" /> Take Control; Memilih Untuk Berkuasa - SUCI BYT );

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah group talk yang membahas tentang kontrol. Pembicaraan diawali dengan sebuah slide yang berisikan beberapa kata seperti health, career, friends, outcome, dan beberapa kata lainnya. Turns out beberapa kata tersebut adalah hal-hal yang dapat atau tidak bisa kita kontrol. Tentang kontrol, ternyata, ada istilah yang disebut dengan Locus of Control yang terdiri dari dua tipe; eksternal dan internal.

Sederhananya Locus of Control adalah sebuah konsep yang membahas tentang seberapa jauh seseorang percaya bahwa mereka memiliki kontrol atas sesuatu yang sedang dihadapi atau alami. An external locus of control supports a belief that one is helpless, without blame, and not in control of one’s successes and failures.

Berbicara tentang kontrol, seperti biasa pikiran saya berusaha menjawab banyak pertanyaan lebih dulu sebelum saya mendengar lebih jauh tentang hal yang sedang saya dengarkan. Dan ketika ditanyakan seberapa jauh saya percaya bahwa saya memiliki kontrol atas hidup, saya berada di poin 5.5. Seharusnya angka tersebut terdengar seimbang mengingat kita memang tidak sepenuhnya memiliki kontrol atas apa yang sedang kita alami dan akan lalui sebab ada banyak variabel yang berperan dalam proses hidup itu sendiri.

Let say kita percaya bahwa kita memiliki kontrol dalam persoalan karir, lantas bagaimana bisa orang-orang yang selalu berjuang penuh untuk karir yang dicita-citakan seringkali berakhir di posisi yang tidak pernah terbayangkan atau bahkan tidak diinginkan. Jika kita percaya bahwa kita memiliki kontrol atas kondisi keuangan, bagaimana ceritanya orang-orang yang bekerja keras dan pintar mengatur financial situation mereka bisa berakhir kesulitan dalam persoalan uang. Maka jika benar kita memiliki kontrol atas sesuatu, sejauh apa batasannya? Sejauh mana kita sanggup menjangkau untuk tetap memiliki kontrol atas sesuatu?

Terlepas dari pembahasan keyakinan mengenai takdir, nasib, dan hal lainnya, persoalan kontrol dan konsep Locus of Control tadi membuat saya bingung hingga akhirnya coach yang menjadi tuan dari sesi group talk tersebut melemparkan sebuah kalimat.

“Choose to have control because it’ll lead you to what you can or cannot control” katanya. Kalimat ini mengingatkan saya pada kalimatnya Steve Marabolli, “Incredible change happens in your life when you decide to take control of what you have power over instead of craving control over what you don’t”.

 

Semakin bingung

Dua kalimat sebelumnya membuat saya jelas-jelas semakin bingung. Tapi pembahasan tentang kontrol menjadi semakin menarik hingga saya mengulangi kebiasaan lama untuk menarik garis mundur dan menghubung-hubungkan persoalan yang sedang saya ingin pahami dengan pola yang sedang saya pelajari. Saya berakhir pada sebuah kesimpulan bahwa ternyata apapun itu, hidup tetap saja persoalan memilih.

Semakin saya berpikir tentang persoalan kontrol, semakin saya teringat dengan sebuah film dimana Adam Sandler bisa sepuas hati mengontrol satu elemen dalam hidup dengan bantuan remote ajaib; waktu. Dalam film itu om Sandler memaju-mundur dan mempercepat waktu untuk mengontrol situasi yang sedang dihadapi. Tapi hidup kita tidak akan menarik jika saja remote ajaib seperti itu benar-benar ada bukan?

Namun sebagai orang yang begitu candu dengan produk sinematik, saya berusaha memetik sedikit moral lesson dari setiap film dan film Click mengajarkan saya bahwa kita bisa memilih untuk mengatur sesuatu ketika kita sadar jika kita memiliki kuasa untuk mengontrolnya. We can choose to have control when we know we do have power over something. Terdengar sejalan dengan kalimat si Marobelli tadi dan saya merasa semakin dekat dengan kesimpulan dari kebingungan saya tentangn kontrol.

 

Sekarang pertanyaan yang belum terjawab hanya satu; sejauh apa kita bisa memegang kontrol atas sesuatu?

Kembali ke cerita skala one to ten antara internal dan eksternal Locus of Control tadi, bahwa keseimbangan antara keduanya penting. Untuk hal ini, saya rasa kita tidak perlu memilih sebab antara our power to control things dengan sesuatu yang tidak bisa dikontrol adalah sebuah kepaduan yang berjalan dalam sebuah kesatuan. Seimbang.

Tapi jikapun harus tetap memilih, maka dalam hal kontrol, sepertinya kita harus memilih untuk memahami bahwa kita perlu berfokus hanya pada proses sebab dalam hidup, sejauh yang saya tau kita memiliki kuasa cukup sampai disitu. Sementara hasil dan tujuan akhir, adalah sesuatu yang berada jauh dari jangkauan kita. Memilih untuk mempercayai ini, sepertinya akan membuat kita merasa sedikit lebih damai dari biasanya.