);

Beberapa minggu terakhir saya lalui dengan sedikit gelisah. Gelisah tentang waktu yang semakin terasa buru-buru. Tampaknya melihat angka di kalender yang semakin berubah, waktu di jam tangan yang terus berputar tidak baik untuk ketenangan seseorang yang mulai menyadari bahwa semakin hari, semakin banyak waktu yang dibuang percuma.

Namun memperhatikan laju waktu ternyata juga berguna sekali bagi orang seperti itu, seperti saya, dan mungkin seperti sebagian dari kamu yang malam ini duduk di sudut kasurnya dan tertarik membaca tulisan ini karena judulnya.

Tergesa-gesa memang tidak baik. Tapi tidak ada salahnya jika diantara pagi ke pagi lagi kita tergesa-gesa untuk melakukan atau memikirkan sesuatu. Seperti tergesa-gesa berjalan kaki diantara kerumunan orang yang meninggalkan stasiun misalnya. Atau tergesa-gesa menghapus foto lama yang bisa jadi mengingatkanmu pada kenangan tertentu yang sudah seharusnya ter’Thanos’ dari memori jangka panjangmu (oops).

Malam ini saya sedang tergesa-gesa. Tergesa-gesa menuliskan banyak hal yang mondar-mandir dalam kepala saya namun tidak sedikitpun sempat tertuang untuk mungkin dapat membantumu mengisi waktu luang sambil nongkrong di toilet misalnya. Atau untuk mengisi waktumu berdiri di kereta di pagi hari ketika suka-tidak suka kamu harus ikut-ikutan tergesa-gesa berangkat dari rumah menuju kantor.

Bicara tentang tergesa-gesa, ada sejenis tergesa-gesa yang benar-benar tidak baik untuk dilakukan atau tanpa sengaja dilakukan; tergesa-gesa jatuh cinta.

Ah, jatuh cinta. Memangnya ada jatuh cinta yang tergesa-gesa? Seperti apa?

Mungkin kamu sedang berada di suatu tempat, sedang mengerjakan sesuatu yang entah bagaimana kemudian mempertemukanmu dengan seseorang yang tidak pernah terduga sama sekali. Kawan, tidak ada hal yang kebetulan. Maka pertemuan itu kemudian membuatmu semakin sering bertukar ‘Hi’ dan good morning text dengannya hingga kamu merasa benar-benar nyaman.

Mungkin kamu sering bertemu dengan adik kelas dan merasa punya banyak kesamaan hingga akhirnya tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kalian saling suka. Mungkin seseorang bersikap baik dan manis padamu lalu kamu tergesa-gesa menjawab harapannya dengan seolah merasakan hal yang sama dan menjalani sesuatu yang kamu sendiri mungkin tidak sadar akan berujung menyakitkan entah bagi siapa. Mungkin juga kamu sedang berteman baik dengan seseorang dan merasa pertemanan itu bisa naik level karena kamu tergesa-gesa menginginkan temanmu ini lebih.

Dari semua bentuk tergesa-gesamu terhadap seseorang ini, lalu dengan jenis perasaan yang mudah terbawa, secara tidak sadar kamu memutuskan bahwa kamu sedang jatuh cinta hingga akhirnya otakmu memerintahkan telinga itu untuk rindu mendengar suaranya setiap hari, mata itu haus untuk memandang wajahnya lagi, dan paru-paru itu rindu untuk menghirup udara di tempat yang sama lagi.

Bam! Kamu masuk dalam ‘ilusi’ manisnya jatuh cinta. Merasa seolah memang dipertemukan untuk saling bertukar rindu dan peluk, kamu mulai lupa menaruh rasa sayang pada diri sendiri untuk mendapatkan perhatian lebih dari seseorang yang dengan tergesa-gesa kau biarkan mencuri fokusmu itu. Hingga perlahan, kamu tidak menyadari bahwa kamu sedang tergesa-gesa mempunyai sebuah sense of belonging. Celaka!

Salah?

Tidak. Tidak jika kamu masih sempat berpikir waras dan tidak mengabaikan logikamu dengan sengaja. Tidak salah jika kamu tidak terlalu tergesa-gesa berharap. Mungkin satu dari sejuta kisah pertemuan akan berakhir baik dan manis. Namun ada 999.999 pertemuan lainnya yang akan berujung entah kemana. Dan jika kamu tergesa-gesa lupa bahwa semua hal yang berhubungan dengan perasaan akan membawa jenis perasaan lainnya yang tidak baik untuk ketentraman hatimu, itu baru salah.

Lantas, bagaimana jika terlanjur berujung menyakitkan? Ya segeralah tergesa-gesa menyusun kembali kepingan dirimu yang berantakan itu dan tergesa-gesalah menemukan hal penting yang akan kamu lakukan dalam rangka menghabiskan waktu yang berlalu dengan tergesa-gesa itu.

Sulit memang. Namun harusnya, apa yang didapatkan dengan tergesa-gesa kemudian hilang secepat tergesa-gesa kedatangannya itu, tentu akan hilang dengan tergesa-gesa juga. Kecuali hati dan kepalamu terlanjur tidak sepakat (bukan) untuk pertama kalinya untuk tergesa-gesa move on dan memperbaiki mode auto fokus dalam kepalamu.

Bingung? Saya juga.