We Hate Each Other Right Now, But Not Forever

This morning was not like any other morning. It was a Saturday type of busy morning that we have never experienced. There were a lot of checklists to complete and places to visit. But still, we kissed and said “morning, love” like any other morning—just like our regular morning routine. 

It was 5 am. You woke up because of my alarm. You tried to wake me up, but you failed. You saw through the entire room with a little bit of confusion. There’s a lot on your mind in that early morning. You starved, you saw our room was messy, you saw me sleeping like a baby after we kissed, and you reached out your phone with no notification that you’ve been waiting for from your colleague.

Yet, you decided to go back to sleep, like me. 

It was 7 a.m. You saw me still sleeping unmoved. You still saw this messy room, and no notification appeared on your screen. It’s still you, but the difference was that this time, you tried to sit with anger. 

“Arghh,” you said, annoyed with your situation at that time. You started hating this messy room, your phone, and me, who was sleeping unmoved like a baby. 

You tried to wake me up with no plan of failing. You shook my body harder and harder, you yelled, and it was my turn to feel annoyed. 

“What?”, I asked with a little bit of frustration in my face.

“Wake up! We need to hurry. It’s 7 a.m. already.”, you replied unfriendly. I was not listening. My head was too heavy for this conversation that Saturday morning. 

“Wake up!!” you yelled louder, and I was angry. 

“Okay!”, I said. I sat, stood, and moved my body directly to the bathroom. I took a shower and wore the clothes that you chose. I sat for a while, waiting for you to do make-up. You looked pretty but I was still angry. 

I drove you to the first place we needed to go. You had an office event, and I went to a coffee shop. I tried to remember why I had this feeling. Why I needed to feel this anger and the feeling of hating you was right for me. Because there was no conversation between you and me this morning from our house to your office event’s place. 

I tried to think clearly. 

My anger came from the way you yelled. 

You yelled because you were angry with me. 

You were angry due to some factors: two of them were your colleague who was not responding to your message and me for not tidying up our room after working until late the night before. 

I did not tidy up the room because I was exhausted due to my work and neglected my responsibilities in our relationship. 

So, it was me. 

I picked you up after we separated for almost 3 hours. You with your activities, and me with my coffee and thought. 

“You still angry?”, you asked after we drove for a while. 

“Not really. I’m sorry honey.”, I replied with a poker face. 

“I am sorry, I was not respectful to you.”, you said softly. 

“I am sorry. I was not supportive enough for you.”, I said gently. We held our hands again like we used to do when we were both in the car. Because we realized, in this relationship, we might hate each other for a reason, we might be angry toward each other for some actions, yet it doesn’t have to be forever. 

We can communicate, we can show respect, and can fix things together.  

Tingkah Lucu Manusia

Kadang murung, kadang riang
Kadang senang, kasang gusar
Tak tertebak, bagai aksi panggung pesulap terkenal
Mudah muncul, mudah hilang

Dikasih ringan, ingin yang lebih berat
Dikasih berat, malah mengeluh dan menghujat
Dikasih mudah, bilangnya kurang menantang
Dikasih tantangan, malah memaki semesta dianggap tak berpihak

Lucu memang tingkah manusia
Tak bisa bersyukur secara konstan
Senangnya di awal, lalu basi termakan waktu
Layaknya sirop yang manisnya ditenggelamkan cairan es batu

“Rasanya pengen jadi pohon saja”, teriak remaja berumur 30 tahun di ibu kota
Di saat cicilan dan tagihan mulai menerjang rekening di akhir bulan
Serasa gaji dan bonus lenyap begitu saja

Tapi memang benar, menajdi pohon sepertinya lebih menyenangkan
Hanya berdiri dan tak perlu memikirkan perjodohan

Lucu memang tingkah manusia,
Semoga pohon tak pernah berharap menjadi salah satunya

1.30 | eps.2

Beberapa hari berlalu, aku yang pengecut hanya memandang Della dari jauh. Semenjak hari itu aku sering berpapasan dengannya, dan kami hanya saling senyum tanpa tegur sapa. Bon Cabe yang terasa manis itu kini semakin menunjukan pedasnya. Sepertinya aku bukan orang yang tepat untuknya, untuk apa aku mencoba?

