);

Berapa kali kita harus bertemu nama baru kemudian jungkir balik berusaha baik-baik saja hingga akhirnya bertemu dengan sebuah hadir yang mempertegas bahwa kita benar ‘baik-baik saja’? Berapa kali kita harus mengalami patah hati dan kecewa hingga akhirnya paham bahwa semua sedang berjalan memang sebagaimana dan seharusnya semua itu berjalan?

 

Well, your name is not a new name. I’ve spelled each letters on your name pretty well quite a few times. Lalu, setelah semua perjalanan dan petualangan masing-masing, entah bagaimana suatu hari kau dan aku sama-sama memutuskan untuk bertemu lagi. Entah bagaimana.

Dan di saat pada akhirnya kita berhasil mengindra suara masing-masing setelah sekian lama, aku seolah sedang mencoba mengenal lagi sosok di balik nama unik yang mendadak soothe my feelings ini. Apparently, we were strangers back then. Or, kita hanya terlalu sibuk dengan tanjakan masing-masing hingga abai mengenali hadir masing-masing.

Siang ini, aku terburu-buru keluar kamar setelah memastikan rambutku tertata dengan baik, aromaku menguar dengan apik, dan kemeja biru tua ku membungkus kulit pucat yang dikurung berhari-hari di kamar ini dengan menarik. Kemudian setelah yakin bahwa aku memang sedang terlihat bagus, di tengah terik dan riuhnya jalanan ibu kota, kubiarkan matahari yang sedang berada tepat di atas kepala membuatku kembali berkeringat.

Kau tau, setiap akhir pekan di kota sesak ini jalanan tidak pernah terasa bersahabat. Meskipun jam pulang kantor masih jauh berjam-jam lagi. Maka jadilah aku duduk di belakang punggung ojek langganan sambil mengutuk macetnya rute ramai yang menghubungkan dua tempat ini sebab entah bagaimana, aku yakin aku tidak akan bisa datang tepat waktu di tempat yang sudah dijanjikan. Dan aku tidak suka jika harus membuatmu menunggu.

Selusin menit kemudian, dengan gugup tidak beralasan aku melangkah pelan meniti tangga sambil merapikan lagi kemejaku yang lecek akibat jalanan Jakarta. Benar. Gugup tidak beralasan yang semakin menjadi-jadi ketika kau terlihat menyudut di seat luar dengan rambut yang sedikit berkibar.

Seolah begitu ahli membaca ‘jalan’, aku mulai lancang menyimpulkan bahwa nanti setelah selesai kita bertukar cerita, aku tidak lagi akan pernah sama. Terlalu lancang hingga enggan melepasmu berlalu nanti karena aku tau, mulai detik ini waktu yang dihabiskan denganmu tidak akan pernah terasa cukup.

“Hai, apa kabar?” katamu sambil berdiri melihatku datang dan merentangkan tangan menyambut punggungku yang mendekat.

Hujan, banyak hari panjang yang akan aku lalui setelah ini sebab jelas, berdebar luar biasa aku ketika jantung kami berdekatan. Dan ini bukanlah sebuah kebetulan.