" /> Dialog Hujan, Kau dan Aku - Part III - SUCI BYT );

Hujan kesekian turun di tanah ini. Masih dalam lusinan hari yang sama,  hari-hari manis yang terasa berlangsung lama sebab waktu merangkak begitu pelan dengan kau ada di tanah seberang. Dua minggu sudah berlalu dengan khayalku yang berenang jauh berusaha hadir dalam mimpi di tidur lelapmu.

Kali ini yang berbeda, hujan turun dan aku sedang gelisah. Berhadapan mata dengan Ibu dan susah payah merahasiakan dialog super manis tentang hadirmu dari penginderaannya. Kata Ibu, senyumku berubah. Ketika kutanya bentuk berubah yang ia maksud, Ibu hanya sanggup menggambarkan cemburu bahwa anaknya sedang merona setiap hari dengan senyum mengembang yang lebih manis dari biasa.

Kau tau, berteman ketukan rintik kemudian debar jantungku berpacu ingin menyampaikan pada Ibu bahwa beliau baiknya berterimakasih padamu. Sebab setelah kau datang, anaknya tidak lagi merasa hidupnya hambar. Setelah kau datang, anaknya bahagia dengan sempurna.

Maka sambil menyimak Ibu berceloteh mengomeli anaknya yang masih belum mandi, diam-diam aku menitipkan dialog rahasia ini padanya.

“Bu, bulan lalu aku masih hanya seorang anak yang sedang begitu jenuh dengan hidupnya. Aku sering enggan bertemu orang-orang dan sengaja menghindar jika diajak berbicara. Sebulan yang lalu, anakmu ini sedang bingung dengan dirinya yang seolah tidak pernah terasa cukup untuk apapun.

Anak ini datang suatu hari Bu, mengetuk panel listrik di balik dadaku dan membuatku candu dengan sensasi yang datang ketika jemari kami bergenggaman lewat tatapan mata dan di saat bersamaan nyawa kami terhubung entah bagaimana. Anak ini datang dan anakmu Bu, tidak lagi pernah sama.

Tentang namanya Bu, nanti kuceritakan suatu hari. Tapi Ibu perlu tau bahwa sebelum dipertemukan lagi, namanya tidak terdengar asing di telingaku. Dan ketika pada akhirnya ruas jalan kami bertemu lagi, aku percaya bahwa naik-turun petualanganku selama ini sedang disusun untuk mempertemukanku lagi dengannya.

Bu, aku belum pernah sebahagia ini. Semua terasa mungkin. Dengannya, Bu. Anak ini membuatku merasa istimewa. Made me believe that I wasn’t that hard to love. Dan jelas Bu, semakin aku kembali mengenal anak ini, semakin aku kembali sanggup menghargai diri sendiri. Dengan anak ini Bu, aku ingin menjadi versi terbaik dari sosok anakmu yang tentu saja akan selalu mencintaimu dengan luar biasa.

Nanti suatu hari, di beranda Ibu akan kubawa dia duduk sambil menghirup aroma teh di penghujung senja. Akan kubiarkan Ibu berdialog dengannya tentangku, tentang cita-cita kami, tentang hidup yang aku pilih untuk satu hal Bu; bahagia. Nanti Bu, suatu hari.”

BACA PART I – DISINI DAN PART II – DISINI