“Hey Rel, sendiri aja?” Tiba-tiba kau mengejutkan lamunanku. Paras ayu, bibir mungil dengan senyum mempesona itu tiba-tiba menaruh piring makan siangnya di depanku.

“Eh Del, kok tumben enggak gabung sama mereka?” tanyaku mencoba biasa saja sambil melirik ke arah meja tempat Syahrul duduk bersama teman-temannya.

“Iya, lagi penuh di sana terus aku ngalah aja. Enggak apa-apa kan aku di sini?” tanyanya sambil duduk persis di depanku.

“Iya enggak apa-apa.” Jawabku singkat dan kembali menyuapi diriku sendiri dengan gado-gado tambah telur dadar ala Ibu Minah.

Kami berbincang, dia yang memulai. Dia bertanya apa aku punya akun kosong di Netflix dan kebetulan aku memang sedang mencari seseorang untuk join akunku yang kosong satu. Kami banyak bercerita tentang film-film favorit kita. Tidak sama memang, dia lebih suka film-film aksi atau biografi, sedangkan aku lebih suka drama keluarga atau fiksi. Namun, ada satu hal yang membuat pikiran kita sejalan, kita sama-sama membenci genre romance-comedy.

Kami tertawa terbahak-bahak sampai aku kadang sadar beberapa pegawai lain memperhatikan. Kami bercerita bagaimana kami bisa saja tertidur di bioskop karena film rom-com yang pasangan kami minta untuk tonton. Bagaimana kami belum pernah selesai menonton film Titanic atau Ada Apa Dengan Cinta karena tertidur sebelum pertengahan dan akhirnya menyerah. Seakan semesta memberi restunya, kami semakin dekat dan mulai terbuka tentang satu sama lain di 40 menit ini.

Sayang 2.30 sudah datang, kami harus segera bergegas pergi ke meja kerja masing-masing.

“Eh Rel, minta nomor lu dong. Nanti sekalian kirimin email sama password dan nomor rekening ya?” Kuberikan nomorku sambil gemetar. Dia melihatnya kurasa. Getaran gugup itu.

Di meja kerja aku masih terlalu gugup. Tak mengganggu kerjaku, malah lebih membuatku produktif hari itu. Aku menyelesaikan targetku secepat mungkin untuk bersantai di jam-jam sebelum sebelum pulang.

“Eh kok bengong mulu lu? Enggak mau siap-siap pulang?” Buya, teman sebelahku menyadarkan lamunanku.

“Oh iya, yuk.” Jawabku singkat.

“Lu lagi kenapa dah? Betewe lu jadi ikut acara lari bareng enggak di GBK?” tanya Buya sambil membereskan mejanya.

“Iya jadi.” Jawabku tanpa merubah pandanganku dari meja kerja.

“Oke, gue tunggu di bawah ya. Nanti kita berangkat bareng yang lain juga.” Aku menoleh ke arahnya, tersenyum dan mengangguk setuju.

Kami berangkat menggunakan mobil Buya. Sesampainya di GBK, kami langsung pergi ke arah tengah untuk bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku terkejut karena di sana ternyata ada Syarul, Della dan lain-lain. Aku gugup tapi senang, aku senang tapi gugup. Entah apa yang sedang mengusikku. Cintakah, atau hanya obsesi semata?

Aku tersenyum ke arah teman-teman yang sudah mulai berkumpul dan melakukan peregangan. Kami berlari tak lama kemudian. Aku mencoba menyeimbangkan lariku dengan Della sehingga kita sejajar. Dia sadar dan mulai menurunkan satu airpods miliknya.

“Mau barengan?” dia menyodorkan airpods-nya kepadaku.

