);

Dulu, saya sering bertanya pada teman-teman dan siapapun yang pernah atau senang mendaki gunung; “apa sih enaknya naik gunung?” Sebab setau saya yang awam tentang dunia daki-mendaki ini, naik gunung terdengar begitu melelahkan, ‘berat’, dingin, menghabiskan banyak waktu, dan berbahaya. Kemudian jawaban mereka semua sama; “coba sendiri!”

Pada akhirnya saya benar-benar mencoba. Jangan tanya lelah dan sesak nafas saya ketika menanjak jalur tidak aman, banyak nyamuk, lintah, licin dan ‘menyeramkan’ dalam sebuah mendaki gunung. Belum lagi saya harus berusaha kuat mengiringi langkah kaki teman-teman yang sudah terbiasa dengan tanjakan dan tau dimana harus berpijak. Melelahkan.

Tapi jangan tanya juga bagaimana sisa air mata saya akibat menangis cengeng sambil bilang “udah, udah ga kuat, tinggal aja saya disini, gapapa” terbayar lebih dari lunas setelah susah payah puncak Marapi dan Singgalang serta tiga danau terlihat dari kejauhan di puncak gunung Talang, my very first and last climbed mountain. Semua pertanyaan yang saya tanyakan pada para pendaki gunung dulu itu terjawab lebih dari cukup karenanya.

 

Arti sebuah ‘puncak’

Saya tidak terlalu yakin bahwa penjelasan saya tentang jenis puas sewaktu dua kaki malas ini berhasil berpijak di puncak gunung Talang waktu itu akan mudah dipahami semua orang jika saya coba urai di sini. Yang saya tau pasti, siapapun yang pernah mendaki gunung akan paham indahnya jenis perasaan itu.

Tapi apapun itu, yang jelas berpijak di puncak terasa begitu sempurna karena susah payah dan lelah kita terbayar dengan hasil yang sepadan. Sepadan. Namun saya tidak menyebutkan jenis pemandangan indah seperti apa yang kita dapatkan dari puncak gunung. Bukan. Seindah apapun viewnya, semua puncak hanya memiliki satu arti; hasil akhir. Sekali lagi, sepadan.

Kita berjalan jauh, mendaki, berlelah-lelah, sesak nafas, kehausan, dan mungkin sempat kehujanan hanya untuk satu tujuan; mencapai puncak. Sadar tidak sadar, bentuk rasa puas yang kita rasakan ketika mencapai puncak bukan hanya sekedar bentuk bahagia mengagumi lukisan alam, tapi lebih dari itu. Maka apalah artinya sebuah puncak gunung jika tidak diawali pendakian berat. Bentuk puasnya akan terasa berbeda.

Trust me, akan terasa berbeda sebab dalam proses pendakian, bukan indah puncaknya yang paling dinikmati, tapi proses mendakinya. Mungkin ini yang menjalani alasan banyak pendaki yang ikhlas berkemah di tengah perjalanan menuju puncak karena terkendala cuaca atau kondisi fisik namun tetap bahagia kemudian.  Tidak percaya? Tanyakan sendiri pada para pendaki gunung. Atau coba sendiri setidaknya mendaki bukit kecil di kampung halamanmu.

 

Lantas…?

Seperti itulah arti sebuah puncak. Indah sebuah puncak akan lebih ‘terasa’ jika diawali sebuah pendakian. Pendakian ini yang menjadi bagian paling manis dari proses mendaki gunung itu sendiri.

Dalam hidup, semua bekerja seperti proses mendaki gunung itu. Uang yang tidak seberapa akan terasa begitu nikmat dan melunturkan lelah ketika untuk mendapatkannya kita benar-benar bekerja keras dengan keringat sebesar butiran jagung rontok dari pori-pori. Sebuah jabatan akan terasa benar-benar berarti jika untuk mendapatkannya kita harus mengalami pahit-manis suka-duka menjadi kacung terlebih dahulu. Nilai atau IPK tinggi akan terlihat lebih indah jika untuk mendapatkannya kita benar-benar belajar dan berjuang hebat menghadapi soal-soal ujian dan tugas dengan usaha maksimal diri sendiri.

Sederhananya, yang indah dan manis dari segala bentuk hasil akhir adalah proses menuju hasil itu sendiri kemudian hasil akhir hanya akan menjadi bonus yang bertugas mengingatkan kita pada prosesnya. Entah itu proses yang berat dan panjang atau hanya perjuangan singkat yang tidak terlalu berat, tetap saja sebuah proses adalah bagian paling nikmat dari sebuah ‘perjalanan’.

Sebuah proses memberi kita kesempatan untuk mengetahui bahwa kita mampu menghadapi dan melakukan sesuatu lebih dari yang pernah kita duga. Sebuah proses menghadiahkan ‘sakit’ yang pada akhirnya tidak lagi akan kita anggap sebagai hal negatif dan menyadari bahwa inilah bentuk ‘bertumbuh’. Sebuah proses memberi kita kesempatan untuk benar-benar menyadari dan menghargai value sesuatu.

Jadi jika sesekali kita masih mengeluh tentang bentuk ‘pendakian’ berat yang sedang diperjuangkan, coba untuk memahami bahwa puncak terbaik akan selalu diawali pendakian tersulit. I mean, what joy would we have if everything are easily achieved?