mulai beranjak dewasa. Namun kali ini bukan perihal mainan lagi, akan tetapi sesuatu yang lebih menyita ruang dalam organ abstrak yang terasa nyeri ketika kita ditinggal seseorang. Just like the case I’ve mentioned in the beginning.

 

Kok bisa gitu?

Ada tiga alasan besar yang membuat kita selalu menginginkan sesuatu yang (padahal) sudah berada di luar jangkauan; curiosity alias penasaran, the chase alias sensasi berpahit-pahit dalam berjuang, dan tentu saja ego alias we don’t take no for the answer.

Skip cerita tentang penasaran, skip juga cerita tentang the chase. Let’s straight to the biggest problem of all trouble; ego.

Sederhananya begini; kita tidak bisa rela begitu saja ketika sesuatu yang tadinya ‘terhidang’ di depan mata dicomot tangan lain. And again, meskipun tadinya dibiarkan begitu saja di depan mata. Atau dengan kata lain, ‘orang lain tidak boleh mengambil sesuatu yang tadinya untuk kita tapi diabaikan itu’. Kita seolah terkontaminasi ‘rasa memiliki’.

Masih bingung?

Begini, memiliki seseorang yang seolah ‘tersedia’ untuk kita, terlepas dari apapun intention mereka terhadap kita adalah sesuatu yang menyalakan self-confident kita. Sadar atau tidak. Intinya, kehadiran hadir seperti itu memberi makan ego dan pride kita. Nah ketika attention itu teralihkan, tidak semua orang bisa rela begitu saja. Meskipun dia sendiri tidak menginginkan si someone tadi sepenuhnya.

Versi baiknya, bukan berarti kita tidak merasakan sesuatu sama sekali, bisa jadi kita hanya terlambat memahami arti hadir orang itu sebab terkadang untuk menyadari bahwa sesuatu memang berarti kita harus menikmati dulu rasanya kehilangan (sayangnya yang terlambat dan terlewatkan seringkali tidak bisa diperbaiki).

 

Ok, so how to deal with it?

Jika tadinya segala gelisah ini disebabkan oleh ‘terbiasa’, maka mengatasinya bisa dilakukan dengan ‘membiasakan’.

Jika tadinya terbiasa beranggapan bahwa he/she wants me, sekarang biasakan untuk tidak beranggapan sama karena hal apapun bisa berubah. Berat dan menyakitkan memang. Namun kita tidak bisa serta merta mundur lalu berhenti di sebuah halte yang terlewatkan di tengah jalanan yang arusnya sedang ramai bukan? Kita harus terus maju hingga bertemu U-turn untuk putar balik. Benar?

Cara sederhana memahaminya; sesuatu yang terlewatkan memang sudah dimaksudkan untuk terlewatkan. I mean, bagaimana mungkin sesuatu yang penting dan berharga, sesuatu yang kita mau bisa dilewatkan begitu saja. Unless you’ve been playing hard to get, but that’s another story.