“Boleh,” jawabku.

Kami pun dia dalam belaian lagu sambil berlari kecil mengejar peluh.

Semesta, apa yang sedang kau coba sampaikan? Manusia dengan paras ayu, bibir mungil dan senyum mempesona inikah yang harus aku puja? Atau obsesi ini harus aku kubur dengan alasan berbakti kepada orang tua? Semesta, semoga cepat kau sampaikan jawabmu pada waktu

1.30 | eps.1

 

“Arel mau istirahat jam berapa?” tanya kak Intan, team lead-ku hari itu. 

“Bebas kak.” aku menjawab singkat. 

“1.30 ya?” tanya dia balik dan langsung kuserang dengan jawaban “Oke komandan” seperti biasa. Bekerja sebagai Customer Service membuatku tak begitu memikirkan waktu istirahat. Akan sama saja pikirku, kita harus istirahat sendiri-sendiri. Pola kerja yang membutuhkan kehadiran manusia 24/7 membuat antara aku dan teman-temanku harus beristirahat bergantian. Aku yang tak pandai mencari kawan sudah terbiasa dengan makan siang di kantin basement kantor seorang diri atau bersama tim lain yang tak begitu aku kenal. Tapi siapa sangka, makan siang hari ini bisa menjadi berbeda. 

Aku yang terbiasa dengan rutinitas akan memilih meja yang sama, agak pojok dekat jendela. Sebagai penikmat makanan, biasanya aku akan berkomentar atau mencaci maki makanan yang aku pesan karena ada saja hal yang kurang. Entah itu garam, kematangan, atau hal lainnya. Padahal aku juga tak begitu mengerti soal masakan. Dan sebagai laki-laki, hari ini makanan bukan lagi menjadi sorotan utamaku. Di ujung sana ada seorang wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna. “Ya Tuhan, ada apa ini?” bisikku dalam hati. Aku tak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Masih ada adik-adik yang butuh dana sekolah untuk dipikirkan, bukan lirikan manis, tangan mungil, kulit bersih dan rambut menawan di hadapanku itu. Bukan. Aku mencoba berpaling, aku harus kuat. Kupercepat makanku, kualihkan pandanganku semoga gangguan semacam ini cepat berakhir. 

“Hey Rel, udah beres istirahat lo?” Sial, ada Syahrul yang tiba-tiba menyapaku di situasi genting seperti ini. “Iya.” aku jawab sambil mengangguk dan senyum singkat. 

“Eh sini dulu, kenalin ini anak baru namanya Della.” Si wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna itu mengangguk. Jelas langsung kubalas anggukan itu dengan anggukan lainnya dan senyuman, yang kaku. 

“Duluan ya.” tanpa basa basi kulambaikan tanganku dan bergegas pergi. 

Tak biasanya aku seperti ini. Kejadian tadi membuatku terbayang-bayang. Tuhan, aku tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Bukan aku namanya jika tak bisa berpikir dengan logika. Mungkin ini hanya rasa kagum semata akan paras wajahnya, tak lebih dari itu.

Baca Juga:

The Coffee of Your Name

Dialog Hujan, Kau dan Aku

 

Setelah tidur terlalu larut, aku terkejut saat bangun dan melihat jam sudah pukul tujuh. Tak biasanya aku terlambat. Tak biasanya juga aku terjaga terlalu larut hanya untuk menatap langit-langit kosan.

“Rel hari ini istirahat jam 12.30 ya!” terdengar suara kak Intan dari meja seberang. “Besok jangan terlambat lagi!” tambahnya. 

“Siap komandan!” jawabku singkat. 

Selang sepuluh menit sebelum istirahat aku langsung terbayang nasi goreng tongseng kambing. Nasi yang digoreng dengan bumbu tongseng dan daging kambing sih bakal luar biasa. Toh di luar cuaca lagi agak mendung, makan yang beginian apalagi kalau pedes pasti enak sih. Ngebayanginnya saja sudah membuat air liurku mengalir deras, jadi tak sabar. 

