);

Beberapa hari yang lalu, seseorang menghubungi saya via email dan bercerita tentang hubungannya dengan sang pacar yang semakin hari, semakin terasa ‘nyangkut di tenggorokan’; nyesek. Saya panggil orang ini dengan sebutan Arai (bukan nama sebenarnya).

Menurut Arai setiap hari si pacar mulai sering marah-marah atau ngambek ga jelas. Hal kecil bisa jadi bahan untuk bertengkar dan saling mendiamkan. Si Arai mulai harus ‘periksa’ ulang cara berbicara dengan si pacar untuk menghindari sesi drama ngambek-ngambekan tanpa sebab yang ‘pantas’.

Pacar si Arai pun mulai enteng mengeluarkan kalimat ‘I need a me time’ ketika mereka bertengkar seolah butuh waktu untuk menjarak dulu dan mikir tentang kelanjutan hubungan mereka ini apakah cukup worthy untuk diperjuangkan, sebab jika tetap dijalani sementara satu dan lainnya mulai sering merasa tidak enak hati, apa gunanya?

Membaca email panjang si Arai yang menjelaskan dengan begitu rinci tentang si pacar, saya mulai menggali memori dari rentang waktu tertentu untuk bisa menyimpulkan bahwa setiap hubungan memiliki fase-fase dan warna warni tertentu.

Di fase tertentu bisa saja sepasang manusia yang katanya saling menyayangi itu justru berakhir ‘udah nggak kenal’ atau ‘you’re dead to me’. Atau malah di fase tertentu mereka justru semakin lengket.

Lantas Apa Saja Fase-Fase Itu?

Begini, ibarat level dalam sebuah game, setiap hubungan juga memiliki tahap-tahap sesuai dengan rentang waktu berlangsungnya hubungan tersebut. Rentang waktu dalam fase-fase tertentu setiap hubungan ini bersifat relatif. Misalnya, dalam konteks hubungan ‘pacaran’, saya menyimpulkan rentang waktunya dikelompokan berdasarkan bulan. Sedangkan dalam konteks hubungan yang lebih sakral seperti pernikahan misalnya, fase ini dikelompokan berdasarkan waktu yang lebih panjang.

  • Fase Honey Moon

Pada fase ini semua hal yang berhubungan dengan kasmaran berlimpah ruah dalam sebuah hubungan. Sepasang kekasih akan merasa begitu saling menyayangi di fase ini, mereka akan merasa sulit menghabiskan waktu tanpa pasangannya, serta akan selalu merasa berbunga-bunga dan semua ‘terasa indah’. This ain’t a bullshit.

 Dalam fase manis ini setiap individu yang terlibat dalam sebuah hubungan akan ‘buta’ terhadap kesahalahan dan kekurangan pasangannya. Semua hal bisa dimaafkan dan dibiarkan berlalu. Tidak ada drama ngambek-ngambekan, tidak ada moment saling diam yang menyebalkan. Memenuhi keinginan masing-masing terasa begitu menyenangkan oleh masing-masing.

Biasanya pada pasangan dalam konteks ‘pacaran’ fase ini berlansung dari masa pendekatan hingga 1-2 bulan hubungan berlangsung. Sedangkan pada pasangan yang terikat pernikahan,  fase ini berlangsung 6 bulan hingga 1 tahun pertama.

  • Fase After The Spark Passed

Ketika masa kasmaran berlalu, ego dan rasa memiliki masing-masing terhadap pasangannya mulai berkembang. Tanpa disadari rasa memiliki yang begitu tinggi membuat seseorang merasa berhak atas pasangannya, entah itu merasa berhak untuk marah-marah dan membuat pasangannya tersakiti dengan kalimat-kalimat tertentu hingga merasa berhak menguasai waktu si pasangan. Seorang individu mulai merasa dirinya lebih berarti dan lebih baik dari pasangan atau sebaliknya.

Di fase ini percikan-percikan yang dulu sempat membuat keduanya saling jatuh cinta seolah sedang ‘padam’ sehingga kesalahan-kesalahan dan kekurangan pasangan yang tadinya tidak terlihat mulai mengapung ke permukaan. Kamu akan mudah merasa jengkel dengan cara makan pasangan yang sembrono misalnya, atau ketika tidur kamu mulai merasa terganggu dengan suara dengkurannya. Pembicaraan sepele bisa memancing pertengkaran. Hal-hal kecil mulai sering menimbulkan perdebatan.

Jika sepasang kekasih berhasil melewati fase ini, biasanya hubungan mereka akan berlangsung lebih lama dan berlanjut ketahap berikutnya. Jika masing-masing individu justru menemukan bahwa dirinya tidak cocok dengan si pasangan, hubungan akan berakhir pada break up moment atau divorce pada sepasang suami istri.

 

Lalu Apa Yang Terjadi Jika Sepasang Manusia Berhasil Melewati Fase Kedua?

Biasanya jika masa-masa menyebalkan dimana seseorang bisa saja berpikir “apakah saya salah memilih pasangan?” ini terlewatkan, sebuah hubungan akan berlangsung lebih lama. Kedua individu yang terlibat dalam sebuah hubungan akan saling menyayangi karena telah berhasil mengenali sisi lain dari pasangannya dan bisa menyesuaikan diri.

Namun apapun fasenya, jika dua orang yang saling menitipkan hati mampu menempatkan mind set positif mengenai hubungannya, mereka akan bertahan. Fase honey moon akan terasa lebih panjang dan semakin hari kualitas kasih sayang mereka akan semakin naik level dimana level tertinggi dari sebuah hubungan adalah ketika ego dan rasa memiliki tidak akan membuat seseorang merasa berkuasa atas pasangannya.

 

Cara Melewatinya?

Jangan pernah merasa lebih tinggi dari pasangan. Posisikan dirimu setara dengan dia. Sebab apapun kondisi suatu interaksi jika satu pihak merasa lebih tinggi dari pihak lainnya sudah pasti akan menimbulkan konflik, instan ataupun tidak.

Pahami kebutuhan nalurimu untuk tetap dengan orang itu atau tidak. Kenali jenis perasaan yang kamu rasakan ketika bersama orang tersebut, apakah ‘cukup terasa’ atau hanya sekedar lust yang pelan-pelan habis karena rasa penasaran atas ‘haus’ itu sudah terpenuhi.

Timbang kembali apa yang menjadi pandanganmu terhadap hubungan yang dijalani itu. Perbaiki cara memperlakukan pasangan dengan memahami karakternya tanpa mengikut sertakan ego. Percaya tidak percaya, perasaan yang ditularkan dengan sikap yang terarah akan memberi umpan balik pada orang yang ‘menularkan’. Baik tidak baik adalah resiko dari bentuk yang kamu rasakan.

You got what you deserve!