);

Episode perdana dari musim terakhir master piece yang mendunia Game Of Thrones sudah tayang. Di bulan April, bulan panas di Indonesia tahun ini. Berhubung Game Of Thrones adalah satu-satunya ‘isu politik’ yang bisa membuat saya betah menyimak, saya tergelitik untuk membahas beberapa hal yang bisa dikait-kaitkan dengan situasi di negeri kaya ini (jangan protes apapun karena semua hanya cara saya memandang musim politik ini. Sekali lagi, versi saya!).

 

Valar Morghulis!

Alangkah beruntungnya situasi panas (atau dingin?) negeri Westeros yang terangkum dalam enam episode tahun ini release bersamaan dengan ‘hot week’nya politik Indonesia. Maka saya yang tidak pernah terlalu memperhatikan desas-desus dan segala bentuk cerita yang wara-wiri tentang politik negeri ini punya sesuatu untuk dibahas; Winter is here!

Mungkin salah satu figur besar pernah menyebut-nyebut konflik dalam dunianya George RR Martin ini dalam sebuah pidato. Versi saya, tanah air kita ini benar-benar terasa seperti The 7 Kingdom belakangan ini. Elemen Westerosinya nyaris cukup.

Cersei (source: imdb)

Ada dua ‘ratu’ yang sedang berebut tahta, ada ancaman mematikan from beyond the wall, ada naga, ada the golden army. Hanya saja mungkin kita belum punya Jon Snow, kita tidak punya Tyrion dan kita tidak punya Bran Stark. Namun tetap saja, kisah #ForTheThrone benar-benar terasa.

 

OK, so?

Saya tidak terlalu suka membahas terlalu dalam tentang isu perebutan tahta (lain jika yang diperdebatkan adalah ketegangan antara Cersei dan Daenarys). Namun mungkin ada beberapa hal yang bisa kita petik dari sebuah Game Of Thrones

  1. Bersatu itu tidak sulit

Jika kamu adalah fans berat GOT, mungkin kamu paham bagaimana jutaan mata sedang menunggu hal yang sama di waktu bersamaan dan saling merasa terkoneksi hanya untuk menunggu episode perdana season terakhir ini tayang.

See how beautiful it is to be united in all differences. Perbedaan jam, perbedaan bahasa, perbedaan kebangsaan, semua penikmat produk sukses HBO ini seolah berkumpul untuk sesuatu. Tanpa disadari, semua saling terkoneksi dengan jenis emosi dan excitement yang sama tentang serial kelas atas ini. Terlepas dari siapapun karakter jagoan mereka.

Maka jika hal fantasi seperti Game Of Thrones bisa menyatukan begitu banyak orang di dunia, mengapa hal-hal lain yang mungkin jauh lebih real tidak bisa melakukan hal yang sama pada kita di tanah air tercinta ini?

Atau kita hanya perlu betul-betul ‘candu’ dengan kedamaian dan persatuan hingga excitement nya bisa setara dengan hype para GOT fans hari ini?

 

  1. You might be a wolf, but that doesn’t mean you can’t learn from the lion

Masih ingat bagaimana cupu dan menyebalkannya seorang Sansa Stark di musim awal Game Of Thrones? Lihat bagaimana ia tumbuh dan menjadi seorang Lady of Winterfell hari ini. Terlepas dari berbagai jenis suffering phase nya, terlepas dari watak keras kepalanya, seorang Sansa telah berkembang menjadi figur tangguh yang membuat gentar.

Menghabiskan tahun-tahun pertumbuhannya dibawah kontrol seorang Cersei, Sansa menjadi perempuan ‘kuat’ yang berkarakter. Bayangkan banyaknya lesson yang ia pelajari selama hidup di bawah atap musuh.

Sansa Stark (source: Imdb)

Character growth Sansa Stark mengajarkan kita bahwa hanya karena seseorang atau sebuah pihak adalah lawan, bukan tidak mungkin banyak hal (lebih) baik dari mereka yang bisa kita serap kemudian pelajari dan kembangkan dengan cara sendiri. Belajar sesuatu dari pihak lawan tidak akan membuat kita terlihat bodoh, justru yang membuat kita terlihat tolol adalah menghina dan mencaci maki pihak lawan meskipun secara ego, mengakui kelebihan lawan adalah hal yang berat.

 

 

 

  1. You want something, earn it

Kata “…earn it” muncul beberapa kali dalam episode pertama ini;

“You want a whore, buy one. You want a queen, earn her” said Cersei.

“You want their loyalty, you have to earn it” said Pak Tua Davos.

The point is, apapun itu, usahakan. Put an effort. Mau dihargai? Berhenti tidak menghargai orang lain. Mau dianggap pantas menjadi ‘sesuatu’? Pantaskan dirimu. Sesederhana itu.