);

Apa yang terlintas dipikiranmu begitu mendengar kata “Nenek”? Sosok tua yang memajang senyum paling hangatnya menunggumu di depan pintu rumahnya atau justru ingatanmu malah menayangkan adegan cerewet figur lembut yang tiba-tiba menjadi nyinyir?

Apapun itu, yang jelas bagiku kata “Nenek” tidak pernah terdengar tanpa memancing sepercik rasa hangat yang mengalir dari dalam. Bagiku, sosok nenek adalah figur penuh kasih sayang berlimpah yang tumpah dengan cara berbeda dari kasih sayang yang kita dapatkan dari orangtua. Bagiku, nenek adalah cara unik Tuhan menyampaikan kasih sayangnya pada para cucu. Nenek adalah kehadiran yang begitu cepat membuatku merasa rindu. Bagiku, nenek adalah sosok paling romantis yang tidak pernah kehabisan cara untuk membahasakan rasa sayangnya pada kami, para cucu yang tidak pernah puas menghabiskan waktu bersama mereka.

Mereka? Ya. Ada banyak nenek yang aku maksudkan. Nenek dari kedua orangtuaku, dan nenek nenek lain yang tidak kalah hangat dari dua nenek yang darahnya ikut serta berperan atas kehadiranku di bumi ini. Too much? I think no. Karena berbicara soal nenek memang se-melankolis ini. Bagiku.

Beruntungnya aku dan kakak-adikku adalah orang yang begitu sayang pada nenek nenek kami, mungkin itu sebabnya kami dihadiahi banyak nenek yang penyayang luar biasa oleh Sang Pencipta. Pertama, kami memanggilnya Nek Amak. Beliau adalah ibu dari ibu kami. Nek Amak adalah nenek yang tidak pernah enggan memarahi kami jika kami nakal dulu. Aku masih ingat betul bagaimana beliau berceloteh ketika dengan bandelnya aku memaksa untuk tidur di luar kamar sewaktu adik laki-lakiku baru lahir. Aku juka tidak akan pernah lupa bagaimana beliau membukakan jam tanganku jika dengan malasnya aku tertidur tanpa ganti baju ketika setiap hari libur kami sekeluarga berkunjung ke rumahnya.

Nek Amak pintar menjahit sejak zaman beliau masih gadis. Kata mama, beliau tidak pernah kursus menjahit. Aku percaya karena ketika Nek Amak menjahitkan piyama untukku, beliau hanya menggunakan jemarinya untuk mengukur lingkar badan dan lingkar lenganku. Nek Amak juga punya rasa yang khas dari setiap ikan bakar yang dibuatkannya setelah kami puas memancing ikan nila dari kolam di belakang rumahnya.

Sedihnya, Nek Amak pergi jauh lebih cepat dari yang pernah aku bayangkan. Terlepas dari sakit yang dideritanya, beliau dipanggil lebih awal karena mungkin Sang Pencipta sudah menginginkan Nek Amak untuk mengamati cucu-cucunya tumbuh dewasa dari alam yang berbeda. Waktu itu, aku tidak pernah menangis sesedih itu. Sulit sekali rasanya untuk menahan air mataku agar tidak bertumpahan ke wajah bersihnya sesaat sebelum ia benar-benar ‘ditutup’. Dan sejak saat itu, tidak pernah ada momen besar yang terlewatkan tanpa berandai-andai “seandainya Nek Amak masih ada”. Dan bukan hanya aku yang begitu rindu pada sosok kaku nan penyayang itu. Kakakku bahkan sempat begitu terharu ketika menghirup aroma bedak yang aku pakai suatu sore karena bedak itu adalah bedak yang selalu dipakai Nek Amak semasa hidupnya.

Kedua, kami memanggilnya Nek Kapok-kapok. Nama kecilnya Siti. Tapi karena dulu sewaktu kami kecil Nek Siti sering mengajari kami yang nakal ini dengan kalimat “Hayo, kapok kan,” setelah kami merasakan akibat dari kenakalan-kenakalan kami dulu, maka lekatlah nama Nek Kapok-kapok itu. Nek Siti adalah ibu dari ayah kami. Beliau adalah pejuang, menjalani masa kecilnya tanpa kehadiran seorang ibu dan hidup berpindah-pindah di zaman penjajahan Belanda bersama ayah dan saudara-saudaranya. Beliau adalah seorang pejuang, berjualan kue untuk menghidupi anak-anaknya. Beliau adalah seorang pejuang, berusaha melawan ingatan masa tua yang begitu lemah di tahun-tahun terakhirnya.

