" /> 1.30 | eps.1 - SUCI BYT );

 

“Arel mau istirahat jam berapa?” tanya kak Intan, team lead-ku hari itu. 

“Bebas kak.” aku menjawab singkat. 

“1.30 ya?” tanya dia balik dan langsung kuserang dengan jawaban “Oke komandan” seperti biasa. Bekerja sebagai Customer Service membuatku tak begitu memikirkan waktu istirahat. Akan sama saja pikirku, kita harus istirahat sendiri-sendiri. Pola kerja yang membutuhkan kehadiran manusia 24/7 membuat antara aku dan teman-temanku harus beristirahat bergantian. Aku yang tak pandai mencari kawan sudah terbiasa dengan makan siang di kantin basement kantor seorang diri atau bersama tim lain yang tak begitu aku kenal. Tapi siapa sangka, makan siang hari ini bisa menjadi berbeda. 

Aku yang terbiasa dengan rutinitas akan memilih meja yang sama, agak pojok dekat jendela. Sebagai penikmat makanan, biasanya aku akan berkomentar atau mencaci maki makanan yang aku pesan karena ada saja hal yang kurang. Entah itu garam, kematangan, atau hal lainnya. Padahal aku juga tak begitu mengerti soal masakan. Dan sebagai laki-laki, hari ini makanan bukan lagi menjadi sorotan utamaku. Di ujung sana ada seorang wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna. “Ya Tuhan, ada apa ini?” bisikku dalam hati. Aku tak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Masih ada adik-adik yang butuh dana sekolah untuk dipikirkan, bukan lirikan manis, tangan mungil, kulit bersih dan rambut menawan di hadapanku itu. Bukan. Aku mencoba berpaling, aku harus kuat. Kupercepat makanku, kualihkan pandanganku semoga gangguan semacam ini cepat berakhir. 

“Hey Rel, udah beres istirahat lo?” Sial, ada Syahrul yang tiba-tiba menyapaku di situasi genting seperti ini. “Iya.” aku jawab sambil mengangguk dan senyum singkat. 

“Eh sini dulu, kenalin ini anak baru namanya Della.” Si wanita berparas ayu dengan bibir mungil dan senyum sempurna itu mengangguk. Jelas langsung kubalas anggukan itu dengan anggukan lainnya dan senyuman, yang kaku. 

“Duluan ya.” tanpa basa basi kulambaikan tanganku dan bergegas pergi. 

Tak biasanya aku seperti ini. Kejadian tadi membuatku terbayang-bayang. Tuhan, aku tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Bukan aku namanya jika tak bisa berpikir dengan logika. Mungkin ini hanya rasa kagum semata akan paras wajahnya, tak lebih dari itu.

Baca Juga:

The Coffee of Your Name

Dialog Hujan, Kau dan Aku

 

Setelah tidur terlalu larut, aku terkejut saat bangun dan melihat jam sudah pukul tujuh. Tak biasanya aku terlambat. Tak biasanya juga aku terjaga terlalu larut hanya untuk menatap langit-langit kosan.

“Rel hari ini istirahat jam 12.30 ya!” terdengar suara kak Intan dari meja seberang. “Besok jangan terlambat lagi!” tambahnya. 

“Siap komandan!” jawabku singkat. 

Selang sepuluh menit sebelum istirahat aku langsung terbayang nasi goreng tongseng kambing. Nasi yang digoreng dengan bumbu tongseng dan daging kambing sih bakal luar biasa. Toh di luar cuaca lagi agak mendung, makan yang beginian apalagi kalau pedes pasti enak sih. Ngebayanginnya saja sudah membuat air liurku mengalir deras, jadi tak sabar. 

“Bu, nasi goreng tongseng kambing pedas satu ya.” Langsung kupesan nasi goreng itu tanpa basa-basi. Begitu jam istirahat dimulai aku langsung ke bawah dan cari spot di ujung dekat jendela. Saat ingin menyantap nasi gorengku, dia datang. 

“Eh Arel kan? Hmm.. baru istirahat ya?” tanya dia agak malu. 

“Iya, kenapa ya Del?” jawabku mencoba bersikap biasa.

“Boleh nitip ini gak? Tadi gak sengaja gue bawa pas mau pesen tongseng. Gue istirahat selalu jam 1.30 tapi kalau jam segitu biasanya tongsengnya abis. Jadi gue pesen duluan izinnya ke toilet dan kayaknya kalau gue ke loker naro ini lagi bakal jadi lama banget deh.” agak ragu dia menjelaskan sekalian menyodorkan Bon Cabe kepadaku. 

“Iya boleh.” jawabku singkat, kaku. 

“Thank you! Nanti gue ambil jam setengah satu ya, lu kalau mau pakai boleh pakai aja ya!” dengan paras ayu, bibir mungil, dan senyum sempurna dia pergi terburu-buru ke arah pintu. Kupandangi Bon Cabe miliknya sambil berpikir, ada kesamaan yang kutemukan antara aku dan Della. Kami sama-sama penikmat tongseng dan pedas. Sambil menahan bahagia aku menikmati makan siangku.

Satu jam ini terasa nikmat namun tak juga berasa sebentar. Aku kerap bertanya, “kok Della enggak datang-datang untuk ambil Bon Cabe dia? Ini sudah 1.30 loh!” aku agak kesal setelah melihat jam di tangan sebelah kiriku. Atau sedikit kesal karena aku belum juga melihat wajahnya.

“Eh sorry ya telat, udah Bon Cabenya?” terengah-engah dia masih saja tersenyum. 

“Udah, makasih ya.” kesalku runtuh. “Ya Tuhan, aku kenapa?” bisikku dalam hati. 

“Lah gue lah yang terima kasih. Yaudah, gue makan dulu. Lu semangat kerja lagi ya.” dia pun kembali ke mejanya persis seperti kemarin dan persis bersama Syahrul. 

“Eh Rel, lu masih di sini?” Tiba-tiba Syahrul mengingatkanku akan waktu yang kubuang berjalan lambat sambil senyum-senyum sendiri ini. “Mampus udah 1.40 gue telat!” 

Kembali kejadian itu terbayang-nayang, kembali sampai larut malam aku baru dapat terpejam. Tuhan, jika rasa cinta dapat mengalahkan amarah, apakah Della yang kubutuhkan? Hanya butuh satu tatapan untuknya menghilangkan keluhku tentang makanan, hanya butuh satu permintaan maaf untuknya menghilangkan kesalku yang kadang tak beraturan. Jika senyuman adalah obat termanjur dari segala obat, aku yakin senyumnyalah obat termanjur untuk segala penyakit hatiku.  

 

Baca juga:

Like Never Before #loveletterseries

The Click, Alasan Kenapa Kamu Jatuh Cint

 

Walau semalam terasa juga lebih panjang dari biasanya, aku bersyukur aku tidak harus terlambat ke kantor. 

“Arel, istirahat lu jam 12.30 ya hari ini!” seperti biasa, setengah teriak Kak Intan dari meja seberang sesaat setelah aku duduk di meja kerjaku.

“Enggak mau kak! Aku mau jam 1.30 aja!” hampir berteriak aku menjawab sampai seluruh tim melirikku terheran-heran. Aku tersenyum.