“Bu, nasi goreng tongseng kambing pedas satu ya.” Langsung kupesan nasi goreng itu tanpa basa-basi. Begitu jam istirahat dimulai aku langsung ke bawah dan cari spot di ujung dekat jendela. Saat ingin menyantap nasi gorengku, dia datang. 

“Eh Arel kan? Hmm.. baru istirahat ya?” tanya dia agak malu. 

“Iya, kenapa ya Del?” jawabku mencoba bersikap biasa.

“Boleh nitip ini gak? Tadi gak sengaja gue bawa pas mau pesen tongseng. Gue istirahat selalu jam 1.30 tapi kalau jam segitu biasanya tongsengnya abis. Jadi gue pesen duluan izinnya ke toilet dan kayaknya kalau gue ke loker naro ini lagi bakal jadi lama banget deh.” agak ragu dia menjelaskan sekalian menyodorkan Bon Cabe kepadaku. 

“Iya boleh.” jawabku singkat, kaku. 

“Thank you! Nanti gue ambil jam setengah satu ya, lu kalau mau pakai boleh pakai aja ya!” dengan paras ayu, bibir mungil, dan senyum sempurna dia pergi terburu-buru ke arah pintu. Kupandangi Bon Cabe miliknya sambil berpikir, ada kesamaan yang kutemukan antara aku dan Della. Kami sama-sama penikmat tongseng dan pedas. Sambil menahan bahagia aku menikmati makan siangku.

Satu jam ini terasa nikmat namun tak juga berasa sebentar. Aku kerap bertanya, “kok Della enggak datang-datang untuk ambil Bon Cabe dia? Ini sudah 1.30 loh!” aku agak kesal setelah melihat jam di tangan sebelah kiriku. Atau sedikit kesal karena aku belum juga melihat wajahnya.

“Eh sorry ya telat, udah Bon Cabenya?” terengah-engah dia masih saja tersenyum. 

“Udah, makasih ya.” kesalku runtuh. “Ya Tuhan, aku kenapa?” bisikku dalam hati. 

“Lah gue lah yang terima kasih. Yaudah, gue makan dulu. Lu semangat kerja lagi ya.” dia pun kembali ke mejanya persis seperti kemarin dan persis bersama Syahrul. 

“Eh Rel, lu masih di sini?” Tiba-tiba Syahrul mengingatkanku akan waktu yang kubuang berjalan lambat sambil senyum-senyum sendiri ini. “Mampus udah 1.40 gue telat!” 

Kembali kejadian itu terbayang-nayang, kembali sampai larut malam aku baru dapat terpejam. Tuhan, jika rasa cinta dapat mengalahkan amarah, apakah Della yang kubutuhkan? Hanya butuh satu tatapan untuknya menghilangkan keluhku tentang makanan, hanya butuh satu permintaan maaf untuknya menghilangkan kesalku yang kadang tak beraturan. Jika senyuman adalah obat termanjur dari segala obat, aku yakin senyumnyalah obat termanjur untuk segala penyakit hatiku.  

 

Baca juga:

Like Never Before #loveletterseries

The Click, Alasan Kenapa Kamu Jatuh Cint

 

Walau semalam terasa juga lebih panjang dari biasanya, aku bersyukur aku tidak harus terlambat ke kantor. 

“Arel, istirahat lu jam 12.30 ya hari ini!” seperti biasa, setengah teriak Kak Intan dari meja seberang sesaat setelah aku duduk di meja kerjaku.

“Enggak mau kak! Aku mau jam 1.30 aja!” hampir berteriak aku menjawab sampai seluruh tim melirikku terheran-heran. Aku tersenyum.

 

Pengandaian – #loveletterseries | eps.3

 

Jika saja setiap puisi diawali dengan pengandaian seperti di saat bulan berbicara, pohon menari atau hujan yang berbisik, aku juga ingin berandai. Andai kamu ada di sini.