Ada satu hal yang tidak pernah lepas dari ingatanku jika berbicara tentang Nek Siti; nyanyiannya. Dulu jika salah satu dari cucu-cucunya terjatuh atau kepala kami terbentur sudut meja, dengan sigap beliau akan memeluk kami dan mengusap bagian yang sakit sambil bernyanyi ‘Si galapak si galapuang, tabang gagak duo-duo. Bia bangkak sagadang lasuang beko sanang juo. Pucuak kawa pucuak kapelo masuak nan tawa kalua nan biso’. Setelah syair karangannya ini selesai, dengan ajaib kami akan berhenti menangis meskipun sakitnya masih terasa. Sekarang jika aku terjatuh atau terbentur sesuatu dan nyaris menangis, maka sekali-sekali aku mencoba menyanyikan lagu andalan Nek Siti itu berharap aku bisa merasakan kehangatannya lagi. Sementara itu, air mata pasti ikut-ikutan ambil peran dalam momen penuh rindu itu.

Nek Siti pergi dengan kondisi yang tidak begitu sehat. Ingatannya mundur bertahun-tahun lamanya sehingga tidak satupun kami para cucu yang dikenalnya sebelum ia pergi. Di tahun yang sama dengan tahun perginya Nek Siti, aku pernah tiba-tiba begitu rindu dengan sambal terasi hasil ulekannya. Dan di tahun yang sama juga, aku pernah rindu dibelikan coklat bar oleh beliau dari uangnya yang disimpan dalam sapu tangan yang digulung-gulung dalam tumpukan baju. Sesaat setelah Nek Siti benar-benar pergi, aku berkesimpulan sendiri bahwa kerinduan yang sempat mampir itu, datang untuk mengawali kerinduan panjang yang hingga saat ini tidak lagi ada obatnya.

Ketiga, kami punya Nek Con. Ibu angkat papa yang begitu menyayangi kami seperti cucu kandungnya. Dan ada banyak hal yang perlu kuceritakan tentang beliau. Tentang bagaimana aku menyayanginya dan bagaimana beliau melimpahi kami dengan kasih sayang seorang nenek yang begitu luar biasa. Tentang bagaimana aku belajar bahwa rasa cinta tidak hanya datang karena ikatan darah dari cara Nek Con membuatku merasa memiliki hidup yang sempurna. Tentang bagaimana Nek Con membuatku mengerti bahwa kasih sayang bisa dibagi tidak hanya pada keluarga sendiri dan bagaimana beliau membuatku paham bahwa keluarga tidak hanya datang secara turun temurun akibat proses ‘kembang biak’ manusia, akan tetapi keluarga bisa didapatkan sebagai bentuk hadiah atas kasih sayang yang ditebar tadi.

Namanya Sorda. Mungkin sewaktu lidahnya belum fasih menyebut beberapa huruf, nama itu berubah menjadi Con. Mungkin itu juga sebabnya beliau kami panggil dengan sebutan Nek Con. Sementara jika ada yang bertanya mengapa setiap nenek kami harus diberi embel-embel nama lain di belakang kata ‘Nek’, jawabannya karena kami punya banyak nenek. Dan aku sangat yakin bahwa tidak semua orang seberentung itu untuk merasakan berbagai bentuk rasa sayang dari banyak nenek. Jika dua nenek saja sudah membuat seorang cucu bisa bermanja-manja, apa lagi kami yang punya lebih dari tiga nenek. Ya meskipun dari banyak nenek hanya dua yang darahnya benar-benar mengalir dalam tubuh kami.

Tentang Sorda, aku tidak tau harus mulai menceritakan kisah hidupnya dari mana atau part apa yang menurutku penting untuk diceritakan karena semua cerita tentang beliau benar-benar perlu untuk kuceritakan. Terlepas dari keinginanku untuk membagikan betapa keren dan hangatnya sosok seorang Sorda, cerita-cerita tentangnya membawa banyak nilai yang menurutku perlu untuk dipahami banyak orang.

Sorda alias Nek Con ku ini dulu lahir dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak terlalu beruntung. Beliau tumbuh dewasa tanpa figur ayah yang telah duluan berpulang. Kesulitan hidup dan pahit manis perjalanan Sorda kecil bersama adik-adik dan ibunya tergambar dalam lagu yang ditulis dan dinyanyikan oleh adik kecilnya. Kami barampek Mandeh gadangkan, jo saba hati Mandeh adokan[1] adalah sepenggal lirik yang selalu membuatku merinding dengan mata basah.

