);

Seringkali kita dihadapkan pada persoalan pilihan. Seringkali dipaksa memilih ketika sedang berada di zona nyaman. Ketika sebagai orang dewasa yang menjalani hidup senyata-nyatanya kita harus terus bergerak untuk mencapai level baru dan mau tidak mau, terkadang kita harus meninggalkan zona nyaman itu sendiri. Padahal, zona nyaman tidak hanya satu. Masih banyak safe zone lainnya yang belum tereksplor dengan baik.

Seringkali juga, pilihan terasa berat karena kita sama sekali tidak ingin meninggalkan zona nyaman dan sama sekali tidak berani untuk memulai hal baru yang terdengar menyeramkan.

Beberapa orang suka terjebak di zona nyaman. Sebagiannya lagi justru langsung kabur ketika mulai merasa sedang berada di zona nyaman. Tidak masalah. Pilihan.

Yang jadi persoalan, apasih zona nyaman itu sendiri? Apa ada definisi khusus?

Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya ‘From Comfort Zone to Performance Management’ mengatakan bahwa,  Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya.

Menurut saya, sederhana saja. Zona nyaman adalah keadaan ketika seseorang merasa nyaman. Entah itu nyaman dengan pekerjaan, lingkungan, pertemanan, kondisi keuangan, relationship, dan lainnya.

Seringkali kita lengah dan tidak menyadari bahwa kita mulai berada di zona nyaman. Sebagian orang bilang, jangan terlalu betah di zona nyamanmu. Sebagian lagi malah bilang, hidup ini cuma sekali lantas kenapa susah-susah mencari cara hidup lain ketika sudah punya zona nyaman sendiri-sendiri, tidak bisakah kita hanya menikmatinya saja?

Sekali lagi. Tidak salah. Pilihan.

 

Lantas, benarkah berada di zona nyaman terlalu lama itu berbahaya?

Begini. Anggaplah zona nyaman yang paling banyak kita rasakan adalah nyaman dari segi financial, pekerjaan, dan relationship. Ketika ketiga aspek ini benar-benar menyajikan kemudahan karena kita sudah tau ‘aturan mainnya’, kita jadi seolah malas untuk berpindah tempat, jadi malas untuk mengeksplor hal lain yang bisa jadi ternyata jauh lebih nyaman untuk dihuni.

Ruginya? Ya mungkin perlahan kemampuan survivemu akan memudar ketika terlalu lama memanjakan diri di zona nyaman. Kamu jadi lupa caranya bertahan dengan uang pas-pasan. Lupa cara bertahan dengan masalah disana-sini. Lupa cara berpikir tenang saat menghadapi berbagai persoalan.

Positifnya? Ya anggaplah kamu sedang menikmati ‘hidup enak’ sedikit lebih lama. Tidak ada salahnya. Toh ketika sesuatu dimaksudkan untuk bertahan sementara, kamu, kita, juga akan berhadapan lagi dengan hal baru dan sudah pasti akan terlewatkan dengan baik.

So maybe, bertahan lama-lama di zona nyaman bisa saja membawa dampak buruk bagi diri kita sendiri, atau justru membangun banyak hal positif dalam personality kita. Ya, apapun itu, semua tergantung cara masing-masing personal menanggapi, mamahami, dan memberi aksi terhadap sesuatu.

Jadi jika mulai ragu memutuskan pilihan tentang persoalan zona nyaman dan pilihan yang salah, saya hanya punya satu saran; ikuti kata hati. Kata hati? Ya. Nanti kita bahas lagi tentang kata hati dan bedanya dengan ego dan hasrat manusiawi.

Intinya jangan takut untuk menentukan pilihan. Apapun pilihannya pasti akan mengarahkan kita ke petualangan baru, bukan happy ending. Ingat, tidak ada happy ending selagi kita masih hidup. Happy ending hanya akan ketemu kalau hidup kita sudah benar-benar ‘end’. Jangan pedomani film-film atau buku-buku dengan sweet happy ending yang bikin kita berbunga-bunga. Hidup mereka di film itu belum berakhir. Cerita mereka di buku itu pada dasarnya hanya sebuah chapter dalam kehidupan di dunia nyata.

 

Kembali ke persoalan zona nyaman tadi. Apakah bertahan di zona nyaman salah? Tidak. Apakah selalu ‘bergerak’ ketika mulai merasa tengah berada di zona nyaman salah? Tidak. Apakah pilihanmu tentang bertahan atau bergerak bisa jadi merupakan pilihan yang salah? Tidak. Karena pada dasarnya tidak ada pilihan yang salah. Semua hal mungkin saja terjadi. Dan kita tidak pernah tau pilihan mana yang sebenarnya adalah pilihan yang benar. Atau tanyakan kembali ke diri sendiri, pilihan seperti apa yang bisa dikatakan sebagai pilihan yang benar? Pilihan yang less-risk kah?