);

Ahoy Kapten!

Masih saja senyummu terlihat lebar selebar layar baru yang kau bentang. Sepertinya tanpa perlu kutanya, tanpa perlu kau jelaskan, kita semua tau bahwa senyum itu adalah lambang bahagiamu yang paling kau banggakan.

Tidak salah lagi! Hari itu, sebelum kau bimbing tangannya melangkah ke dek kapalmu, senyum yang sama juga kau pajang. Kau pasti benar-benar riang dapat penumpang seanggun itu.

Kapten, jika boleh, aku ingin bercerita sedikit padamu. Tentang penumpangmu itu. Dan petualangan penuh rayu yang sempat ia alami ketika menyebrang dengan tumpanganku.

Waktu itu sebelum kapal megahmu jadi, kuberi ia tumpangan di biduk kecilku. Tidak bagus memang. Tapi ia cukup senang menyebrang denganku. Meski sekali-sekali kupaksa ia ikut mendayung.

Kapten, pada dasarnya akupun baru menyadari ini; bahwa waktu itu sesungguhnya aku hanya membantumu. Kujemput calon penumpangmu ini ke perairan sempit dan dangkal yang tidak dapat digapai kapalmu. Lalu kuantar ia ke dermaga tempat kapalmu menepi, menunggu.

Lama memang. Kau tentu tau perjuanganku melewati selat-selat penuh gunung karang. Belum lagi aku hanya punya satu pendayung. Itupun sering patah. Namun Kapten, tetap kuantar ia tepat waktu padamu.

Kapten, selama ia berlayar denganku, kupastikan ia tidak terminum air laut yang asin itu. Entahlah jika tanpa sengaja aku justru mencampur bekalnya dengan air laut itu. Tapi yang aku tau, selama berlayar dengannya, tak kubiarkan ia merasa pusing karena bidukku mungkin sering oleng.

Yang aku tau, ia tak perlu susah payah memancing ikan terlebih dahulu sebelum bisa mengisi lambungnya selama perjalanan kami.

Kapten, selama ia duduk di ujung bidukku, kudengar ia bercerita tentang kapal seperti apa yang ia mau. Aku malu dan begitu sedih waktu itu. Sebab nelayan kecil sepertiku tidak diizinkan punya kapal mewah seperti kapalmu.

Tapi Kapten, jika tanpa sengaja aku jatuh hati padanya selama pelayaran itu, bukan mauku jika kupikir ia juga menikmati berada di permukaan laut bersamaku. Mungkin sebelum berlayar lama denganmu, ia perlu belajar dulu seperti apa rasanya hidup di atas laut.

Dan aku selalu sabar menceritakan tentang arus laut dan cara membaca bintang padanya. Maksudku agar ketika denganmu, ia bisa sedikit membantu pekerjaanmu membuat kapal tetap berlayar di jalurnya.

Sejujurnya aku sempat ragu untuk menurunkannya di dermagamu. Lalu kemudian aku hitung lagi fasilitas di bidukku yang tidak sesuai dengan harapan penumpangku itu. Penumpang seperti itu, berhak mendapatkan pelayaran yang lebih aman dan menyenangkan.

Kapten, itulah sebabnya aku ikut tersenyum melihatnya begitu riang ketika pertama menginjakkan kaki di anjungan kapalmu. Meskipun waktu itu aku sempat menangis melepas penumpang kesayanganku itu. Namun karena kau dan kapalmu tampak sebagai perhentian terbaik, dan itu yang ia mau, aku berhasil iklas waktu itu.

Kapten, aku tau kau orang baik. mungkin caramu berlayar jauh lebih baik dariku. Maka aku tau kau tidak akan biarkan penumpang kita itu menangis karena beku, atau goyang karena terombang-ambing di kapalmu.

Sesekali ajaklah ia menepi. Setauku, selain laut ia juga suka dengan gunung-gunung tinggi. Mungkin suatu saat ketika kapalmu sedang butuh direparasi, di daratan penuh warna warni kau bisa mengajaknya berhenti.

Kapten, jangan lupa siapkan koki terbaik di dapurmu. Yang aku tau, penumpang kita itu suka makanan berbumbu. Tapi tolong ingatkan ia melipat lengan baju ketika makan. Sebab dulu di bidukku, sering kotor ujung lengan bajunya ketika makan tanpa garpu.

Kapten, terimakasih kau telah terima penumpang kesayanganku ini di kapalmu. Jangan tinggalkan ia meskipun lelah kau menghindari jalan buntu. Manjakan ia di kabin terbaik dalam kapalmu. Dan biarkan ia berjalan tanpa sepatu jika angin tidak terlalu terasa beku.

Kapten, titip rinduku untuk penumpang kita itu. Maaf jika sebelum naik ke kapalmu sempat kubuat ia menangis karena rindu padaku. Maaf karena penumpangmu itu adalah orang kesayanganku hingga hari ini.

Maka Kapten, selamat berlayar lebih jauh dengannya. Aku suka kapalmu!