Banyak hal yang belum diceritakan nenek padaku. Tapi gurat kusut di tangan dan kerut kulitnya cukup menggambarkan perjuangan seperti apa yang pernah ia lalui. Paru-paru basah yang pernah dideritanya cukup menceritakan bagaimana dulu ia selalu pergi pagi pulang pagi sewaktu menjadi koki di sebuah restoran populer di kampung kami.

Biacara tentang koki, Nek Con adalah koki favoritku. Setiap orang selalu punya koki favoritnya. Setiap orang juga punya makanan favorit dengan koki spesifik yang membuatkan makanan tersebut untuknya. Mungkin bagi sebagian besar orang mendeklarasikan “Mama koki terhebat di dunia” pada ibunya. Mungkin juga makanan favorit sebagian besar orang adalah masakan hasil keuletan tangan ibunya. Dalam hal ini mungkin aku akan terdengar sedikit berbeda karena bagiku, koki favoritku adalah Nek Con. Dan makanan terhebat yang dibuatkan khusus oleh koki spesifikku adalah nasi goreng buatan Nek Con. Sory Mom, I don’t mean to hurt you but its true. Ya meskipun dadar buatan mama tidak terkalahkan, tetap saja nasi goreng buatan Nek Con adalah nasi goreng paling ajaib di duniaku. Ajaib? Ya. Karena setiap kali aku makan ratusan jenis nasi goreng dari ribuan koki aku masih saja dan akan selalu berkomentar “masih kalah dari nasi goreng nenek”, atau “aromanya mirip nasi goreng nenek, tapi rasanya masih jauh”, atau malah “warnanya doang nih yang mirip nasi goreng nenek, rasanya kemana-mana”.

Tidak hanya nasi goreng, Nek Con senang menyibukkan diri di dapur kesayangannya untuk membuatkan kami makanan apapun setiap kami berkunjung ke rumahnya di tepi danau Maninjau. Kadang dibuatkannya salad kentang ala restorannya dulu yang menjadi menu andalan untuk dihidangkan pada para bule. Kadang dibuatkannya pancake sederhana yang rasanya benar-benar meninggalkan kesan. Dan yang paling wajib, beliau selalu membuat soto atau lontong di hari lebaran dan merasa puas sendiri melihat semua masakannya dimakan dengan lahap oleh siapa saja yang berkunjung.

Apapun yang dibuat oleh nenek, selalu kami habiskan dengan perasasan puas sebab benar-benar terasa nikmat. Mungkin keahliannya di dapur adalah habbit bawaan setelah bertahun-tahun menjadi kepala koki di sebuah hotel lusinan tahun silam. Mungkin resep masakannya adalah hasil sekolah berlama-lama dengan mengelola restoran hebat di masa emas pariwisata danau Maninjau. Atau mungkin, tangan Nek Con memang dirancang Sang Pencipta sebagai tangan ahli untuk urusan lidah.

Sekali waktu, aku minta dibuatkan bumbu nasi goreng khasnya supaya nanti ketika aku sedang rindu nasi goreng buatannya, aku bisa masak sendiri dengan stock bumbu racikan langsung dari tangan ajaibnya. Dengan harapan dapat menikmati nasi goreng nenek setiap saat, tidak tanggung-tanggung aku minta dibuatkan bumbu itu banyak. Hanya saja setelah berkali-kali mencoba membuat nasi goreng dengan bumbu dari nenek dan step memasak yang benar-benar mengikuti catatan rinci dari beliau, tetap saja nasi goreng buatanku tidak terasa sama dengan buatan nenek. Di hari lain, aku juga mencoba membuat pancake dengan resep persis seperti yang dicatatkan nenek dan tahap pertahap sesuai dengan caranya. Masih, tetap saja rasanya masih jauh berbeda.

Setelah lama tidak bertemu nenek karena kesibukan kuliah di tahun akhir, maka berkunjung lagi ke rumahnya dan makan ikan asin lado[2] hijau buatannya membuatku mulai menerka sebuah kesimpulan; jika hidangan sederhana saja bisa terasa senikmat ini maka apa yang membedakan rasanya mungkin bukan pada bahan atau racikan bumbu yang digunakan, bukan juga pada dapur yang dipakai atau tangan yang mengerjakannya, akan tetapi rasa nikmat dari setiap masakan yang dihidangkan nenek berasal dari ketulusannya memasak demi menyenangkan hati dan perut anak cucunya dengan penuh kasih sayang yang hangat. Ternyata, resep rahasia nenek dalam memasak hanya satu; cinta. Katakanlah aku terlalu berlebihan. Katakan kesimpulanku terlalu mengada-ngada. Tapi percaya tidak percaya ternyata urusan dapur, isi hati sang juru masak ternyata benar-benar mempengaruhi rasa makanan yang diciptakannya.

