);

Apa yang akan kamu lakukan jika tanpa disengaja dan tanpa direncanakan kamu jatuh cinta pada sahabat sendiri?

Entah bagaimana, belakangan isu jatuh cinta pada sahabat sendiri seolah sedang menjadi tren yang dibicarakan banyak orang. Padahal dari dulu telah banyak karya yang telah mengangkat tema ini jauh hari, beberapa film Indonesia juga sudah berkali-kali mengangkat kisah cinta di zona pertemanan ini.

Namun isu ‘I’m in love with my best friend’ ini seolah kembali menjadi topic menarik untuk dibahas. Terlebih ketika one of my favourite female artist merilis single ‘panas’ hasil duet doi dengan yang katanya sahabat itu padahal lagu itu seolah semakin mengumbar manisnya ‘jatuh cinta ke sahabat sendiri’ ini.

 

Eh, memangnya ia manis?

Believe me, tidak ada proses kasmaran yang terasa lebih manis selain kasmaran dengan sahabat sendiri. Ketika momen ketawa-ketiwi yang tadinya berasa konyol itu tiba-tiba terasa begitu hangat dan entah bagaimana ada yang berbeda dari hadir sahabatmu itu.

Persoalannya hanya satu; tidak selalu apa yang kita rasakan terhadap seseorang akan dirasakan juga oleh orang itu. Maka jadilah momen jatuh cinta ke sahabat sendiri ini berubah menjadi sebuah dilema ketika doi sama sekali tidak aware dengan perasaanmu atau malah dia jadi berubah ketika tau perasaanmu padanya mulai berubah.

 

Bingung Ah, ada contoh?

Ada. Namanya Sani, perempuan yang sengaja saya ciptakan dalam sebuah karya fiksi untuk disiksa dengan gelisahnya jatuh cinta pada sahabat sendiri. Kisah hidup Sani perlahan berjalan semakin rumit dengan keputusan-keputusan yang harus diambilnya sementara ada pertanyaan yang masih belum terjawab sepenuhnya tentang sebuah perasaan.

Perasaan yang mungkin saya, anda, dan kita pernah dan akan rasakan. Perasaan yang seringkali tidak dicari tapi datang tiba-tiba. Perasaan yang seenaknya mengubah mood kita di hari-hari tertentu. Perasaan yang mengganggu jam tidur. Perasaan yang ada namun dibiarkan seolah tidak ada.

Jenis perasaan itu yang tadinya menjadi alasan saya menulis in the first place. Jenis perasaan itu juga yang banyak saya dengar dalam curhatan pembaca @puisi.lingkaran yang sengaja mengirim direct message untuk curhat. Jenis perasaan itu juga yang melahirkan tokoh Sani ini dikemudian hari.

Maka dengan berbekal berbagai bentuk kisah dan gelisah, saya mulai menyiksa si Sani ini dengan masa lalunya yang masih suka menghantui dan kenangan lama yang selalu mempengaruhi cara Sani dalam mengambil keputusan. Sehingga proses bertumbuh Sani menjadi orang dewasa dilalui untuk menjawab sebuah pertanyaan; Apakah Seperti Ini ‘Cinta’ Itu Sendiri?

 

Ha? Apakah Seperti Ini ‘Cinta’ Itu Sendiri?

Yes. Sebuah pengakuan yang pada akhirnya tersampaikan, sebuah kerinduan yang akhirnya terbayarkan. Sebuah perjalanan seorang perempuan bernama Sani dalam menjadi versi terbaik dirinya. Sebuah cerita antara Sani dan perasaan-perasaannya, dan antara Sani dengan segala bentuk gamang yang dihadapinya.

Apakah Seperti Ini Cinta Itu Sendiri (ASICIS) adalah karya fiksi pertama saya yang pada akhirnya dibukukan. Dan terlepas dari naik turun proses penulisannya, ASICIS akan hadir untuk menemani malam-malam gamangmu mencerna dengan baik getaran-getaran aneh yang datang entah dari mana ketika sebuah perasaan muncul tiba-tiba.

ASICIS hadir sebagai surat cinta dari saya untuk Anda semua dengan sebuah jawaban atas gelisah kita tentang sebuah pertanyaan. Maka jika hari ini ada yang masih saja betah merahasiakan jenis perasaan apapun yang disembunyikan dari si pemicu perasaan tersebut, ASICIS akan hadir sebagai pesan untuk mengatakan bahwa apapun bentuk dan warnanya, sebuah perasaan harus tersampaikan.