Sore itu hujan lebat bahkan tak ada lagi gedung yang dapat dilihat dari jendela kamarku saat ini. Semua putih dan menampakkan kilat kadang-kadang. Aku tengah membaca buku di kasurku, dengan sesekali mencuri pandangan ke jendela untuk memastikan jika hujan lebat ini berhenti. Kopi panas tanpa gula masih mengepul di meja sebelah kasurku ditemani telepon genggam tanpa notifikasi. 

Aku tertawa kecil, kembali memikirkan kamu pasti sudah merangkai kata dari situasi ini. Hujan, kopi panas, buku, apa lagi yang kurang? Sayang aku tidak sepuitis itu. Tanpa pikir panjang aku bangkit ke arah meja seberang kasur di kamarku. Aku ambil buku dan pulpen dari sana dan kembali ke kasur sebelah kiri. Aku membuka lembaran yang belum terisi dan mencoba berpikir, andai aku adalah kamu apa yang akan kamu tulis? 

Kuketuk-ketuk ujung pulpen ke ujung kanan bawah buku sambil melirikkan bola mataku ke arah atas tanpa melihat apa-apa, aku buntu. Coba kuulangi lagi, jika, saja setiap puisi diawali dengan pengandaian apa yang harus kutulis? 

Sayang, andai hujan ini dapat dihitung. 

Kuyakin jumlahnya lebih sedikit dari rinduku padamu. 

 

Baca juga:

Dua Nenek Dan Sungai Danube

Like Never Before


Lalu kembali aku buntu dan sedikit malu. “Cheesy banget," ucapku pada diri sendiri. Kucoba ingat-ingat lagi puisimu yang pernah kau tulis, kau bacakan atau tanpa setahumu aku baca sendiri. Aku tak benar-benar ingat seperti apa baitnya, yang aku ingat adalah perasaannya. Pernah aku bertanya kenapa kamu menulis begitu banyak puisi atau narasi. “Kamu belum mencintai pasanganmu jika kamu belum pernah menulis tentangnya,” jawabmu singkat. Aku merasa terpojok karena seakan kau meminta pembuktian cintaku yang belum pernah menulis apapun tentang dirimu.

“Tak apa, kamu bukan penulis tak perlu memaksakan. Dari matamu saja aku tahu betapa kamu mencintaiku,” jawabmu singkat saat melihat ekspresi kakuku. Kamu terlalu tahu aku. Kau selalu tahu cara menenangkanku. 

Kembali fokusku kepada bukuku dan dua bait kacangan yang mungkin sudah ribuan orang gunakan. Semakin lama aku berpikir, semakin banyak aku mengingat, semakin berat aku merasa. Mukaku mungkin sudah lebih merah dari lima menit yang lalu, dadaku sedikit lebih berat, hidungku mulai tak bernapas seperti biasanya.

Aku mulai terisak, aku tidak suka saat aku terisak. Aku remas bukuku agar setidaknya aku mendapat sedikit kekuatan untuk menghentikan isakan. Aku lepas kendali, air mataku mengalir semakin cepat, mukaku semakin panas, dadaku semakin sesak. Buku sialan! Aku marah karena buku ini semakin kupandang tak berguna. Aku mulai menangis hebat dan melempar bukuku ke ujung ruangan sekencang-kencangnya. 

Aku, aku tidak mau menulis jika hanya berandai untuk hujan membawamu kembali, angin membisikkan rindu, atau mentari membawa kabar gembira hari ini. Aku, aku tidak mau berandai, karena yang aku mau kamu benar nyata di sini, bersamaku. Bukan terbaring di bawah sana, menunggu air hujan ini mengalirimu dari celah-celah tanah yang menutup ragamu. Aku mau kamu!

 

Baca juga:

Yang Perlu Kamu Tahu Tentang Ritual dan Rutinitas

Tentang Pertemuan dan Sebuah Merelakan