Maka setelah memastikan jawaban atas pertanyaan ‘apa resep rahasia dari setiap masakan Nek Con’ aku selalu menikmati masakannya dengan perasaan yang berbeda. Aku tidak lagi menghabiskan masakannya hanya karena rasa yang enak. Tapi aku ingin memperlihatkan pada nenek bahwa usaha yang ia lakukan untuk membuat anak cucunya senang berhasil dan tidak sia-sia. Aku ingin memperlihatkan padanya bahwa masakannya benar-benar enak dan selalu menjadi makanan favoritku. Bahkan setelah nenek semakin tua dan mulai sering lupa menambahkan garam dalam masakannya, aku tetap melahap masakannya dengan wajah girang seperti bocah kecil menghabiskan sebongkah eskrim kesukaannya. Dan seperti itulah caraku mempelajari bahwa ada cara lain dalam membahasakan kasih sayang selain berkata-kata.

Hal lain yang aku tidak akan lupakan tentang Nek Con adalah ketika aku wisuda. Hari kelulusan setelah bertahun-tahun mengejar gelar sarjana adalah hari besar bagi setiap mahasiswa. Tidak terkecuali aku yang merasa bangga dan bahagia hari itu. Hari dimana usaha keras papa dan mama mendidik dan membimbingku berhasil menghantarku pada gerbang awal kehidupan nyata. Di hari itu, Nek Con ikut datang untuk menyaksikanku memakai toga. Kata beliau meskipun kakinya tidak kuat untuk berdiri lama menyaksikan namaku dipanggil dan para dosen menyalamiku, dan meskipun orang-orang tidak akan tau bahwa Suci Budiyanti itu adalah cucunya, ia akan tetap merasa sangat bangga padaku hari itu. Maka jadilah hari itu Nek Con duduk di bangku panjang di salah satu lorong fakultas mendengarkan nama dan IPK ku disebutkan dari jauh.

Nenek sengaja ikut datang bersama mama, papa dan adik perempuanku. Tidak lupa, ia membawakan kain panjang untuk dijadikan kodek[3] sebab di hari wisuda itu, aku memakai kebaya. Nenek ingin menjadi orang yang memasangkan kodek itu. Katanya aku tidak akan tau cara memasang kodek dengan benar.

Sedari pagi sejak aku mulai sibuk bersiap-siap dan merias wajah, beliau terlihat tidak berhenti tersenyum memperhatikanku. Mungkin ada kesenangan tidak biasa yang ia rasakan melihat cucu tomboynya berdandan dengan kebaya dan sanggul dari rambutku sendiri yang sengaja aku biarkan tumbuh panjang demi hari wisuda itu. Melihat Nek Con yang bersemangat, aku yang agak bermalas-malasan dalam hal rias-merias ikut-ikutan merasa excited dan mulai berpikir bahwa aku benar-benar harus terlihat berbeda hari itu.

Tepat sebelum kami berangkat ke kampusku untuk upacara kelulusan, nenek mendekat sambil menyalamiku sebuah amplop dan berbisik,

“Nenek tidak kasih hadiah yang wah. Nenek juga tidak kasih uang yang banyak. Tapi ini tanda terimakasih dari nenek karna kamu membuat kami bangga dengan gelar ini,” katanya.

Aku tertegun sejenak sambil berusaha menahan haruku tumpah dan merusak riasan wajah yang susah payah dipersiapkan dari pagi.

“Makasi nek,” kataku lalu mencium pipinya.

Tanda terimakasih katanya. Bagiku amplop putih yang diisinya dengan beberapa lembar uang dengan warna favoritku itu adalah hadiah paling manis di hari itu. Bahkan di malam perayaan kelulusan ketika MC bertanya padaku tentang kesan apa yang aku dapatkan di hari wisuda itu, aku menceritakan tentang amplop putih dari nenek sambil (sekali lagi) susah payah menahan haruku tumpah.

Hari ini jika aku ingat lagi kalimat yang dibisikkan Nek Con pada hari itu, aku merasa menjadi orang dengan kehidupan paling sempurna sebab nenek ku, adalah nenek paling keren di dunia.

 

[1] Lirik lagu ‘Talambek Pulang’ ciptaan Imran Boer

[2] Cabe; bahasa Minang

[3] Kain bawahan/rok