);

Aku tidak pernah suka dengan perjalanan panjang yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Entah karena lelahnya, atau karena bosannya menghadapi rute panjang tanpa tau bagaimana  menghabiskan ratusan menit sendirian.

Deretan lagu pilihan rombongan Luke Bryan, Carrie Underwood dan Lady Antebellum biasanya tidak pernah luput menemani telingaku sepanjang perjalanan. Kali ini, tanpa alasan yang jelas lagu-lagu mereka tidak terlalu membantu selama aku harus duduk tegak di deretan bangku-bangku tidak nyaman dengan rute lurus yang sangat membosankan. Empat jam lebih di kereta kembali ke Jakarta dari Tegal membuatku benar-benar merasa bosan. Playlist di Spotify hanya sanggup membuatku betah di 30 menit pertama. Sisanya, perjalananku terasa melelahkan.

Sebagai manusia yang hidup lama di daratan Sumatera, aku belum terlalu akrab dengan hamparan tanah Jawa. Menginjakkan kaki di Tegal pun baru kali pertama. Terlepas dari perjalanan ke sana sebagai bagian dari tugas, aku memiliki misi lain; menguji jika aku tidak akan diserang rindu.

Rindu? Dengan siapa lagi seorang Suci kembali termakan rindu? Siapa lagi orang ini?

Entahlah. Menjawab pertanyaan ini seolah terlalu berat hari ini. Yang jelas, ketika untuk pertamakalinya aku melihat sebiru apa laut Jawa, masih ada satu nama yang usil sekali mondar-mandir dalam kepalaku. Ketika untuk pertamakalinya rambutku diterbangkan angin pantai utara, nama itu yang secara tidak sengaja kulafalkan berkali-kali. Hingga lahir puisi tentang orang ini sesaat sebelum aku tertidur di Tegal malam yang sepi.

‘Ah ini hanya persoalan mindset’ pikirku. Berharap di perjalanan pulang aku bisa kembali duduk tenang sambil memandang keluar jendela dan mendengarkan  Love Was My Alibi nya Kristoffer Fogelmark atau membaca The Subtle Art Of Not Giving A Fck nya Mark Manson.

I was totally wrong.

Pertama, duduk di deretan bangku yang merasakan sensasi kereta mundur sudah cukup membuatku kesal.

Kedua, my seat was taken by someone who don’t want to give it to me dengan alasan ‘Maaf mba, saya ga betah duduk di sebelah situ. Mba lihat aja sendiri di sebelahnya ada apa.’ Maka serta merta aku melirik ada apa di bangku sebelah. And waw, I saw a lesbian couple kissing, a Korean, or a Chinese or a Singapore girls sharing a kiss to each other.

Bodohnya, mereka tanggap dengan lirikan penuh selidik ku itu dan tersenyum. Aku tersenyum balik dan sekilas melihat botol air mineral di depannya dengan nama hotel tempat aku tidur semalam. Kebetulan yang tidak disengaja, aku juga sedang memegang botol air mineral dengan nama hotel yang sama.

Berhubung si ibu yang ngambil seat saya itu terlihat sangat tidak nyaman dengan suasana barisan bangku sebelah itu, aku mengalah. Mulai menyumbat telinga dengan earphone butek dan membaca ebooknya Mark Manson dari halaman pertama.

Tiga puluh menit pertama. Jumawa. Setengah jam berikutnya ketiduran lalu tiba-tiba kebangun karena suara penumpang (maaf) penderita autisme yang teriak-teriak minta turun karena (again, maaf) muntah.

The next minutes feels so hard. Nyonya di sebelah ngorok, pasangan cakep di sebelah makin asik saling senderan. Lalu pemikiran Mark Manson kembali menarik untuk dilanjutkan hingga sampai ke sebuah kalimat yang bilang,

“You and everyone you know are going to be dead soon. And in the short amount of time between here and there, you have a limited amount of fucks to give. Very few, in fact. And if you go around giving a fuck about everything and everyone without conscious thought or choice – well, you’re going to get fucked”

Aku terdiam. Mencerna kalimat itu dalam. Menimbang did I gave my fuck to something that this Manson guy said fuckworthy?

Semakin kata ‘fuckworthy’ ini dicerna, semakin aku memikirkan kalimat yang ujung-ujungnya mengingatkanku pada sosok yang aroma parfumnya dibawa-bawa oleh angin dari pantai utara. Why? Karna orang ini begitu fuckworthy.

Tiba-tiba entah bagaimana aku menoleh pada sepasang wanita yang berasa sedang di kamar sendiri ini.

“Hey, have you ever heard the word ‘fuckworthy’?” doi bingung sebentar terus ngeluarin buku dari ranselnya. The Subtle Art of Not Giving A Fck. Waw, sekali lagi sebuah kebetulan yang tidak disengaja.

“I’ve read the book” jawabnya sambil tersenyum. Spontan aku memperlihatkan versi ebook yang sedang aku baca di hp.

“What about that?” tanyanya.

“Nothing. I think this word sounds cool. Maybe I can change the way I say ‘I care about you’ with ‘you’re fuckworthy to me’” jawabku sedikit ngasal. Keduanya tertawa lalu aku kembali ke posisi semula.

Akhirnya perjalanan dengan kereta Menoreh kembali ke Jakarta yang ternyata kurang dari 4 jam itu berlalu dengan aku yang tertidur, bangun, tidur bangun. Tidak terasa meskipun membosankan. But at least I’ve learn something.

Belajar bahwa ada hal yang perlu diacuhkan, dan ada hal yang perlu dirisaukan. Belajar bahwa ada cerita yang perlu diceritakan, dan ada cerita yang hanya boleh disimpan sendiri. Belajar bahwa ada perasaan yang hanya milik berdua, dan ada yang tidak bisa ditahan untuk dipertunjukan. Belajar bahwa ada kebetulan yang memiliki makna, dan ada kebetulan yang hanya datang sebagai tambahan bahan cerita. Dan belajar bahwa rindu yang belum tersampaikan akan mengikuti kakiku meskipun jejaknya disamarkan rel kereta di pulau Jawa.

Moral lesson: just because they’re lesbian, they are Chinese, they’re black or white, they’re gay or bisexual, they have a different hair color with you, doesn’t mean you can’t share a little fun somehow somewhere. Of course you can ‘not giving a fuck’ but you can’t act fuck.  Just be nice to one another!

Another lesson: rindu tidak akan pergi sebelum ceritanya sampai ke tempatmu menitipkan hati.